- Indonesia akan resmi memegang kepemimpinan Presiden Dewan HAM PBB pada Kamis (8/1/2026) dalam sidang yang digelar di Jenewa, Swiss.
- Posisi ini memperkuat posisi tawar diplomatik Indonesia dan membuka peluang menyuarakan isu negara berkembang (Global South).
- Jabatan internasional ini menuntut Indonesia mempraktikkan standar HAM tertinggi serta mendorong reformasi perlindungan HAM di dalam negeri.
Suara.com - Indonesia bersiap mengukir sejarah baru di panggung global. Tepat pada Kamis (8/1/2026), Merah Putih akan secara resmi memegang palu kepemimpinan sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) dalam sidang yang digelar di Jenewa, Swiss.
Capaian diplomasi yang membanggakan ini sontak mendapat sorotan dari parlemen di Senayan. Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkinan Bangsa (PKB), Mafirion, menyebut penunjukan ini bukan sekadar pencapaian strategis, tetapi juga sebuah amanah dan tanggung jawab moral yang sangat besar di pundak bangsa.
Menurutnya, posisi terhormat ini menuntut Indonesia untuk tidak hanya pandai beretorika di forum dunia, tetapi juga wajib mempraktikkan standar HAM tertinggi di negeri sendiri.
"Menjadi Presiden Dewan HAM Dunia bukan sekadar prestise internasional, melainkan tanggung jawab besar untuk memimpin dengan keteladanan, dialog, dan prinsip keadilan global,” ujar Mafirion saat dihubungi di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Ia menilai, kepercayaan dunia internasional ini secara signifikan akan memperkuat posisi tawar diplomatik Indonesia. Di tengah kompleksitas geopolitik saat ini, Indonesia terbukti mampu menjadi jembatan dialog yang efektif dan dipercaya oleh banyak negara.
Posisi ini, kata Mafirion, menegaskan peran Indonesia sebagai aktor kunci dalam kepemimpinan global.
Lebih dari itu, Mafirion menyoroti peluang emas bagi Indonesia untuk menjadi suara utama bagi negara-negara berkembang atau yang kerap disebut Global South.
Kepemimpinan ini memberikan panggung yang lebih luas untuk menyuarakan isu-isu HAM yang seringkali terpinggirkan.
“Kami juga menilai terkait kepemimpinan Indonesia sebagai representasi Global South, Indonesia memiliki ruang lebih luas untuk mengangkat isu-isu HAM dari perspektif negara berkembang, seperti hak atas pembangunan, keadilan sosial, pengentasan kemiskinan, hingga dampak perubahan iklim terhadap kelompok rentan,” ungkapnya.
Baca Juga: Indonesia Dinominasikan Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Apa Syarat Kriterianya?
Namun, Mafirion memberikan catatan tegas. Jabatan prestisius di tingkat internasional ini harus memiliki dampak nyata dan positif bagi perbaikan situasi HAM di dalam negeri.
Ia berharap, sorotan dunia yang kini tertuju pada Indonesia dapat menjadi cambuk dan pemantik untuk membereskan berbagai pekerjaan rumah terkait perlindungan HAM nasional.
“Selain itu, kepemimpinan di Dewan HAM PBB juga berpotensi menjadi dorongan kuat bagi percepatan reformasi HAM di dalam negeri. Standar dan perhatian internasional yang meningkat harus dijadikan pemicu untuk memperbaiki sistem perlindungan HAM nasional secara nyata,” tegasnya.
Pada akhirnya, politisi PKB ini mengingatkan bahwa kepemimpinan ini menuntut sebuah konsekuensi moral yang tinggi.
Legitimasi Indonesia di panggung dunia akan sangat bergantung pada keselarasan antara apa yang disuarakan di Jenewa dengan apa yang dipraktikkan di Jakarta dan seluruh pelosok negeri.
“Sebagai Presiden Dewan HAM Dunia, Indonesia harus memberi contoh. Penerapan prinsip HAM di dalam negeri menjadi kunci agar kepemimpinan Indonesia dihormati dan memiliki legitimasi moral,” katanya.
Momentum bersejarah ini, menurutnya, harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mendorong pendekatan isu hak asasi manusia yang lebih solutif dan merangkul semua pihak, sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia.
“Kepemimpinan ini harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memajukan pendekatan HAM yang inklusif, berimbang, dan berorientasi pada solusi, sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Indonesia Dinominasikan Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Apa Syarat Kriterianya?
-
Apakah Seleksi PPPK Kementerian HAM 2026 Dibuka untuk D3 & S1 Semua Jurusan?
-
Juventus Dirumorkan Bidik Sergio Busquets dari Argentina, Di Canio: Dia Sangat Kurus
-
Info Lengkap PPPK Kementerian HAM: Syarat, Cara Daftar, Formasi, dan Jadwal Seleksi
-
Setelah 20 Pertandingan, Wolves Akhirnya Raih Kemenangan Perdana di Liga Inggris 2025/2026
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Tepis Mitos 'Lebih Aman', BPOM: 5 Juta Anak Darurat Merokok Akibat Tipu Daya Vape!
-
KUPI: Kekerasan Seksual di Pesantren Adalah Bentuk Penistaan Agama!
-
Wafat Jelang Puncak Armuzna, Jemaah Haji Asal Pekanbaru Bakal Dibadalhajikan
-
Usut Penyebab Blackout Sumatra, Bareskrim Periksa Bukti Sutet Putus di Jambi
-
Pesantren Dikepung Kekerasan Seksual, KUPI: SOP dan Bu Nyai Jadi Solusi Utama
-
BGN Segera Susun Bank Menu, Pengawas Gizi Kini Tak Pusing Lagi
-
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
-
Bulog Ajak Mahasiswa dan Kampus untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan
-
Cuma Gara-gara Saling Pandang! Geng Motor Bacok Remaja di Flyover Cibodas
-
Geger WNA Jepang Ngaku Ditawari Prostitusi Anak 'Perawan' di Lokasari Jakarta Barat