-
Iran mengancam meluncurkan rudal satu ton untuk menghancurkan fasilitas militer di Israel.
-
IRGC mengklaim rudal hipersonik mereka berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome dan THAAD.
-
Teheran menegaskan bahwa kendali penuh penghentian perang berada di tangan militer Iran.
Beberapa titik di Irak, Bahrain, hingga Kuwait disebut menjadi target dari operasi militer besar-besaran ini.
Arab Saudi bahkan harus turun tangan dengan menembak jatuh drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah.
Uni Emirat Arab juga melaporkan adanya proyektil asing yang melintasi wilayah kedaulatan udara mereka secara ilegal.
Sebuah kapal kargo di lepas pantai Ras Al-Khaimah dilaporkan mengalami kerusakan akibat terkena benda terbang misterius.
Iran kini bersumpah akan meningkatkan daya hancur serangan mereka dengan menggunakan hulu ledak yang lebih masif.
Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Majid bahkan menegaskan kepada media Iran Mousavi, Iran tidak akan lagi menggunakan rudal dengan hulu peledak kurang dari satu ton.
Langkah ini diambil untuk memastikan dampak kehancuran yang ditimbulkan bisa mencapai skala maksimal di wilayah lawan.
Iran akan memakai semua stok rudalnya yang memiliki hulu ledak minimal satu ton untuk melancarkan gempuran masif ke Israel,
Persenjataan berat ini tidak hanya menyasar kota besar, tetapi juga pangkalan militer Amerika di luar negeri.
Baca Juga: Ketika Rumah Sakit Jadi Target: Saat Tenaga Medis Harus Adu Mekanik dengan Rudal
Kegagalan Sistem Pertahanan Udara Canggih
Majid mengatakan rudal-rudal tersebut akan diarahkan ke Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah, dikutip dari Middle East Monitor.
Dalam operasi bertajuk "Operation True Promise 4", Teheran telah mengerahkan berbagai jenis rudal balistik tercanggih.
Nama-nama seperti Ghadr, Emad, hingga rudal hipersonik Fattah telah diluncurkan untuk menembus benteng pertahanan lawan.
IRGC mengklaim teknologi senjata mereka mampu melewati kecanggihan sistem Iron Dome milik Israel secara efektif.
Bahkan sistem pertahanan THAAD yang dikelola oleh Amerika Serikat pun disebut kewalahan membendung laju serangan itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
Terkini
-
HUT ke-12 Suara.com, Menteri HAM Natalius Pigai: I Love You, Tetaplah Kritis dan Imparsial
-
Ultah ke-12, Deretan Karangan Bunga Pejabat hingga BUMN Penuhi Kantor Baru Suara.com di Palmerah
-
Laporan Media Asing Ungkap Jumlah Korban Ledakan di Bandara Internasional Dubai
-
Gegara Kerja Sama Dagang RI-AS, Koalisi Masyarakat Sipil Gugat Presiden Prabowo ke PTUN
-
Nyepi dan Idulfitri 2026 Berdekatan, Polri Gelar Operasi Ketupat dan Pengamanan Khusus di Bali
-
Mantan Penasihat Keamanan Amerika: Trump Bisa Jadikan Netanyahu Kambing Hitam
-
Polri Targetkan Bhabinkamtibmas Jadi Super Polisi yang Serba Bisa Penolong Masyarakat
-
BPOM: 70 Persen Pangan Ilegal Impor di RI Berasal dari Malaysia, Banyak Masuk Jalur Tikus
-
Akhirnya! Rudal Kiamat Iran Meluncur Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait
-
Harga Minyak Bikin AS Ngos-ngosan, Sanksi Rusia akan Diperingan? Ini 5 Faktanya