-
Netanyahu memicu kontroversi besar karena membandingkan kekuatan Yesus Kristus dengan kekejaman Genghis Khan.
-
Menlu Iran dan Pendeta Palestina mengecam keras pernyataan Netanyahu yang dianggap merendahkan moralitas.
-
Netanyahu mengklarifikasi bahwa ucapannya merujuk pada teori sejarah Will Durant tentang pertahanan peradaban.
Munther berpendapat bahwa logika yang dipakai Netanyahu sangat melukai perasaan dan etika dasar ajaran Kristen universal.
Ia menyebut bahwa memposisikan Yesus Kristus di bawah kekuatan brutal adalah sebuah penghinaan terhadap nilai-nilai perdamaian dunia.
“Netanyahu dan para pendukung Zionis Kristen membuat etika ajaran Yesus seolah-olah menjadi bahan olok-olok,” ujarnya dikutip dari South China Morning Post.
Pernyataan itu dianggap menyebarkan paham bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan kejahatan di muka bumi.
Merespons gelombang protes yang kian membesar Netanyahu akhirnya memberikan penjelasan resmi melalui saluran komunikasi digital miliknya.
Ia membantah dengan tegas bahwa dirinya memiliki niat untuk merendahkan sosok Yesus Kristus dalam konferensi tersebut.
“Lebih banyak berita palsu tentang sikap saya terhadap umat Kristen, yang dilindungi dan berkembang di Israel. Saya tegaskan: saya tidak merendahkan Yesus Kristus dalam konferensi pers saya,” tulis Netanyahu.
Ia berdalih bahwa argumen tersebut sebenarnya merujuk pada pemikiran seorang sejarawan ternama asal Amerika Serikat.
Sosok sejarawan yang dimaksud oleh PM Israel tersebut adalah Will Durant yang menulis banyak karya sejarah.
Baca Juga: Israel Porak-poranda Dibom Rudal Kiamat Iran, Negara Tetangga Ikut Repot Hingga Ratusan Orang Tewas
Menurut klaim Netanyahu pandangan tersebut diambil dari perspektif Durant mengenai daya tahan sebuah peradaban dalam sejarah manusia.
“Durant, seorang pengagum besar Yesus Kristus, menyatakan bahwa moralitas saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungan hidup,” ujarnya.
Netanyahu menekankan bahwa sebuah bangsa yang memiliki moral tinggi tetap bisa hancur jika tidak memiliki pertahanan kuat.
Baginya kekuatan militer tetap menjadi kunci utama agar sebuah peradaban tidak runtuh di tangan musuh yang bengis.
“Peradaban yang lebih bermoral masih bisa jatuh oleh musuh yang kejam jika tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Tidak ada maksud menyinggung,” kata Netanyahu.
Hingga saat ini klarifikasi tersebut masih terus menuai pro dan kontra di tengah situasi geopolitik yang memanas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Peneliti Ungkap Hubungan Penyusutan Danau Turkana dengan Aktivitas Gempa Bumi
-
JPPI Kritik Keras SE Mendikdasmen, Guru Honorer Terancam Tersingkir dari Sekolah Negeri
-
Jadi Peternak Kambing tapi Berizin Direktur, WNA Myanmar Terancam Deportasi dari Yogyakarta
-
8 Fakta Kecelakaan Maut Bus ALS vs Truk BBM di Muratara, 16 Orang Tewas Terbakar
-
6 Fakta Kebakaran Rumah di Tanjung Barat yang Tewaskan Anggota BPK Haerul Saleh
-
Dapat Salam dari Gus Yaqut yang Ditahan KPK, Begini Respons Mensos Gus Ipul
-
DPR Dukung Usulan Blacklist Pelaku Politik Uang di Revisi UU Pemilu
-
Viral! Akun Ini 'Ramal' Kemunculan Hantavirus di 2026 pada Juni 2022, Kok Bisa?
-
Persija Mengungsi ke Samarinda saat Lawan Persib, Milad GRIB Jaya di Senayan Dihadiri 20 Ribu Orang
-
Jaga Wilayah Kelola Adat, UNDP Gandeng GEF-SGP Buka Proposal Hibah ICCA-GSI Phase 2