News / Internasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 21:08 WIB
Tradisi kue Lebaran di Gaza [Facebook IN Palestine Today]
Baca 10 detik
  • Ibu di Gaza, Samira Touman, tetap membuat kue Idul Fitri tradisional meski rumahnya rusak akibat serangan militer Israel.
  • Keterbatasan gas memaksa Samira memanggang kue kaak dan maamoul menggunakan tungku kayu dari sisa perabotan rumah yang hancur.
  • Penutupan perbatasan meningkatkan harga bahan pokok secara signifikan, mempersulit perayaan Idul Fitri bagi banyak keluarga di Gaza.

Suara.com - Di tengah rumah yang rusak akibat perang dan serangan militer Israel, aroma kue Idul Fitri tetap tercium di Gaza.

Samira Touman, seorang ibu tujuh anak, berjuang mempertahankan tradisi dengan membuat kue khas Lebaran meski dihadang keterbatasan.

Bersama anak-anaknya, Samira menyiapkan kaak dan maamoul di hari-hari terakhir Ramadan 2026.

Untuk informasi, kaak merupakan kue kering tradisional khas Timur Tengah dan Arab yang terkenal berbentuk cincin, menyerupai donat, atau lonjong, sering kali ditaburi wijen dan beraroma rempah kuat seperti mahlab, kayu manis, atau kapulaga.

Sementara maamoul tak berbeda dengan kaak, kue kering tradisional khas Timur Tengah yang lembut dan lumer di mulut, umumnya diisi dengan kurma halus (pasta kurma), pistachio, atau kenari.

Tentara Israel pada Sabtu (28/6/202), mengeluarkan perintah pengusiran terhadap warga Palestina. (ist)

Proses dilakukan manual, mulai dari menguleni adonan hingga memanggang menggunakan tungku kayu karena kelangkaan gas memasak.

“Ini musim Idul Fitri, musim penuh berkah. Memang tidak semeriah sebelum perang, tapi kami tetap berusaha,” ujarnya seperti dilansir dari Aljazeera.

Kondisi semakin berat setelah penutupan perbatasan yang memicu lonjakan harga bahan pokok. Tepung, gula, hingga kurma kini harganya melonjak tajam, membuat banyak keluarga harus berpikir ulang untuk merayakan Lebaran.

“Alhamdulillah, permintaan masih ada. Orang-orang ingin merasakan sedikit kebahagiaan Lebaran,” katanya. Namun ia mengakui, kebahagiaan di Gaza kerap terasa tidak pernah utuh.

Baca Juga: Cerita Desainer, Tren Belanja Baju Lebaran 2026 Cenderung Menurun Dibanding Tahun Lalu

Tanpa gas, Samira menggunakan kayu bakar dari sisa perabotan rumah yang hancur akibat serangan.

Wanita Palestina membuat kue tradisional Maamoul yang berisi kurma dan kacang-kacangan untuk persiapan hari raya Idul Fitri di kota Hebron, Palestina, Kamis (28/4/2022). [HAZEM BADER / AFP]

“Sekarang memasak identik dengan asap dan api, bukan lagi dapur yang bersih dan rapi,” ucapnya.

Sebelum perang, Samira memiliki usaha rumahan yang berkembang melalui media sosial.

Samira memiliki dapur lengkap dengan peralatan modern, namun semuanya hancur dan kini hanya tinggal kenangan.

Sejak konflik berkepanjangan di Gaza, kehidupan warga berubah drastis.

Banyak yang tinggal di pengungsian dan kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, bahkan ketika barang tersedia harganya sulit dijangkau.

Load More