- Pasal perzinaan KUHP baru pada dasarnya mirip KUHP lama, namun diperluas untuk melindungi anak dari eksploitasi seksual.
- Ketentuan ini tetap berstatus delik aduan absolut; hanya pasangan sah atau orang tua/wali yang dapat melapor.
- Perumusan pasal ini merupakan hasil kompromi antara nilai moralitas dan perlindungan hak privat dalam proses legislasi.
Suara.com - Polemik seputar pasal perzinaan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru disahkan akhirnya menemui titik terang. Di tengah kekhawatiran publik akan potensi kriminalisasi ruang privat, pemerintah menegaskan bahwa esensi aturan ini tidak banyak berubah dari hukum yang berlaku selama ini, namun dengan satu perluasan krusial yang menyangkut perlindungan anak.
Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, mengakui bahwa pasal kontroversial ini pada dasarnya masih mengadopsi semangat dari KUHP lama.
Artinya, negara tidak akan proaktif mengurusi urusan ranjang warganya. Namun, ia menekankan adanya perbedaan mendasar yang dirancang untuk memberikan perlindungan hukum lebih kuat bagi kelompok rentan.
Menurut Supratman, jika KUHP lama hanya fokus pada perzinaan yang melibatkan salah satu pihak yang terikat dalam tali perkawinan, maka KUHP baru memperluas cakupannya.
“Satu-satunya yang baru adalah karena kalau di KUHP yang lama itu hanya mengatur perzinaan yang dilakukan oleh salah satunya sudah berkeluarga atau ada hubungan pernikahan,” kata Supratman, saat ditemui di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Perluasan yang dimaksud adalah penambahan klausul yang secara eksplisit bertujuan untuk melindungi anak di bawah umur dari segala bentuk eksploitasi seksual yang dapat dikategorikan dalam konteks perzinaan.
“Tapi di dalam KUHP yang baru, itu juga ada yang terkait dengan anak yang harus dilindungi,” imbuhnya.
Tetap Delik Aduan, Siapa yang Bisa Melapor?
Supratman kembali menegaskan posisi fundamental dari pasal ini, yakni sebagai delik aduan absolut. Artinya, aparat penegak hukum seperti polisi tidak bisa melakukan penangkapan atau penggerebekan tanpa adanya laporan resmi dari pihak yang dirugikan secara hukum.
Baca Juga: Reformasi Hukum atau Dejavu Kolonial? Wajah Ganda KUHP Baru Kita
Hal ini sekaligus menepis kekhawatiran akan adanya razia atau tindakan sewenang-wenang oleh aparat terhadap ranah pribadi warga negara.
Lantas, siapa saja yang memiliki hak untuk membuat aduan? Supratman merinci bahwa pihak yang dapat melapor sangat terbatas. Untuk kasus perzinaan yang melibatkan pasangan menikah, hanya suami atau istri sah dari pelaku yang dapat membuat laporan ke polisi.
Sementara itu, untuk kasus yang menyangkut anak di bawah umur, hak untuk mengadu berada di tangan orang tua atau wali sah dari anak tersebut.
Pembatasan ini dirancang untuk menjaga sakralitas institusi keluarga dan mencegah pasal ini menjadi alat untuk saling melaporkan antar warga yang tidak memiliki hubungan hukum.
Hasil Kompromi Politik Moralitas
Di balik perumusannya, Supratman membuka sedikit proses legislasi yang terjadi di parlemen. Ia mengakui bahwa pembahasan pasal perzinaan ini berjalan sangat dinamis dan alot, mencerminkan pertarungan ideologi dan moralitas yang kental antara pemerintah dan fraksi-fraksi di DPR.
Berita Terkait
-
Reformasi Hukum atau Dejavu Kolonial? Wajah Ganda KUHP Baru Kita
-
Panduan Memahami KUHP Baru: Apa Saja yang Berubah dalam Kehidupan Sehari-hari?
-
Pasal Penghinaan Pemerintah di KUHP Digugat ke MK, Mahasiswa Nilai Berpotensi Kriminalisasi Kritik
-
KUHP Baru Resmi Berlaku, Ini 5 Fakta Penting Pasal Kumpul Kebo yang Wajib Diketahui
-
Dinilai Multitafsir, Pasal Larangan Menghasut Tak Beragama Digugat Mahasiswa ke MK
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
Ada Potensi Fraud Rp6 Triliun, BPJS Kesehatan Minta Pengawalan KPK
-
RI Gandeng India Restorasi 200 Candi Perwara Prambanan
-
Sasar Orang Mampu, Pramono Anung Godok Ulang Kenaikan Tarif Transjakarta dan Subsidi
-
JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
-
Amunisi Baru! dr Tifa Bakal Pakai Putusan Praperadilan Roy Suryo untuk Patahkan Dakwaan Jaksa
-
Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Ekspor Tanah Jarang PT PMM, Termasuk Pejabat Sucofindo hingga JK
-
Penelitian UI: Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Picu Food Waste, Apa Dampaknya?
-
Wamensos Tekankan Peran Strategis Kepala Sekolah Rakyat dalam Mendorong Perubahan
-
Perjalanan Menuju Candi Prambanan, Prabowo dan PM Narendra Modi Satu Helikopter
-
Asal-usul Isi Amplop Bupati Kuansing untuk Menhut Raja Juli, Ternyata Hasil 'Peras' 914 Petani KUD