News / Nasional
Jum'at, 06 Maret 2026 | 19:32 WIB
Ilustrasi bayi gejala campak (freepik)
Baca 10 detik
  • Kemenkes mengingatkan masyarakat menghindari sentuhan langsung pada bayi dan balita saat silaturahmi Idul Fitri untuk mencegah penularan campak.
  • Plt Dirjen P2P Kemenkes meminta orang tua segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul demam disertai ruam kulit.
  • Individu dengan gejala suspek campak diimbau tidak menghadiri keramaian untuk mengendalikan potensi penularan penyakit yang lebih luas.

Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menyentuh bayi dan balita saat berkumpul, terutama pada momen silaturahmi seperti Lebaran. Kebiasaan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit campak yang sangat mudah menular.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap penularan penyakit. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati ketika berinteraksi dengan mereka, terutama jika kondisi kesehatan tidak sepenuhnya fit.

“Memang kebiasaan asal sentuh anak bayi, balita begitu saat kita kumpul-kumpul, terutama Lebaran, sebaiknya memang dikurangi atau bahkan dihindari karena risiko penularan (campak) tinggi,” kata Andi dalam konferensi pers virtual, Jumat (6/3/2026).

Andi juga meminta orang tua segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila muncul gejala yang mengarah pada campak, seperti demam disertai ruam pada kulit.

“Apabila ada anak demam dan bergejala seperti ruam, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan termasuk pemeriksaannya,” ujarnya.

Selain itu, Kemenkes juga mengimbau individu yang memiliki gejala suspek campak untuk tidak menghadiri kegiatan yang melibatkan banyak orang. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah penularan lebih luas, terutama kepada kelompok rentan seperti bayi dan balita.

“Khusus kepada individu yang memiliki gejala demam, ada tanda-tanda suspek campak, seperti ruam, kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul, kemudian tidak pergi ke tempat-tempat, termasuk tidak pergi ke tempat-tempat wisata dan juga ke tempat-tempat keramaian lainnya, sebaiknya di rumah saja seperti begitu,” kata Andi.

Menurut dia, pola peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir kerap berkaitan dengan periode libur panjang yang memicu aktivitas berkumpul masyarakat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi penularan penyakit, terutama jika ada individu yang sakit tetap berinteraksi dengan orang lain.

Karena itu, Kemenkes kembali mengingatkan masyarakat agar menunda aktivitas berkumpul apabila mengalami gejala yang mengarah pada campak.

Baca Juga: Kemenkes Ingatkan Potensi Penyebaran Campak Meningkat di Tengah Libur Lebaran

“Terutama untuk penderita kasus yang memiliki gejala demam kemudian ada tanda-tanda suspek campak seperti ruam kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul dan tidak pergi ke tempat-tempat keramaian,” ujar Andi.

Load More