- Menteri Sosial Gus Ipul mengumumkan Indonesia memakai Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) berdasarkan Inpres Nomor 4.
- DTSEN dikelola oleh BPS sebagai acuan tunggal semua kementerian untuk program sosial, mengurangi data sektoral.
- Data akan dimutakhirkan triwulan sekali, Kementerian Sosial melaporkan ke BPS untuk pedoman penyaluran bantuan sosial.
Suara.com - Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa Indonesia kini telah memasuki babak baru dalam pengelolaan data kemiskinan.
Melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4, pemerintah kini menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan tunggal dalam penyelenggaraan program-program sosial.
Hal tersebut disampaikan Gus Ipul dalam Rapat Kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ia menyebut kebijakan ini sebagai sejarah baru dalam tata kelola data di Indonesia.
"Dengan Inpres Nomor 4 itu, kita sekarang menggunakan DTSEN sebagai acuan penyelenggaraan program-program di lingkungan Kementerian Sosial. Dan ini adalah untuk pertama kalinya Indonesia memiliki data tunggal. Data yang dikelola oleh BPS dan dijadikan pedoman oleh seluruh kementerian dan lembaga termasuk pemerintah daerah. Jadi sudah tidak ada lagi lembaga atau kementerian yang memiliki data sendiri-sendiri, tapi sekarang semua yang mengelola itu adalah BPS," kata Gus Ipul.
Meski pengelolaan data secara terpusat berada di Badan Pusat Statistik (BPS), Gus Ipul menjelaskan bahwa Kementerian Sosial tetap memegang peran krusial dalam proses pemutakhiran data di lapangan agar tetap akurat dan mendekati kondisi riil masyarakat.
Namun, ia menyadari bahwa tingkat akurasi data hingga 100 persen merupakan hal yang sulit dicapai karena kondisi sosial masyarakat yang sangat dinamis.
"Untuk 100% akurat rasa-rasanya tidak mungkin. Karena apa? Karena setiap hari ada yang meninggal, setiap hari ada yang lahir, setiap hari ada yang menikah, setiap hari ada yang pindah tempat, setiap hari ada yang naik kelas, dan setiap hari ada yang turun kelas. Jadi ada beberapa kasus di mana keluarga itu yang sebelumnya miskin tiba-tiba dia naik kelas karena mungkin ada tambahan-tambahan atau dari rezeki dari anaknya, dari koleganya yang kemudian dia bisa naik kelas dalam beberapa bulan," jelasnya.
Gus Ipul memaparkan bahwa mekanisme pemutakhiran data ini akan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Kementerian Sosial bertugas menyetorkan hasil pemutakhiran kepada BPS, dan selanjutnya BPS akan mengembalikan data balikan sebagai pedoman penyaluran bantuan sosial (bansos).
Baca Juga: Tito Karnavian Resmikan Huntara Agam, Dorong Percepatan Bantuan dan Validasi Data Korban Bencana
"Data itulah yang kemudian kita jadikan sebagai pedoman untuk menyalurkan Bansos. Artinya, Bapak Ibu sekalian, sekarang tidak mungkin lagi atau bisa jadi penerima manfaat itu berubah-ubah. Di triwulan pertama dapat, triwulan kedua tidak dapat, ketiga mungkin dapat, tergantung pada kondisi sosial ekonomi masing-masing KPM," ungkapnya.
Dengan adanya DTSEN, Gus Ipul berharap integrasi berbagai program pemerintah seperti Sekolah Rakyat dan penyaluran subsidi dapat berjalan lebih tepat sasaran sekaligus menghapus ego sektoral antar-lembaga.
"Ini yang baru, Bapak Ibu sekalian, nah dengan data satu tunggal ini kita harapkan maka intervensi pemerintah menjadi terintegrasi dan mengurangi ego sektoral karena datanya sudah sama. Diharapkan Bansos, subsidi sosial, dan lain sebagainya nanti bisa mencapai pada mereka yang telah benar-benar memenuhi kriteria. Bansos tepat sasaran atau Sekolah Rakyat berbasis pada DTSEN," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Tito Karnavian Resmikan Huntara Agam, Dorong Percepatan Bantuan dan Validasi Data Korban Bencana
-
Data Pribadi Terus Bocor, Seberapa Kuat Keamanan Siber Indonesia?
-
Bitcoin Menguat ke USD97.000, Data Inflasi AS Redam Kekhawatiran Pasar Kripto
-
Bisnis 2026: Rhenald Kasali Soroti Dominasi AI dan Pergeseran Psikologi Publik
-
Komdigi Diminta Stop Registrasi Kartu SIM Berbasis Biometrik, Bisa Bikin Sengsara Seumur Hidup
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Mahasiswa UI ke Aparat: Kami Bukan KKB, Tolong Jangan Represif!
-
Strategi Barikade TNI-Polri Pecah Massa Mahasiswa, Bundaran HI dan DPR Sepi Orasi
-
Massa Demo Mahasiswa dan Ojol Bersatu Lawan Barikade TNI-Polri Menuju Bundaran HI
-
Terancam Terusir, 71 Jiwa Penghuni Rusun Kemensos Belum Kantongi Kepastian Tempat Tinggal Baru
-
Nasib Tragis Warga Penolak Penambangan Emas Ilegal di Sumbar, Dipukuli Sampai Luka Berat
-
Demo Mahasiswa Bukan Ancaman: Tarik Militer, Jangan Ada Tameng dan Pentungan
-
Misteri 2 Mayat Wanita di Banyumas: Nenek Ditemukan Dalam Sumur, Gadis 18 Tahun Bersimbah Darah
-
KPK Sita Rp59 Juta dan Ribuan Valas di Rumah Silmy Karim: Ada USD, Euro, hingga Yen!
-
Pakar Ingatkan Paparan BPA dari Galon Guna Ulang Berkaitan dengan Pubertas Dini Pada Anak
-
BEM UI: Polisi Hadang Demo Mahasiswa di HI, Bahkan Sempat Larang Kami Salat Jumat!