News / Internasional
Rabu, 18 Maret 2026 | 10:45 WIB
Sejumlah aktivis saat menggelar aksi unjuk rasa terkait krisis iklim di Kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Jumat (3/3/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Studi Penn State pada 49 negara menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan emisi masih berkorelasi, kecuali di negara kaya berkekuatan kebijakan.
  • Negara berpenghasilan tinggi mampu menahan emisi saat ekonomi tumbuh berkat pajak karbon dan subsidi energi bersih.
  • Strategi tanpa perluasan pertumbuhan ekonomi dinilai paling efektif dan adil dalam menekan emisi gas rumah kaca secara global.

Suara.com - Selama puluhan tahun, ilmuwan memperdebatkan satu pertanyaan besar: apakah ekonomi bisa terus tumbuh tanpa memperparah krisis iklim?

Studi terbaru dari peneliti Penn State memberi jawaban yang tidak sederhana. Secara teori, hal itu bisa terjadi, namun dalam praktiknya, baru terlihat di negara-negara kaya dan dengan syarat yang ketat.

Penelitian yang menganalisis lebih dari 30 tahun data dari 49 negara ini menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi masih sering berjalan seiring dengan peningkatan emisi gas rumah kaca.

Di banyak negara berkembang, bahkan kebijakan iklim yang lebih ketat belum tentu mampu menekan emisi.

Di sisi lain, negara berpenghasilan tinggi menunjukkan hasil berbeda. Dengan dukungan kebijakan yang kuat, mulai dari pajak karbon, subsidi energi bersih, hingga standar teknologi, mereka relatif mampu menahan laju emisi meski ekonominya tetap tumbuh.

Seorang nelayan mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]

Namun, temuan ini tidak bisa dibaca secara hitam-putih.

Perbedaan kapasitas ekonomi, teknologi, hingga kesiapan kebijakan membuat dampak kebijakan iklim menjadi tidak merata. Apa yang berhasil di negara maju belum tentu efektif di negara berkembang.

“Efektivitas kebijakan sangat bergantung pada konteks masing-masing negara,” kata peneliti Ryan Thombs seperti dikutip dari Phys.org. 

Meski begitu, studi ini justru menegaskan pentingnya kebijakan yang lebih kuat.

Baca Juga: Kompilasi Purbaya Serang Balik Ekonom di Hadapan Prabowo: Bantah Resesi hingga Rupiah Hancur

Menurut Thombs, langkah yang ada saat ini belum cukup untuk menjawab tantangan krisis iklim.

“Pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang lebih ketat dari yang ada saat ini. Bahkan kebijakan paling ketat sekalipun masih belum cukup,” ujarnya.

Lebih jauh, penelitian ini juga menggeser cara pandang soal solusi. Tidak semua strategi harus bergantung pada pertumbuhan ekonomi tanpa batas.

Pendekatan yang menekankan keseimbangan antara kesejahteraan manusia dan lingkungan, bahkan tanpa mengejar pertumbuhan terus-menerus, justru dinilai lebih efektif dan adil dalam menekan emisi.

“Strategi yang tidak bergantung pada pertumbuhan ekonomi terbukti paling efektif untuk menekan emisi dan lebih adil bagi berbagai negara,” tambah Thombs.

Temuan ini menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi yang lebih ramah iklim tidak bisa disamaratakan. Dibutuhkan kebijakan yang lebih tajam, tetapi juga lebih kontekstual.

Load More