- Polwan Polres Metro Jakarta Pusat mengimbau peserta aksi unjuk rasa damai di dekat Kedubes Amerika Serikat pada Selasa (6/1/2026).
- Massa aksi dari HMI dan GEBRAK mengecam keras kebijakan Donald Trump terkait agresi militer Venezuela.
- Demonstran menuntut pengembalian kedaulatan Venezuela dan mengancam membawa isu ini kepada Presiden RI.
Suara.com - Sejumlah polisi wanita (polwan) dari Polres Metro Jakarta Pusat terlihat berdiri di dekat Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2026).
Mereka membentangkan spanduk besar berwarna biru bertuliskan imbauan kepada peserta aksi unjuk rasa.
Spanduk tersebut bertuliskan, “SELAMAT DATANG PEJUANG ASPIRASI. SAMPAIKAN PENDAPAT DENGAN TERTIB, KAMI SIAP MELAYANI.”
Pemandangan ini terlihat saat massa aksi dari berbagai elemen seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) hingga Gabungan Buruh Serikat Indonesia mulai berdatangan ke titik aksi.
Kehadiran polwan dengan spanduk itu menjadi bagian dari upaya aparat untuk menciptakan suasana yang kondusif sekaligus memberikan pesan bahwa penyampaian pendapat di muka umum tetap difasilitasi, selama dilakukan secara damai dan tertib.
Selain itu, di sekitar lokasi, barikade polisi sudah disiagakan, namun situasi terpantau terkendali.
Kecam Donald Trump
Massa aksi menyuarakan kecaman keras terhadap langkah politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai melakukan agresi militer dan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para demonstran membentangkan spanduk besar bertuliskan tuntutan agar Amerika Serikat mengembalikan kedaulatan Venezuela dari segala fitnah dan aksi blunder militer.
Baca Juga: Konflik AS-Venezuela, Purbaya: Hukum Dunia Aneh, PBB Lemah Sekarang
"Jadi, hari ini kami menyampaikan suatu problem yang terjadi di Amerika dan Venezuela," ujar Ali selaku perwakilan peserta aksi dari kader HMI Jakarta.
Ali menegaskan bahwa segala bentuk penindasan di atas dunia harus ditiadakan, sesuai dengan amanat konstitusi Republik Indonesia.
"Kami merasa sangat prihatin terhadap kebijakan yang kemudian diambil oleh seorang Donald Trump untuk menangkap presiden Venezuela," tegasnya.
Kebijakan sepihak yang diambil oleh pemerintah Amerika Serikat juga dianggap mencederai tatanan hukum internasional yang berlaku secara global.
"Ini adalah salah satu langkah yang kemudian mencederai hukum internasional," tambah Ali, di tengah riuhnya massa yang membawa atribut 'Save Venezuela'.
HMI meyakini jika persoalan ini terus diabaikan, maka berbagai negara di dunia akan ikut menyuarakan penolakan serupa terhadap tindakan arogan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Wamen PPPA Soroti Lingkaran Setan Kemiskinan Akibat 'Banyak Anak Banyak Rezeki'
-
Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS
-
Isu Perombakan Kabinet, Sekjen Partai Golkar Berharap Tidak Ada Kadernya yang Terkena Reshuffle
-
Prabowo Targetkan 3 Tahun Lagi Indonesia Bebas Sampah: Kita Punya Teknologi Buatan Sendiri
-
Lakukan Evaluasi Imbas 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Bakal Tarik Pasukan Perdamaian?
-
Mahasiswa Desak MK Kabulkan Uji Materi UU TNI Terkait Tragedi Andrie Yunus
-
Polemik Kasus Chromebook dan Ancaman Trial by The Press di Era Digital
-
Buronan Interpol dan Bos Mafia Asal Inggris Akhirnya Dideportasi Imigrasi Ngurah Rai
-
Istana Belum Terima Hasil Investigasi PBB Penyebab 3 TNI Gugur di Lebanon
-
Bupati Bekasi Ade Kuswara Klaim Tak Tahu Soal Pembakaran Rumah Saksi dalam Kasus Suap Ijon Proyek