- Nenek Saudah menangis saat RDP Komisi III DPR pada 2 Februari 2026, mengungkap penganiayaan terkait tambang ilegal di Pasaman.
- Keluarga mempertanyakan penetapan hanya satu tersangka oleh Polres Pasaman, mengindikasikan adanya pengeroyokan dan pelaku lain terlibat.
- Pasca penganiayaan, Nenek Saudah dikucilkan di kampung halamannya meskipun merupakan keturunan tokoh terhormat setempat.
Suara.com - Suasana ruang rapat Komisi III DPR RI mendadak hening saat seorang lansia bernama Saudah tak kuasa menahan tangisnya. Di hadapan para wakil rakyat, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta Komnas HAM, Nenek Saudah mencurahkan jeritan hatinya.
Hal itu setelah Nenek Saudah menjadi korban penganiayaan brutal yang diduga kuat berkaitan dengan perlawanannya terhadap aktivitas tambang ilegal di kampung halamannya, Pasaman, Sumatra Barat.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2026), air mata menjadi saksi bisu penderitaan yang ia alami. Dengan suara bergetar, Nenek Saudah mengucapkan terima kasih karena panggilannya untuk keadilan akhirnya didengar hingga ke ibu kota.
“Saya sebagai korban yang bernama Saudah, berterima kasih atas kepedulian kalian semua. Tiada kusangka begini, atas kejadian ini yang akan sampai aku ke sini,” katanya sambil menangis sesenggukan.
Ucapan tulus itu menyiratkan perjalanan panjang dan berat yang harus ia lalui. Ia merasa terharu sekaligus pilu, nasibnya yang teraniaya di daerah terpencil kini menjadi perhatian nasional.
“Mendengar semua yang Ibu katakan, Bapak katakan semua, saya berterima kasih sebanyak-banyaknya,” ucapnya sebagaimana dilansir Antara.
Kejanggalan Hukum dan Jeritan Keluarga
Kisah Nenek Saudah bukan hanya tentang penganiayaan fisik. Pihak keluarga yang mendampingi mengungkap sejumlah kejanggalan dalam proses hukum yang berjalan di Polres Pasaman, Sumatera Barat.
Mereka mempertanyakan mengapa polisi hanya menetapkan satu orang tersangka, padahal luka yang diderita Nenek Saudah menunjukkan adanya pengeroyokan.
Baca Juga: Darah Nenek Saudah Bikin DPR Murka, Mafia Tambang Ilegal Pasaman Terancam Dibabat Habis!
Seorang perwakilan keluarga dengan nada tinggi menyuarakan protesnya. Menurutnya, mustahil luka separah itu hanya disebabkan oleh satu orang pelaku.
“Kalau memang tersangkanya satu orang, tidaklah mungkin rasanya separah ini ibunda kami. Bisa pula lagi diseret dan dibuang ke seberang sungai. Apalagi tersangka yang saat ini sudah mengaku ada beberapa orang, kenapa tidak ditangkap? Ini yang kami sangat sayangkan,” ujarnya dengan penuh emosi.
Keluarga menduga ada pihak-pihak lain yang terlibat dan sengaja dilindungi. Mereka juga menuntut agar Nenek Saudah didampingi oleh pengacara yang benar-benar netral dan tidak terpengaruh oleh kepentingan mana pun, untuk memastikan proses hukum berjalan adil.
Diasingkan di Tanah Kelahiran Sendiri
Penderitaan Nenek Saudah ternyata tidak berhenti di ranah fisik dan hukum. Setelah insiden penganiayaan yang terjadi pada 1 Januari 2026 lalu, ia justru harus menanggung beban sosial yang tak kalah berat, dikucilkan oleh masyarakat di lingkungannya sendiri.
Ironisnya, Nenek Saudah bukanlah orang sembarangan di kampungnya. Ia adalah keturunan langsung dari seorang tokoh yang dihormati.
Berita Terkait
-
Darah Nenek Saudah Bikin DPR Murka, Mafia Tambang Ilegal Pasaman Terancam Dibabat Habis!
-
Korban Terus Berjatuhan di Tambang Ilegal, Anggota DPR ke Bahlil: Harus Tunggu Berapa Nyawa Lagi?
-
Tambang Ilegal: Ketika Alam Dikeruk dan Hukum Dipinggirkan
-
Antam Duga 6 Korban Tewas di Pongkor Akibat Tambang Ilegal
-
Kerugian Ekologis dan Ancaman Ekonomi: PETI Jadi Pemicu Utama Banjir Bandang di Pohuwato
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
PLN Klaim Pemadaman Listrik di Kalbar Bukan karena Krisis Batu Bara, Ini Penyebabnya
-
Said Iqbal Beri Deadline Disnakertransgi DKI, Senin Harus Ada Keputusan Soal Kasus Mau Print
-
Pengusaha Kalbar Rugi Akibat Listrik Padam, DPRD Desak PLN Lebih Terbuka
-
PLN Sebut Bukan Karena Batu Bara, DPRD Minta Penyebab Pemadaman Listrik di Kalbar Dibuka ke Publik
-
PAN Tegaskan Kasus Syah Afandin Bukan 'Dosa' Partai: Itu Tanggung Jawab Pribadi!
-
Teka-teki Lokasi Muktamar NU, 5 Provinsi Ini Bersaing Ketat
-
DTKJ Usul Mikrotrans Tak Lagi Gratis, Tarif Rp 2.000 Dinilai Bikin Data Penumpang Lebih Akurat
-
Kenapa Warga Bela Bandar Narkoba? Bedah Kasus Katingan yang Tewaskan Aipda Yudhi Perdana
-
Kasus dr Icha Jadi Titik Balik, Kemenkes Siapkan Perpres Perlindungan Nakes hingga Aturan Sanksi
-
Heboh Gembok 'Sakti' Rp92,5 Miliar di Kemenimipas, Anggota DPR Temukan Harga Tak Wajar