- Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, mengkritik keras Menteri Pariwisata di Senayan pada 21 Januari 2026.
- Menteri memaparkan prestasi 2025, termasuk 154 penghargaan dan 13,98 juta kunjungan wisatawan mancanegara.
- Saleh meminta penjelasan dampak nyata dari penghargaan tersebut bagi masyarakat, bukan sekadar citra kementerian.
Suara.com - Suasana Rapat Kerja Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Rabu (21/1/2026) kemarin, sempat tegang saat Ketua Komisi VII, Saleh Partaonan Daulay, melontarkan kritik pedas kepada Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana.
Saleh memberikan peringatan keras terkait konsekuensi jabatan dan kewajiban konstitusional untuk mengikuti rapat kerja.
Ketegangan bermula saat Menpar memaparkan deretan prestasi kementeriannya, termasuk raihan 154 penghargaan internasional sepanjang 2025 dan kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 13,98 juta.
"Pertama-tama izinkan saya membawa kabar baik. Pariwisata Indonesia menorehkan beragam penghargaan pada tahun 2025. Baru-baru ini juga Bali dinobatkan sebagai destinasi terbaik dunia versi TripAdvisor," ujar Widiyanti di hadapan anggota komisi.
Hingga November 2025, tercatat kunjungan kumulatif mencapai 13,98 juta kunjungan, tumbuh 10,44 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya (year-on-year).
Namun, Saleh Daulay menilai paparan tersebut hanya sekadar pencitraan di atas kertas jika tidak dibarengi dengan penjelasan dampak nyata bagi rakyat.
Saleh menegaskan bahwa rapat kerja adalah instrumen penting untuk menguji kinerja pemerintah.
Ia meminta Menpar untuk tidak menghindari pendalaman materi dan harus siap memberikan jawaban langsung, bukan hanya sekadar jawaban tertulis yang disiapkan staf.
"Bu Menteri, kalau enggak mau rapat ya jangan jadi menteri juga. Kita juga kalau anggota DPR enggak mau rapat ya jangan jadi anggota DPR juga dong. Benar enggak? Kan ini konsekuensi daripada tugas konstitusional," tegas Saleh dalam rapat.
Baca Juga: Menpar Widiyanti Targetkan Industri MICE Indonesia Susul Vietnam di Peringkat Global
Saleh mengingatkan bahwa kehadiran dan kesediaan berdiskusi dalam rapat bukanlah pilihan, melainkan mandat undang-undang yang harus dijalankan oleh kedua belah pihak, baik eksekutif maupun legislatif.
Saleh mencecar kegunaan 154 penghargaan yang dibanggakan Menpar, termasuk dari media internasional seperti New York Times.
Ia meminta rincian setiap penghargaan tersebut karena merasa banyak nama penghargaan yang asing dan sulit dipahami manfaatnya bagi ekonomi akar rumput
"Saya ingin ini dijelaskan satu per satu jenisnya apa saja penghargaan ini dan dampaknya apa untuk rakyat Indonesia. Kalau cuma untuk pribadinya Ibu Menteri atau untuk citra kementerian, itu bagus, tapi rakyat dapat apa?" cetus Saleh.
Saleh juga menegaskan bahwa Komisi VII telah menyepakati bahwa jawaban atas pertanyaan anggota dewan harus disampaikan secara lisan dalam rapat tersebut, bukan menyusul secara tertulis.
Ia menyatakan siap bersidang meski harus memakan waktu lama demi transparansi.
"Enggak apa-apa seminggu (rapat) juga enggak apa-apa. Kan kalau yang gini-gini memang kerja kita rapat," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Prabowo Mau Tata Ulang Kota, DPR: Perlu Tangan Besi Lawan Cengkeraman Pengusaha
-
Menpar Kena 'Sentil' Komisi VII DPR, Proyek Lift Kaca di Pantai Kelingking Turut Disinggung
-
Ngobrol Santai Bareng Para Duta Besar, Menpar Bicara Peningkatan Turis dan Kualitas Pariwisata
-
Menpar Widiyanti Targetkan Industri MICE Indonesia Susul Vietnam di Peringkat Global
-
Soal Isu Mandi Pakai Air Galon, Menpar Widiyanti Tegas: Hanya Kabar Miring!
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim