- Kemenkes mengingatkan masyarakat menghindari sentuhan langsung pada bayi dan balita saat silaturahmi Idul Fitri untuk mencegah penularan campak.
- Plt Dirjen P2P Kemenkes meminta orang tua segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul demam disertai ruam kulit.
- Individu dengan gejala suspek campak diimbau tidak menghadiri keramaian untuk mengendalikan potensi penularan penyakit yang lebih luas.
Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menyentuh bayi dan balita saat berkumpul, terutama pada momen silaturahmi seperti Lebaran. Kebiasaan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit campak yang sangat mudah menular.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap penularan penyakit. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati ketika berinteraksi dengan mereka, terutama jika kondisi kesehatan tidak sepenuhnya fit.
“Memang kebiasaan asal sentuh anak bayi, balita begitu saat kita kumpul-kumpul, terutama Lebaran, sebaiknya memang dikurangi atau bahkan dihindari karena risiko penularan (campak) tinggi,” kata Andi dalam konferensi pers virtual, Jumat (6/3/2026).
Andi juga meminta orang tua segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila muncul gejala yang mengarah pada campak, seperti demam disertai ruam pada kulit.
“Apabila ada anak demam dan bergejala seperti ruam, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan termasuk pemeriksaannya,” ujarnya.
Selain itu, Kemenkes juga mengimbau individu yang memiliki gejala suspek campak untuk tidak menghadiri kegiatan yang melibatkan banyak orang. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah penularan lebih luas, terutama kepada kelompok rentan seperti bayi dan balita.
“Khusus kepada individu yang memiliki gejala demam, ada tanda-tanda suspek campak, seperti ruam, kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul, kemudian tidak pergi ke tempat-tempat, termasuk tidak pergi ke tempat-tempat wisata dan juga ke tempat-tempat keramaian lainnya, sebaiknya di rumah saja seperti begitu,” kata Andi.
Menurut dia, pola peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir kerap berkaitan dengan periode libur panjang yang memicu aktivitas berkumpul masyarakat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi penularan penyakit, terutama jika ada individu yang sakit tetap berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, Kemenkes kembali mengingatkan masyarakat agar menunda aktivitas berkumpul apabila mengalami gejala yang mengarah pada campak.
Baca Juga: Kemenkes Ingatkan Potensi Penyebaran Campak Meningkat di Tengah Libur Lebaran
“Terutama untuk penderita kasus yang memiliki gejala demam kemudian ada tanda-tanda suspek campak seperti ruam kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul dan tidak pergi ke tempat-tempat keramaian,” ujar Andi.
Berita Terkait
-
Kemenkes Ingatkan Potensi Penyebaran Campak Meningkat di Tengah Libur Lebaran
-
Kemenkes Minta Masyarakat Tak Khawatir Vaksin MR, Efek Samping Disebut Wajar dan Sementara
-
Kota Yogyakarta Catat 6 Kasus Positif Campak, Dinkes Sebut Masih Ada Warga Anti Vaksin
-
Campak Bukan Teman Kencan, Jangan Diajak Jalan-Jalan ke Tempat Umum!
-
Riwayat Pendidikan Ruce Nuenda, Ternyata Lulusan Sarjana di Kampus Ini
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
4 Tips Menyimpan Sepeda Lipat agar Awet, Bebas Karat, dan Tetap Nyaman Dikendarai
-
Tarif Naturalisasi Rp75 Juta, Pakar Minta Pemerintah Tak Jadikan Kewarganegaraan Hak Orang Berduit
-
Gara-gara Kue, Ketua DPRD Bone Diduga Aniaya Staf PPPK
-
Waspada! KPAI Ungkap Anak Indonesia Kini Terjebak 'Industri Kecemasan' dan 'Candu Digital'
-
Alarm Diabetes Indonesia: Skrining BPJS Belum Mampu Menjangkau Jutaan Kasus Tersembunyi?
-
Sekolah Masih Kekurangan Guru, PGRI Tolak Anggaran Pendidikan Dipangkas demi MBG
-
Lawan Hama Wereng, Petani Boyolali Andalkan Teknologi Drone
-
Kasus TPPU Memasuki Babak Baru: Eks Jampidsus Masuk Daftar Panggil, Kejagung Terbitkan Sprindik ke-4
-
BUMI Hingga BULL Jadi Saham Rekomendasi di Tengah Gejolak Minyak, Cek IHSG Hari Ini
-
Revisi UU Pemilu Harus Perkuat Demokrasi, Bukan Sekadar Ubah Aturan