- Aliansi Perempuan Indonesia (API) menyoroti kebijakan yang meminggirkan hak perempuan menjelang IWD 2026.
- API mengkritik KUHP Baru dan Program Makan Bergizi Gratis yang dianggap merugikan perempuan.
- API mendesak pengesahan RUU PPRT serta mengecam dampak ekstraktivisme dan kebijakan luar negeri tertentu.
Suara.com - Menjelang peringatan Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) yang jatuh pada Minggu (8/3/2026) mendatang, Aliansi Perempuan Indonesia (API) mengeluarkan pernyataan sikap keras terhadap berbagai kebijakan negara yang dinilai meminggirkan hak-hak perempuan.
Tahun ini, aliansi yang terdiri dari 93 organisasi perempuan, serikat pekerja, hingga kelompok hak asasi manusia tersebut mengusung tema besar: "Perempuan Bersatu Melawan Penghancuran Atas Tubuh".
Tema ini diangkat sebagai respons atas kebijakan yang dinilai mengeksploitasi, melanggengkan kekerasan, dan merusak ruang hidup perempuan.
Dalam siaran persnya, Rabu (4/3/2026), API menyoroti absennya peran negara di tengah tingginya angka pembunuhan terhadap perempuan (femisida).
"Penghancuran dan kontrol terhadap tubuh, reproduksi, dan seksualitas perempuan telah menyebabkan kematian perempuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di tengah kondisi ini, negara tak kunjung membentuk Femicide Watch untuk pencegahan hingga pemulihan korban," tulis pernyataan resmi API, Rabu (4/3/2026).
API juga mengkritik KUHP Baru yang dinilai masih menempatkan perempuan sebagai objek moralitas dan mengkriminalisasi hak reproduksi seperti aborsi. Di sisi lain, jaminan hukum dalam KUHAP Baru tidak dibarengi dengan politik anggaran yang memadai, seperti dihapusnya pembiayaan visum bagi korban kekerasan.
Sorotan Terhadap Eksploitasi Buruh dan Program Makan Bergizi (MBG)
Di sektor ketenagakerjaan, API menyoroti sistem kerja fleksibel seperti outsourcing dan kerja kontrak singkat yang sangat merugikan buruh perempuan. Situasi ini dinilai sebagai alat kontrol yang memicu ketakutan kehilangan pekerjaan, diperparah dengan beban ganda pekerja perempuan di ranah domestik.
Nasib nahas juga masih membayangi Pekerja Rumah Tangga (PRT). API mendesak pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran untuk segera mengesahkan RUU PPRT yang telah mandek selama 22 tahun.
Lebih lanjut, API secara khusus mengkritisi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan anggaran Rp 335 triliun pada 2026. Alih-alih memberdayakan, sistem rantai pasok program ini dinilai mematikan mata pencaharian perempuan di sektor informal, seperti pedagang kantin dan penjual sayur keliling.
Baca Juga: Nasib Buruh Perempuan hingga Korban MBG Jadi Sorotan Tajam API
"Dengan 83,4 persen anggaran diambil dari dana pendidikan, MBG berisiko menggeser makna pendidikan dari investasi pengetahuan jangka panjang menjadi sekadar pemenuhan konsumsi," tulisnya dalam siaran Pers API.
Kritik Ekstraktivisme dan Kebijakan Luar Negeri
Tak hanya isu domestik, API juga mengecam perusakan alam melalui proyek ekstraktif yang kerap merampas ruang hidup perempuan. Penolakan terhadap tambang kerap berujung pada kriminalisasi dan intimidasi terhadap perempuan pejuang lingkungan.
Di ranah politik luar negeri, API mendesak pemerintah menghentikan kebijakan yang tunduk pada imperialisme baru. Langkah Presiden Prabowo menyetujui Agreements on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat dinilai melemahkan solidaritas Indonesia terhadap negara-negara yang tengah menghadapi invasi militer AS dan Israel, seperti Palestina dan Lebanon.
Sebagai puncak peringatan IWD 2026, API mengundang seluruh elemen masyarakat sipil untuk hadir dalam acara "Panggung Perempuan". Acara yang akan menjadi ruang refleksi dan konsolidasi perlawanan ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu (8/3/2026) di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Nasib Buruh Perempuan hingga Korban MBG Jadi Sorotan Tajam API
-
API Soroti Femisida dan Bias Hukum Jelang Hari Perempuan Internasional
-
Terkuak! Alasan Kejagung Pertahankan Cekal Saksi Kasus Korupsi Pajak Walau KUHP Baru Berbeda
-
Kewenangan Satpol PP dalam KUHP Baru: Antara Privasi Warga dan Hukum yang Hidup
-
KUHP Baru Mulai Berlaku: Tersangka Tak Lagi Ditampilkan, Pidana Restoratif Mulai Diterapkan
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- Sudah 4 Bulan Ditahan, Bupati Pati Sudewo Sampaikan Pesan Rindu dari Rutan KPK
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Pasukan Perdamaian Prancis Gugur, RI Tegas: Serangan ke UNIFIL Tak Bisa Diterima
-
Skorsing 19 Hari, Siswa yang Acungkan Jari Tengah ke Guru Terancam Tidak Naik Kelas
-
Gudang Bulog Penuh, Presiden Sebut Negara Hadir Penuhi Kebutuhan Dasar Rakyat
-
Ketua Golkar Malra Nus Kei Tewas Ditikam, Polisi Tangkap 2 Terduga Pelaku
-
Uya Kuya Polisikan Akun Threads Soal Hoaks 750 Dapur MBG, Ini Detail Laporannya
-
10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
-
KPK Bongkar Motif Korupsi Kepala Daerah: Bukan Cuma Biaya Politik, Ada yang Demi THR Pribadi
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup, Ini Penjelasan Kemlu SOal Nasib 2 Kapal Tanker Pertamina
-
Viral Makanan Tak Layak Prajurit Marinir, Menteri Perang AS Ngamuk Serang Media
-
Seram! Ilmuwan Penting AS Menghilang Satu per Satu, Gedung Putih Desak FBI Usut Tuntas