- Konflik Israel-AS melawan Iran sejak 28 Februari menimbulkan kerugian besar; biaya harian perang AS mencapai sekitar Rp15 triliun.
- Iran menggunakan drone Shahed 136 murah, kontras dengan biaya pertahanan Israel yang mahal seperti rudal Arrow-3.
- Jurnalis India melaporkan sensor militer ketat Israel melarang peliputan rumah sakit korban dan lokasi kerusakan parah.
Suara.com - Konflik bersenjata antara Israel yang didukung Amerika Serikat melawan Iran sejak 28 Februari lalu dilaporkan membawa dampak ekonomi dan kemanusiaan yang sangat besar.
Meski secara resmi otoritas Israel mengeklaim telah menghancurkan berbagai situs strategis di Iran hingga menargetkan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pihak Israel juga mengalami kerugian yang sangat signifikan.
Kehilangan ini mencakup korban jiwa yang terus bertambah hingga beban biaya operasional perang yang mencapai angka fantastis setiap harinya.
Beban finansial ini menjadi sorotan utama, terutama bagi pembayar pajak di Amerika Serikat. Beberapa hari setelah operasi militer besar-besaran diluncurkan terhadap Iran, estimasi biaya perang yang harus ditanggung mulai mencuat ke publik.
Nilai kerugian tersebut diperkirakan menyentuh angka sekitar Rp15 triliun per hari. Angka ini mencerminkan betapa mahalnya teknologi pertahanan yang dikerahkan untuk membendung serangan balasan dari pihak lawan.
Dalam perbandingan biaya persenjataan, Iran justru terlihat jauh lebih hemat dibandingkan aliansi Amerika Serikat dan Israel.
Teheran selama ini mengandalkan drone Shahed 136 sebagai ujung tombak serangan udara mereka. Drone ini dikenal efektif namun memiliki harga produksi yang relatif murah. Satu unit Shahed 136 dilaporkan hanya berharga sekitar US 20.000 atau berkisar Rp338 juta.
Berdasarkan data dari laman Scientific American menyebutkan harga drone ini berada pada rentang US 20.000 hingga US$50.000, atau setara dengan Rp338 juta hingga Rp845 juta per unit.
Ketimpangan biaya menjadi sangat kontras ketika melihat harga rudal pencegat yang digunakan oleh Israel dan AS. Sistem rudal pertahanan udara Arrow-3, yang menjadi andalan untuk menjatuhkan ancaman dari udara, memiliki harga mencapai US$3 juta per unit atau sekitar Rp50 miliar.
Baca Juga: Eks Jenderal AS Ungkap Bahaya Nyata Ranjau Iran bagi Kapal Tanker di Selat Hormuz
Kondisi ini membuat serangan besar-besaran dari Iran secara efektif menguras sumber daya finansial dan logistik Israel serta Amerika Serikat dalam waktu singkat.
Di tengah kerugian ekonomi tersebut, muncul dugaan kuat mengenai upaya menutup-nutupi kondisi sebenarnya di lapangan.
Kesaksian seorang jurnalis asal India, Praj Mohan Singh, yang baru-baru ini mengunjungi Israel, mengungkap adanya pembatasan ketat terhadap peliputan media.
Singh menyatakan bahwa otoritas Israel melakukan sensor militer yang sangat ketat terkait dampak serangan Iran.
Ia mengklaim bahwa para jurnalis tidak diberikan izin untuk mengakses rumah sakit yang menampung jenazah korban perang maupun merekam lokasi-lokasi yang mengalami kehancuran parah.
Menurut laporan Al Jazeera, Singh memaparkan bagaimana pemerintah setempat mengontrol penuh informasi yang boleh didokumentasikan oleh awak media.
Berita Terkait
-
Eks Jenderal AS Ungkap Bahaya Nyata Ranjau Iran bagi Kapal Tanker di Selat Hormuz
-
Dicap Pengkhianat, 5 Pemain Timnas Putri Iran Dapat Visa Australia
-
Ironi! Pilot Perempuan Israel Dianggap Simbol Feminisme, Ribuan Wanita Gaza Berjuang Hidup
-
Selat Hormuz Jadi Jalur Neraka di Iran, Meleng Dikit Pindah Alam
-
Iran Berhasil Ekspor Minyak Mentah ke China, Lolos dari Serangan AS-Israel
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda