- Presiden Donald Trump secara terbuka menginginkan AS mengambil alih Greenland demi kepentingan keamanan nasional dan strategi Arktik.
- Pemerintah dan penduduk Greenland menolak keras gagasan aneksasi tersebut, menekankan kedaulatan melalui dialog terhormat.
- Upaya AS menguasai Greenland ini memiliki dasar historis, didorong oleh lokasi strategis dan sumber daya alam yang melimpah.
Suara.com - Di tengah panasnya situasi geopolitik pasca-intervensi militer di Venezuela, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyalakan api kontroversi dengan target baru: Greenland.
Presiden Donald Trump secara terbuka dan berulang kali menyatakan bahwa AS harus mengambil alih pulau terbesar di dunia itu dengan dalih untuk kepentingan keamanan nasional negaranya.
Langkah ini sontak memicu reaksi keras, bukan hanya dari para pemimpin Greenland, tetapi juga dari Denmark, negara sekutu AS di NATO yang menaungi Greenland sebagai wilayah semi-otonom.
Sehari setelah operasi militer yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, Trump tanpa ragu menegaskan ambisinya di hadapan wartawan.
"Kita membutuhkan Greenland dari segi keamanan nasional. Itu sangat strategis. Saat ini, Greenland dipenuhi dengan kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana," kata Trump sebagaimana disitat dari BBC Indonesia.
Namun, gagasan untuk menjadi bagian dari Amerika Serikat ditolak mentah-mentah oleh penduduk dan pemerintah setempat.
Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, memberikan respons tegas terhadap ancaman yang dilontarkan Trump pada awal tahun 2026.
"Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi," ujar Nielsen. "Kami terbuka untuk dialog. Kami terbuka untuk pembicaraan. Namun, hal ini harus dilakukan melalui saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional."
Sikap penolakan ini sudah mengakar di kalangan masyarakat. Ketika koresponden BBC Fergal Keane mengunjungi pulau itu pada 2025, dia sering mendengar kalimat ini: "Greenland milik orang Greenland. Jadi, Trump boleh berkunjung, tapi itu saja."
Baca Juga: Sentuhan Humanis di Depan Kedubes AS, Polwan Polres Jakpus Sambut Pendemo sebagai Pejuang Aspirasi
Bahkan, isu ini menjadi sorotan utama dalam pemilihan umum di wilayah tersebut. Survei menunjukkan, meski sebagian besar penduduk Greenland mendukung kemerdekaan dari Denmark, mayoritas mutlak menentang keras ide untuk bergabung dengan Amerika Serikat.
Sentimen ini bukanlah hal baru. Saat Trump pertama kali melontarkan ide membeli Greenland pada 2019, warga lokal sudah menunjukkan penolakannya.
"Ini adalah ide yang sangat berbahaya," kata Dines Mikaelsen, seorang operator tur.
"Dia memperlakukan kami seperti barang yang bisa dibeli," ujar Aleqa Hammond, perdana menteri perempuan pertama Greenland.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, juga tak kalah keras. Ia menegaskan bahwa "AS tidak memiliki hak untuk mencaplok salah satu dari tiga negara di Kerajaan Denmark".
Mengapa Greenland Begitu Vital Bagi Trump?
Berita Terkait
-
Sentuhan Humanis di Depan Kedubes AS, Polwan Polres Jakpus Sambut Pendemo sebagai Pejuang Aspirasi
-
Demo di Depan Kedubes AS Sempat Buat Lalu Lintas Tersendat
-
Ada Aksi Demonstrasi di Depan Kedubes AS, Kecam Donald Trump Soal Agresi Militer di Venezuela
-
Daftar 4 Negara 'Bidikan' AS Setelah Venezuela
-
Purbaya Pede IHSG dan Rupiah Aman di Tengah Konflik AS-Venezuela
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina