- Studi Cambridge menyimpulkan perubahan kecil ketinggian pesawat dapat memangkas hampir setengah dampak pemanasan global penerbangan.
- Contrails, jejak awan tipis pembentuk es, memerangkap panas atmosfer dan memiliki dampak non-CO2 signifikan terhadap pemanasan.
- Solusi praktis ini berupa penyesuaian rute operasional yang dapat menghasilkan pengurangan suhu cepat dalam satu dekade.
Suara.com - Perubahan kecil dalam jalur terbang pesawat ternyata bisa memberi dampak besar bagi iklim. Sebuah studi terbaru menunjukkan, menghindari pembentukan jejak awan tipis di langit, yang dikenal sebagai contrails, dapat memangkas hampir setengah dampak pemanasan global dari sektor penerbangan.
Penelitian yang dipimpin tim dari University of Cambridge ini menemukan solusi yang relatif sederhana, yakni cukup mengubah ketinggian jelajah pesawat beberapa ribu kaki, baik naik maupun turun, untuk menghindari kondisi atmosfer yang memicu terbentuknya contrails. Demikian seperti dikutip dari Phys.org.
“Sering kali sesederhana mengubah jalur terbang, atau bahkan hanya sedikit naik atau turun untuk menghindari area tempat contrails terbentuk,” kata penulis utama, Dr. Jessie Smith.
Kenapa contrails jadi masalah?
Contrails adalah garis putih tipis yang sering terlihat di belakang pesawat. Jejak ini terbentuk ketika gas panas dari mesin pesawat bertemu udara dingin dan lembap di ketinggian.
Uap air kemudian membeku menjadi kristal es dan bisa bertahan berjam-jam di atmosfer.
Masalahnya, awan tipis ini ikut menjebak panas di atmosfer. Meski kontribusi emisi karbon dioksida dari penerbangan sekitar 2–3 persen secara global, dampak totalnya lebih besar karena efek non-CO seperti contrails.
Dalam simulasi yang dilakukan peneliti, penerapan strategi ini secara bertahap pada 2035–2045 bisa membantu “menghemat” sekitar 9 persen dari batas kenaikan suhu global yang ditetapkan dalam Paris Agreement, yaitu 2°C.
Sebaliknya, jika tidak ada tindakan, contrails diperkirakan menambah pemanasan hingga 0,054°C pada 2050—sekitar 36% lebih tinggi dibanding dampak emisi CO penerbangan dalam periode yang sama.
Baca Juga: Heboh Tiket Pesawat Tembus Rp 202 Juta, Garuda Indonesia Buka Suara
“Yang mengejutkan, pengurangan suhu bisa terjadi cukup cepat,” ujar Smith.
“Dalam satu dekade, kita bisa memangkas porsi besar dampak pemanasan dari penerbangan. Ini tidak biasa dalam sains iklim, yang biasanya butuh waktu lama.”
Solusi praktis, tanpa teknologi baru
Kabar baiknya, solusi ini tidak memerlukan teknologi baru. Maskapai hanya perlu menyesuaikan rute dan ketinggian secara dinamis berdasarkan kondisi cuaca—praktik yang sebenarnya sudah dilakukan untuk menghindari turbulensi.
“Ini perubahan operasional, bukan teknologi,” jelas Smith. “Pesawat tidak perlu dimodifikasi. Sistemnya sudah ada, pilot juga sudah terbiasa melakukan manuver seperti ini.”
Meski ada potensi peningkatan konsumsi bahan bakar, peneliti menilai dampak tambahan emisi tersebut masih lebih kecil dibanding manfaat pengurangan pemanasan dari berkurangnya contrails.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis
-
Klasemen Piala AFF 2026 Usai Timnas Indonesia Digebuk Vietnam: Wajib Menang di Singapura