News / Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 20:30 WIB
Rudal Iran (Tasnimnews)
Baca 10 detik
  • Transisi kepemimpinan Iran memilih figur panglima perang, menutup peluang diplomasi pragmatis terhadap tekanan AS dan Israel.
  • Iran menolak intervensi terselubung AS dan memilih jalur perlawanan total sebagai respons tegas terhadap keinginan total penyerahan diri.
  • Pemimpin baru Iran diprediksi akan memperkuat poros perlawanan, memberikan semangat baru bagi milisi tanpa membuka pintu negosiasi.

Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah diprediksi bakal semakin membara menyusul transisi kepemimpinan di Teheran. Pakar politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Yon Machmudi, Ph.D., menilai Iran kini telah menutup pintu diplomasi pragmatis dan lebih memilih jalur perlawanan total (total war) menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dalam keterangannya di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Yon menyoroti terpilihnya sosok pemimpin baru yang memiliki profil berbeda dari pendahulunya. Menurutnya, posisi Iran saat ini berada pada titik no way to return atau tidak ada jalan untuk kembali.

"Figur yang dipilih ya panglima perang gitu ya, profil panglima perang. Bukan politisi yang bisa negosiasi atau kompromi yang cenderung pragmatis," ujar Yon, dikutip pada Kamis (26/3/2026).

Menolak Dikte 'Board of Peace'

Yon menjelaskan bahwa AS dan Israel sempat mencoba melakukan intervensi terselubung dalam suksesi kepemimpinan di Iran. Washington dan Tel Aviv menginginkan figur yang bisa dikonsultasikan atau "diizinkan" oleh mereka. Namun, Teheran justru memilih jalan sebaliknya dengan menghadirkan sosok yang memiliki ikatan emosional kuat dengan garis perjuangan sebelumnya.

"Amerika menginginkan Iran total surrender ya, total submission. Tetapi Iran membalasnya dengan total war gitu ya, lawan dulu gitu ya, lihat reaksi mereka," tegas Yon.

Ia menambahkan bahwa pemimpin baru ini memiliki hubungan darah langsung dengan pemimpin sebelumnya yang menjadi target serangan AS–Israel. Hal ini membuat peluang negosiasi menjadi sangat tipis karena adanya beban emosional dan ideologis yang besar.

"Pasti secara emosional ya dia nggak mau dong untuk mengorbankan nyawa orang tuanya, keluarganya untuk negosiasi begitu. Jadi kalau mau dirudal lagi ya Mujtaba sudah siap-siap untuk dirudal gitu ya, dia sudah menyerahkan jiwanya dengan berbagai macam kemungkinan," imbuhnya.

Pintu Negosiasi Tertutup

Berbeda dengan negara-negara Arab yang mengambil jalan normalisasi melalui Abraham Accords, Iran di bawah kepemimpinan baru ini diprediksi akan semakin memperkuat poros perlawanan (resistance).

Yon melihat kehadiran pemimpin bertipe "panglima perang" ini akan memberikan semangat baru bagi milisi-milisi di kawasan, mulai dari Hezbollah di Lebanon hingga Houthi di Yaman.

Baca Juga: 4 Ucapan Kontroversial Trump di Depan Donatur Partai Republik: Serang Media AS hingga Obama

Saat ditanya mengenai kemungkinan berakhirnya perang dalam waktu dekat, Yon memberikan analisis yang pesimistis terkait jalur diplomasi.

"Kalau membayangkan akan ada negosiasi dalam waktu dekat saya kira tidak. Kondisi sekarang kalau kita lihat fase tensi sedang naik. Maka pola perlawanan saya melihat dengan hadirnya Mojtaba akan semakin kuat gitu ya, memberikan semangat untuk terus melawan tanpa membuka pintu negosiasi," pungkas Yon.

Reporter: Dinda Pramesti K

Load More