- Militer Israel dilanda krisis personel yang sangat parah akibat beban peperangan multi-front di Iran, Lebanon, Jalur Gaza, hingga kawasan Tepi Barat.
- Kepala Staf Eyal Zamir memperingatkan bahwa militer bisa runtuh dari dalam karena tingginya jumlah misi sama sekali tidak sebanding dengan prajurit tersisa.
- Keputusan pencabutan perpanjangan wajib militer dianggap memperparah krisis di tengah eskalasi konflik mematikan yang telah menelan ribuan korban jiwa.
Suara.com - Kekuatan tempur Militer Israel kini dilaporkan berada di titik nadir akibat krisis personel yang sangat parah.
Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir secara terbuka mengakui bahwa institusinya bisa segera hancur jika masalah kekurangan prajurit ini tidak segera teratasi.
Ancaman kolaps ini terjadi tepat ketika mereka sedang disibukkan oleh Serangan AS-Israel terhadap Teheran pasca terbunuhnya Ali Khamenei, yang berbarengan dengan operasi Invasi Darat Lebanon.
Televisi pemerintah KAN melaporkan suasana tegang dalam pertemuan kabinet keamanan yang membahas melemahnya jumlah prajurit aktif di lapangan.
Dalam pertemuan tertutup tersebut, petinggi angkatan bersenjata Israel memberikan peringatan tajam kepada para pejabat pemerintah terkait kondisi darurat ini.
“Jika kita tidak menemukan solusi terhadap krisis personel, tentara akan runtuh.”
Beban militer rezim Zionis saat ini memang terpecah ke dalam berbagai medan pertempuran mematikan yang menguras tenaga dan sumber daya negara.
Mereka menuntut untuk menahan gempuran balasan dari Iran sambil terus memperluas operasi darat yang mematikan di wilayah perbatasan Lebanon.
“Kami membutuhkan lebih banyak personel dan tentara; jika solusi tidak ditemukan, tentara akan runtuh dari dalam.”
Baca Juga: Pakar Ungkap Alasan Iran Tak Terkalahkan: AS Ingin 'Total Surrender', Iran Balas dengan 'Total War'!
Kekhawatiran serupa juga disuarakan secara lantang oleh sejumlah pejabat senior militer lainnya yang turut hadir dalam rapat darurat tersebut.
Mereka menyoroti ketimpangan yang semakin mengerikan antara tingginya beban tugas operasi dan ketersediaan jumlah prajurit di lapangan.
“Jumlah misi bertambah sementara jumlah tentara berkurang.”
Selain menghadapi dua front peperangan utama tersebut, pasukan Zionis juga masih harus mempertahankan wilayah pendudukan di sebagian Jalur Gaza.
Mereka juga memikul beban tambahan untuk menjaga keamanan pemukiman-pemukiman baru yang Dibangun secara sepihak di wilayah penduduk Tepi Barat.
Di tengah kebutuhan prajurit tempur yang meroket tajam ini, para pejabat militer justru mengingatkan pemerintah tentang sebuah kebijakan yang dinilai kontradiktif.
Berita Terkait
-
Eks Pejabat Keamanan AS: Eropa Hati-hati, Rudal Iran Bisa Capai Paris
-
Serangan Iran ke Israel Berlanjut: Puluhan Warga Jadi Korban, Sirene Terus Meraung
-
Iran: Ada Negara Arab yang Mau Bantu AS Kuasai Pulau Kharg
-
Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit
-
Belajar dari Perang ASIsrael vs Iran, Indonesia Harus Perkuat 'Character Building' dan Perang Siber
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Lebih dari Sekadar Ibu Kota, Jakarta Bertransformasi Jadi Kota yang 'Hobi' Mendengar
-
Wajah Baru Halte Patra Kuningan 2 Ternoda Vandalisme, Begini Respons Transjakarta
-
Kasus Penyekapan di Bandung Harus Dijerat Pasal Berlapis, Fokus pada Dampak Korban
-
KPK Dalami Penghasilan Maruf Cahyono di Kasus Dugaan Gratifikasi Pengadaan MPR
-
Gaya Jokowi Berbaju PSI, Mulai Blusukan Tiga Hari di Lampung
-
OTW Lampung Pakai Outfit 'Gajah', PSI Tegaskan Jokowi Tak Lagi di Partai Lama
-
Jakarta Luncurkan Website HUT ke-500, Warga Bisa Daftar Jadi Mitra Perayaan
-
Dugaan Aliran Uang ke BEM UBK Bentuk Represi Halus terhadap Mahasiswa
-
Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak
-
Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus