-
PM Netanyahu kecewa berat karena janji Mossad untuk menggulingkan rezim Iran tidak terbukti.
-
Prediksi Mossad mengenai pemberontakan rakyat Iran ternyata meleset jauh dari realitas lapangan.
-
CIA menilai pembunuhan pemimpin Iran justru bisa memicu munculnya pemimpin yang lebih radikal.
Suara.com - Laporan terbaru dari media ternama mengungkap kemarahan besar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap performa badan intelijen mereka, Mossad.
Benjamin Netanyahu dikabarkan merasa sangat kecewa dengan hasil kerja Mossad yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal.
Kekecewaan ini bermula dari klaim badan mata-mata tersebut yang menjamin keruntuhan pemerintahan Teheran dalam waktu singkat.
Mossad sebelumnya memprediksi bahwa serangan militer akan memicu gelombang protes besar dari masyarakat sipil di Iran.
Asumsi tersebut menjadi dasar bagi Israel dan Amerika Serikat untuk melancarkan agensi perang dengan ekspektasi kemenangan instan.
David Barnea selaku pemimpin tertinggi Mossad dilaporkan telah menemui Netanyahu sesaat sebelum konflik senjata dimulai.
Dalam dialog tersebut Barnea memberikan keyakinan penuh bahwa mereka sanggup menggerakkan kelompok oposisi untuk melakukan kudeta.
Rencana besar ini bahkan dipaparkan secara detail kepada sejumlah pejabat tinggi di Washington pada pertengahan Januari lalu.
Laporan menyebutkan bahwa strategi tersebut akhirnya mendapatkan lampu hijau dari pihak Netanyahu maupun Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?
Meskipun pada saat itu beberapa analis militer dari pihak Amerika Serikat sudah mulai meragukan keakuratan data tersebut.
Netanyahu menggunakan narasi perubahan rezim ini sebagai alat utama untuk menarik dukungan penuh dari pemerintahan Trump.
Konsep operasi ini dirancang dengan memulai pembunuhan terhadap jajaran pemimpin tertinggi di wilayah Republik Islam tersebut.
Setelah serangan udara dilakukan Mossad percaya akan muncul pemberontakan rakyat yang masif untuk mengambil alih kekuasaan.
Keyakinan ini bahkan sempat mewarnai narasi publik yang disampaikan oleh Trump melalui sebuah pernyataan resmi melalui video.
"Akhirnya, kepada rakyat Iran yang hebat dan bangga, saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda sudah dekat."
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
Terkini
-
55 Ribu Pekerja Terancam PHK, DPR Siapkan Rapat Koordinasi untuk Mitigasi
-
Israel Cuek Iran - AS Damai, Lebanon Terus Digempur
-
Nadiem Makarim: Banyak yang Larang Saya Jadi Menteri Jokowi
-
Kejagung 'Banjir' Alat Bukti Korupsi MBG, Upaya Sony Sonjaya Jadi JC Berakhir Sia-sia?
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Jaksa Kukuh Sebut Pembelian Chromebook Nadiem Kemahalan
-
Tak Layak Jadi Justice Collaborator! Kejagung: Sony Sonjaya Pelaku Utama Jual Beli Titik SPPG
-
Sufmi Dasco Sebut Narasi Indonesia Runtuh Sengaja Digoreng: Padahal Ekonomi Kita Kuat
-
Kasus Suap Bea Cukai Rp71 Miliar Masuk Pengadilan, Tiga Pejabat DJBC Segera Disidang
-
Prabowo Sebut NU Ada di Mana-mana: Kabinet Merah Putih Banyak NU, Tak Pernah Kalah