- GMKR menyampaikan lima tuntutan konkret untuk merebut kedaulatan rakyat dari kelompok oligarki melalui jalur hukum ekstrem.
- Gerakan tersebut menuntut pertanggungjawaban pejabat seperti Jokowi dan Luhut yang dianggap menyerahkan kedaulatan kepada oligarki.
- Tuntutan akhir GMKR meliputi pembersihan unsur pelindung oligarki serta penegakan kedaulatan politik dan hukum.
Suara.com - Gerakan Merebut Kembali Kedaulatan Rakyat (GMKR) menyampaikan lima poin tuntutan utama sebagai langkah konkret untuk merebut kembali kedaulatan rakyat yang dinilai telah dikuasai oleh kelompok oligarki.
Tuntutan tersebut mencakup langkah hukum ekstrem hingga desakan pembersihan unsur-unsur pelindung oligarki di dalam pemerintahan.
Salah satu tokoh GMKR, Soenarko, mengungkapkan bahwa gerakan ini bertujuan untuk menggeser praktik buruk kekuasaan kembali ke rel yang seharusnya. Ia menegaskan bahwa kedaulatan merupakan hak mutlak rakyat yang tidak bisa ditawar.
"Mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu, merebut kembali, mengajak seluruh saudara-saudara sebangsa setanah air yang menyadari bahwa hak-hak mutlak di kedaulatan sudah diambil oleh oligarki," ujar Soenarko dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (11/2/2026).
5 Poin Tuntutan GMKR
Dalam pemaparannya, Soenarko merinci lima poin krusial yang menjadi tuntutan GMKR:
Pertama, mengajak rakyat bersatu merebut kembali kedaulatan. GMKR menyerukan seluruh bangsa Indonesia untuk menyadari bahwa hak mutlak rakyat telah dirampas oleh oligarki.
Kedua, meminta pertanggungjawaban pemerintah dan tokoh yang menyerahkan kedaulatan kepada oligarki. Ia menyinggung keterlibatan sejumlah pejabat dan tokoh dalam pemberian izin kepada perusahaan besar seperti IMIP.
Nama mantan Presiden Joko Widodo dan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan disebut sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.
Ketiga, menuntut politisi, aparat, dan tokoh untuk berhenti menjadi pelindung oligarki. Soenarko menyoroti keterlibatan sejumlah purnawirawan jenderal dalam kasus sengketa tanah, termasuk di kawasan PIK 2.
Baca Juga: Ahli Meringankan Roy Suryo dkk: Salinan Ijazah Jokowi Sama dengan Sampel Riset RRT
“Berhentilah, kalau bekerja bekerjalah tapi jangan menindas rakyat,” tegasnya.
Keempat, mendesak presiden membersihkan pemerintahan dari unsur-unsur penghalang pengembalian kedaulatan. GMKR menuding adanya pensiunan jenderal yang menjadi tangan oligarki, khususnya terkait IMIP. Luhut disebut sebagai tokoh yang kerap melindungi kepentingan oligarki.
Terakhir, menjadikan penegakan kedaulatan politik dan hukum sebagai prioritas. GMKR menuntut pengadilan terhadap Jokowi, pemakzulan Gibran Rakabuming Raka, serta reformasi organisasi kepolisian.
Poin kelima, menurut Soenarko, merupakan implementasi paling nyata dari perjuangan GMKR. Ia menegaskan bahwa tuntutan untuk mengadili Jokowi dan memakzulkan Gibran merupakan perwujudan penegakan kedaulatan politik dan hukum yang sudah sangat mendesak.
“Ini sudah teknis sebetulnya itu. Itu sebetulnya implementasi dari 1, 2, 3, 4 betul. Tapi kita tegaskan itu,” katanya.
Menurut GMKR, tuntutan ini bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk mengembalikan marwah demokrasi dan menegakkan amanah konstitusi. Gerakan tersebut menilai oligarki telah merusak sistem politik, hukum, dan ekonomi, sehingga rakyat kehilangan hak kedaulatannya.
Berita Terkait
-
Ahli Meringankan Roy Suryo dkk: Salinan Ijazah Jokowi Sama dengan Sampel Riset RRT
-
Ijazah Jokowi Tanpa Sensor Dibongkar! Bonatua Klaim Identik dengan Dokumen Riset Roy Suryo Cs
-
GMKR Nilai Indonesia Hadapi Krisis Kedaulatan, Oligarki Disebut Rampas Hak Rakyat
-
Syarat Jadi Bos OJK: Bukan Pengurus Partai dan Tidak Pernah Dipidana!
-
Profil Bonatua Silalahi, Sosok Peneliti yang Berhasil Buka Salinan Ijazah Jokowi di KPU
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Soroti Penyalahgunaan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran, KPK: Bisa Jadi Pintu Masuk Korupsi
-
Viral Zebra Cross Hilang Disulap Jadi Pac-Man di Tebet, Dinas Bina Marga DKI Buka Suara
-
PBNU Tegas Dukung Iran, Gus Yahya Serukan Perdamaian dan Desak RI Ambil Langkah Diplomatik
-
Pencurian Ternak Modus Tembak dan Kuliti Sapi Bikin Geger Kupang! Pelaku Aparat Desa hingga ABH
-
Ada Bazar di Monas, KA Keberangkatan Gambir Bakal Berhenti di Jatinegara
-
BGN Tindak Tegas! SPPG di Nabire Dibekukan Usai Mobil MBG Dipakai Angkut Sampah
-
Arus Balik Tahap 2 Dipantau Ketat! Korlantas Siap Terapkan One Way Nasional Kalikangkung-Cikatama
-
Stasiun Jakarta Masih Diserbu Penumpang Arus Balik, Tembus 52 Ribu Penumpang Hari Ini
-
Antisipasi Macet Monas, KAI Alihkan Naik Kereta dari Gambir ke Jatinegara Hari Ini
-
Tekan BBM Lewat WFH ASN? DPRD Jakarta Peringatkan Risiko ke Layanan Publik