News / Internasional
Rabu, 25 Maret 2026 | 10:33 WIB
Tentara Amerika Serikat saat bersiap dalam sebuah tugas. [WUNC.org]
Baca 10 detik
  • Presiden Trump mengirim sekitar 2000 prajurit Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan tersebut meskipun mengklaim sedang mengupayakan kesepakatan damai Iran.
  • Pengerahan pasukan darat ini, termasuk personel tingkat tinggi, menandai peningkatan signifikan kekuatan tempur Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah.
  • Langkah militer ini terjadi bersamaan dengan upaya diplomatik, memperlihatkan strategi "diplomasi melalui kekuatan" AS terhadap Iran.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan inkonsistensinya dalam perang melawan Iran, saat memutuskan mengirimkan sekitar 2000 prajurit penerjun dari Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division) Angkatan Darat.

Keputusan mengirim tentara invasi darat itu dilakukan ketika Trump sendiri mengklaim tengah mengupayakan kesepakatan damai dengan Iran.

Langkah ini menandai peningkatan signifikan kekuatan tempur Negeri Pakde Sam di kawasan yang masih membara tersebut.

Dikutip dari surat kabar The New York Times, Rabu (25/3/2026), kontingen tersebut mencakup personel tingkat tinggi, termasuk Mayor Jenderal Brandon Tegtmeier yang merupakan komandan Divisi Lintas Udara ke-82.

Tak hanya itu, menurut sumber NY Times yang memahami masalah ini, Trump juga mengirimkan staf divisi dan satu batalyon dari Tim Tempur Brigade ke-1.

Pasukan ini saat ini bertindak sebagai Pasukan Respons Cepat (Immediate Response Force/IRF) divisi tersebut.

Pengerahan ini diperkirakan akan dimulai dalam hitungan hari. Elemen awal dari staf divisi dan batalyon dijadwalkan berangkat dalam waktu satu minggu ke depan.

Meski perintah resmi belum diterbitkan, sumber internal menyebutkan bahwa instruksi tersebut diharapkan segera turun dalam waktu dekat.

Kekuatan Respons Cepat di Tengah Diplomasi

Baca Juga: Media Arab Telanjangi Kasus Mohammad Bagher Ghalibaf: Berkali-kali Gagal Jadi Presiden Iran

Penempatan Divisi Lintas Udara ke-82 bukanlah hal baru dalam dinamika konflik AS-Iran.

Brigade ini direncanakan menjadi unit siaga yang dapat dikerahkan sewaktu-waktu jika situasi memburuk secara mendadak.

Strategi serupa pernah dilakukan AS pada tahun 2020 silam, sesaat setelah peristiwa pembunuhan komandan tinggi Iran, Qasem Soleimani, yang membawa kedua negara ke ambang perang terbuka.

Seorang sumber menyatakan bahwa peran unit ini sangat krusial sebagai jaring pengaman operasional.

"Brigade ini akan menjadi 'unit siap sedia' di Timur Tengah, yang siap dipanggil jika diperlukan," ujar sumber tersebut mengenai status kesiagaan pasukan elite itu.

IRF sendiri merupakan brigade yang dirancang untuk bergerak dengan pemberitahuan terbatas.

Load More