News / Nasional
Selasa, 17 Maret 2026 | 17:42 WIB
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan keterangan seusai menghadiri Rapat Koordinasi Program Prioritas Presiden di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (17/3/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)
Baca 10 detik
  • Pemerintah RI menghentikan sementara seluruh penerbangan internasional sebagai antisipasi geopolitik Timur Tengah.
  • Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi penundaan total penerbangan hingga situasi keamanan dinyatakan aman.
  • Keputusan ini diambil karena meningkatnya ketegangan bersenjata di Iran yang mengganggu jalur penerbangan global.

Menurutnya, penghentian ini akan terus berlaku hingga situasi dinyatakan benar-benar aman untuk dilalui, baik dari sisi teknis navigasi maupun ancaman serangan udara di wilayah konflik. Keamanan penumpang dan kru pesawat menjadi prioritas absolut yang tidak bisa ditawar.

"Ya, sampai batas waktu yang belum ditentukan," katanya sebagaimana dilansir Antara.

Prasetyo membenarkan bahwa keputusan ini merupakan dampak langsung dari eskalasi keamanan di Iran yang kian memanas.

Sebagaimana diketahui, ketegangan di kawasan tersebut telah melibatkan penggunaan alutsista jarak jauh dan penutupan ruang udara di beberapa negara tetangga, yang secara otomatis mengganggu koridor penerbangan sipil internasional yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan wilayah lainnya.

Perlindungan WNI dan Mitigasi Risiko Global

Langkah yang diambil pemerintah ini bukan tanpa alasan kuat. Jalur penerbangan internasional yang melintasi atau berada di sekitar kawasan Timur Tengah merupakan salah satu jalur tersibuk di dunia.

Dengan adanya eskalasi militer di Iran, risiko terjadinya salah sasaran atau gangguan navigasi udara meningkat secara signifikan.

Mensesneg menambahkan bahwa langkah ini diambil guna memastikan keselamatan warga negara Indonesia dan mencegah risiko fatal akibat ketegangan geopolitik yang terjadi di jalur lintasan penerbangan global.

Pemerintah belajar dari berbagai insiden penerbangan sipil di masa lalu yang terjebak dalam zona konflik, sehingga tindakan preventif ini dinilai sebagai opsi paling rasional saat ini.

Baca Juga: Bukan Program Unggulan, Ini Pos Anggaran yang Potensi Kena Pemangkasan

Bagi audiens usia produktif 18-45 tahun yang sangat bergantung pada konektivitas global, kebijakan ini memaksa adanya penyesuaian besar.

Perusahaan-perusahaan di Jakarta, Surabaya, dan Medan yang memiliki ketergantungan pada logistik udara internasional maupun perjalanan dinas luar negeri kini harus memantau perkembangan situasi dari jam ke jam.

Pemerintah melalui kementerian terkait juga terus berkoordinasi dengan organisasi penerbangan internasional untuk memetakan jalur alternatif yang aman, meskipun hal tersebut tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat di tengah kondisi perang yang dinamis.

Load More