- KPK mengalihkan penahanan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai strategi percepatan penyidikan perkara korupsi haji.
- Keputusan pengalihan penahanan Yaqut dari Rutan menjadi tahanan rumah adalah keputusan lembaga melalui rapat ekspos.
- Yaqut ditahan KPK mulai 12 Maret 2026 dalam kasus dugaan korupsi kuota dan penyelenggaraan haji tahun 2023–2024.
Suara.com - Pakar Politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Yon Machmudi, Ph.D., mengkritik keras posisi diplomasi Indonesia dalam menyikapi agresi yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Yon menyarankan agar pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas, bahkan jika harus menarik diri dari keanggotaan di badan atau aliansi tertentu, seperti Board of Peace (BOP), apabila keberadaan Indonesia di sana tidak memberikan dampak optimal bagi perdamaian.
"Saya kira pemerintah Indonesia itu harus membaca betul apa yang terjadi sekarang, harus dikaji dampaknya, termasuk juga apakah posisi di BOP itu bisa optimal atau tidak. Kalau tidak optimal kemudian ada di bayang-bayang Amerika dan Israel, lebih baik kita untuk mundur, cabut gitu ya," tegas Yon, dikutip pada Kamis (26/3/2026).
Dilema Psikologis dan Masalah Ketegasan
Prof. Yon menilai posisi Indonesia dalam suatu badan internasional yang melibatkan aktor besar seperti Amerika Serikat dan Israel berpotensi memengaruhi ketegasan sikap pemerintah secara psikologis.
Ia menekankan pentingnya konsolidasi penyeimbang di dalam forum tersebut agar tetap optimal, dengan mendorong kerja sama bersama negara-negara Arab dan dunia Islam yang memiliki misi jelas serta batasan tegas.
"Kalau memang optimal di BOP, harus ada penyeimbang. Bisa nggak Israel dan Amerika dikontrol, gitu ya, bergabung dengan negara Arab dan dunia Islam yang lain yang ada di situ, tetapi punya misi yang jelas dan tahu bahwa kalau ini enggak boleh dilakukan, ini adalah redline-nya," ujarnya.
Menurutnya, negara-negara Arab memiliki kekuatan ekonomi besar yang dapat menjadi instrumen tekanan terhadap AS, terutama melalui komitmen investasi bernilai tinggi. Negara-negara tersebut memiliki daya tawar ekonomi yang sangat besar yang seharusnya dapat digunakan sebagai instrumen kontrol politik.
Berbeda dengan Indonesia yang, jika dilihat, jauh lebih kecil secara nilai ekonomi di mata AS, sehingga keberanian diplomatik menjadi kunci utama.
“Sementara kita diminta 1 miliar saja sudah mikirnya besar, gitu… Harusnya secara smart itu digunakan. Pedagang itu kan harus datang kepada pembeli, bukan pembeli disuruh datang ke pedagang,” jelas Yon.
Baca Juga: Israel Klaim Tewaskan Kepala Staf AL IRGC Iran di Kota Dekat Selat Hormuz
Di akhir pernyataannya, Yon menekankan bahwa diplomasi Indonesia tidak boleh lagi dipersepsikan sebagai pengekor kepentingan Barat. Indonesia harus memiliki kemandirian dan harga diri di kancah internasional.
"Indonesia merapatnya harus mulai jelas sebagai daya tekan terhadap Amerika agar tidak dipersepsikan mengekor atau tunduk kepada Amerika. Kebanggaan dan kehormatan ini yang harus kita jaga agar tidak seterusnya diatur oleh Amerika," pungkas Yon.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Israel Klaim Tewaskan Kepala Staf AL IRGC Iran di Kota Dekat Selat Hormuz
-
Pertemuan Trump-Xi Pada Mei Dianggap Tanda Berakhirnya Perang, Gedung Putih Bilang Begini
-
AS Tunggu Jawaban Iran untuk Damai, Netanyahu Uring-uringan ke Donald Trump
-
Rupiah Akhirnya Bernapas Lega, Hari Ini Menguat ke Level Rp 16.911
-
Abaikan Perintah Donald Trump, Presiden Meksiko Tetap Lakukan Hal Ini untuk Kuba
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Dari Hutan hingga Laut, Masyarakat Adat Knasaimos Petakan Wilayah Kelola: Mengapa Ini Penting?
-
Peneliti ITS kembangkan Solar Chimney, Apa Itu dan Apa Keunggulannya?
-
Perubahan Iklim Tak Hanya Soal Teknologi, Mengapan Pengaruh Sosial Juga Berperan Penting?
-
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus di Sekolah, Penuh Harapan untuk Indonesia Maju
-
Horor Subuh di Mesuji! Saat Eks Suami Gelap Mata Lepaskan Tembakan ke Mantan Istri
-
Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina
-
Praktis Tinggal Usap, Ini 5 Micellar Wipes Pilihan untuk Kulit Berjerawat
-
Telkom Selesaikan Spin-Off InfraCo Tahap 2, InfraNexia Pilar Utama Bisnis Wholesale Connectivity
-
PM Malaysia Anwar Ibrahim Masuk Rumah Sakit, Biro Pers: Mari Kita Berdoa
-
Gugat Prosedur Tapi Abaikan Substansi, Strategi Febrie Adriansyah Dinilai Gagal Yakinkan Publik