- Menteri PU berkomitmen percepat pemulihan infrastruktur Aceh melalui kerja fisik 24 jam dan skema Padat Karya.
- Fokus pembersihan infrastruktur terdampak parah di tujuh kabupaten, khususnya perbaikan fasilitas air bersih dalam empat bulan.
- Kementerian PU kaji jangka panjang reboisasi hulu dan pembangunan bendungan untuk pengendalian debris bencana di masa depan.
Suara.com - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan infrastruktur pascabencana di Provinsi Aceh.
Dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana DPR RI yang berlangsung di Aceh, Selasa (30/12/2025), Dody memaparkan sejumlah langkah strategis, mulai dari pengerjaan fisik selama 24 jam hingga skema bantuan ekonomi bagi warga terdampak.
Ia menyampaikan bahwa sejak hari pertama bencana, tim Kementerian PU telah diterjunkan ke hampir seluruh kabupaten di Aceh.
Fokus utama saat ini diarahkan ke tujuh kabupaten dengan dampak terparah, khususnya Aceh Tamiang dan Pidie Jaya.
"Kami menyadari bahwa hampir seluruh wilayah terendam lumpur setinggi 1 hingga 2 meter. Untuk itu, pengerjaan pembersihan fasilitas publik seperti Puskesmas, RSUD, sekolah, dan jalan kota kami lakukan 24 jam nonstop," ujar Dody dalam rapat.
Dalam proses pembersihan tersebut, Kementerian PU menggandeng TNI (Kasad) untuk pemasangan jembatan Bailey dan pembersihan material. Menteri PU juga menginstruksikan agar warga lokal yang ikut membantu dilibatkan melalui program Padat Karya.
"Masyarakat yang membantu tidak sekadar kita ucapkan terima kasih, tapi kita masukkan ke program Padat Karya. Kita bayar mereka sebagai bentuk sumbangan negara untuk membantu ekonomi warga yang terdampak langsung," tambahnya.
Salah satu kendala krusial yang dihadapi saat ini adalah rusaknya fasilitas air bersih. Dody mengungkapkan bahwa sungai-sungai di Aceh mengalami pendangkalan dan pelebaran hingga tiga kali lipat akibat material bencana, yang menyebabkan Water Treatment Plant (WTP) tertutup lumpur.
"Kami targetkan dalam 3 hingga 4 bulan ke depan, WTP berkapasitas 20 liter per detik di beberapa titik sudah bisa berfungsi kembali. Kami melakukan penunjukan langsung karena ini masih tahap tanggap darurat," tegas Dody.
Baca Juga: Pilunya Bupati Aceh Utara: Warga Kami Hanyut tapi Tidak Viral
Selain penanganan di wilayah hilir, Menteri PU menyatakan sepakat dengan usulan Bupati Gayo Lues dan Aceh Tengah mengenai pentingnya reboisasi di wilayah hulu.
Tanpa perbaikan ekosistem di hulu, pengerjaan infrastruktur di wilayah hilir dinilai akan sia-sia. Sebagai solusi jangka panjang, Kementerian PU tengah mengkaji pembangunan bendungan di Pidie Jaya serta kemungkinan pembangunan sabo dam di Gayo Lues untuk mengendalikan aliran debris di masa mendatang.
Terkait hunian bagi pengungsi, Kementerian PU memberikan dukungan penuh kepada BNPB. Saat ini, pembangunan Hunian Sementara (Huntara) difokuskan di Aceh Tamiang dan Bener Meriah.
"Untuk Aceh Tamiang, lahan sudah siap. Pematangan lahan sudah dilakukan dalam dua hari terakhir, dan hari ini satu unit percontohan sudah berdiri. Kami akan terus berkoordinasi dengan para bupati agar tahap rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif dan efisien," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri PU juga memastikan penanganan di Aceh Utara, termasuk pembersihan material kayu di Bendung Jambo Aye dan Bendungan Keureuto, terus berjalan agar aliran sungai kembali lancar dan fasilitas air bersih dapat segera diaktifkan kembali.
Berita Terkait
-
Pilunya Bupati Aceh Utara: Warga Kami Hanyut tapi Tidak Viral
-
Jadi Wilayah Paling Terdampak, Bantuan Akhirnya Tembus Dusun Pantai Tinjau Aceh Tamiang
-
Amnesty International Kutuk Keras Represi Aparat ke Relawan Bantuan Aceh: Arogansi Kekuasaan
-
Air Lumpur pun Diminum, Toilet Terakhir di Gampong Kubu Usai Banjir Aceh
-
Natal di Serambi Mekkah, Kala Cahaya Solidaritas Lebih Terang dari Gemerlap Lampu
Terpopuler
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Buka-bukaan Anak Riza Chalid: Tanpa Terminal BBM OTM, Cadangan Pertamax Berkurang 3 Hari
-
Indonesia Protes Keras Gugurnya Pasukan UNIFIL, Tuntut Investigasi Menyeluruh Atas Serangan Israel
-
Fakta Baru Kasus Andrie Yunus Terungkap di DPR, Berkas Sudah Dilimpahkan ke Puspom TNI
-
Istri Eks Komut Indofarma Mengadu ke DPR, Sebut Vonis 13 Tahun Penjara Tanpa Bukti Aliran Dana
-
MenpanRB: Isu Utama WFH ASN Adalah Digitalisasi, Bukan Sekadar Efisiensi
-
Detik-detik Gugurnya Praka Farizal di Lebanon, Terkena Serangan Mortir saat Salat Isya
-
Prabowo Berduka Atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon
-
Kawal Program Prioritas Nasional, Wamendagri: IPDN Konsisten Hasilkan Kader Pemerintahan Kompeten
-
Ratusan Elemen Sipil Teken Petisi, Desak Kasus Andrie Yunus Tak Diadili di Militer!
-
Minim Lahan dan Polusi Meningkat, Bisakah Atap Hijau Jadi Solusi Berbasis Alam?