- Aksi unjuk rasa terjadi di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Selasa (6/1/2026).
- Puluhan pengunjuk rasa memprotes agresi militer dan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh AS.
- Kerumunan massa menyebabkan kemacetan signifikan dan menghambat operasional TransJakarta di sekitar lokasi.
Suara.com - Kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dipadati gelombang massa aksi di area seberang gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (6/1/2026).
Puluhan pengunjuk rasa berkumpul untuk melayangkan protes keras terhadap langkah politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Aksi ini dipicu oleh langkah agresi militer serta penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat.
Bendera kuning, biru, merah milik Venezuela tampak mendominasi pemandangan di antara panji-panji organisasi buruh seperti DPP FSP LEM SPSI, yang hari ini memang ikut dalam aksi.
Spanduk-spanduk berisi tuntutan politik dibentangkan lebar-lebar untuk memastikan pesan mereka terbaca oleh pihak kedutaan.
"Bebaskan Presiden Nicolas Maduro, Hancurkan Imperialisme!"
Kalimat tegas tersebut terpampang nyata pada baliho utama yang diusung oleh massa di baris terdepan.
Kerumunan massa aksi yang semakin banyak menimbulkan penyempitan ruas jalan hingga kendaraan sulit untuk merayap maju.
Deretan kendaraan roda empat dan roda dua terlihat mengular panjang hingga ke arah kawasan Monumen Nasional (Monas).
Baca Juga: 7 Fakta Minyak Venezuela: Harta Karun yang Bikin AS Rela Kirim Pasukan Delta Force
Operasional moda transportasi publik seperti TransJakarta pun sempat tertahan di tengah konvoi massa yang baru bergerak dari arah IRTI Monas.
Petugas kepolisian dari satuan lalu lintas terlihat berjibaku mengatur sirkulasi kendaraan yang terjebak di antara kerumunan manusia.
Sampai akhirnya, kepadatan antrean kendaraan perlahan dapat diurai setelah massa yang datang dari arah IRTI Monas bergabung dengan mereka yang lebih dulu berkumpul di seberang Kedutaan Besar AS.
Namun, para pengguna jalan tetap diimbau untuk mencari rute alternatif guna menghindari stagnasi selama aksi penyampaian pendapat berlangsung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Drama Keluarga Halilintar Memanas! Atta Akhirnya Bicara soal Isu Aurel Diabaikan di Foto Keluarga
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Tragedi Filisida Sukabumi: Bocah 12 Tahun Tewas di Tangan Ibu Tiri, Ini Penjelasan KPAI
-
BGN Tegaskan Tak Ada Pembagian MBG Saat Sahur, Ini Jadwalnya Selama Ramadan
-
Testimoni Wali Murid: Sekolah Rakyat Bawa Perubahan Nyata bagi Anak
-
Sinergi Kemensos dan Komisi VIII DPR Tingkatkan Layanan Korban Perdagangan Manusia
-
KPK Angkat Bicara, Inilah Alasan Utama RUU Perampasan Aset Wajib Disahkan!
-
Evakuasi Mencekam 26 Warga China di Tambang Emas Nabire Pasca Serangan KKB Aibon Kogoya
-
Menbud Fadli Zon: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Kebudayaan Dunia dan Super Power Megadiversity
-
Polri Bongkar Pola TPPO Berkedok Lowongan Kerja, Korban Dipaksa Bayar untuk Pulang
-
Ratusan Botol Miras Disita Satpol PP Jakarta Utara di Awal Puasa!
-
MKD Sahkan Ahmad Sahroni Kembali Jadi Pimpinan Komisi III DPR: Tak Ada Pelanggaran Prosedur