- Transisi kepemimpinan Iran memilih figur panglima perang, menutup peluang diplomasi pragmatis terhadap tekanan AS dan Israel.
- Iran menolak intervensi terselubung AS dan memilih jalur perlawanan total sebagai respons tegas terhadap keinginan total penyerahan diri.
- Pemimpin baru Iran diprediksi akan memperkuat poros perlawanan, memberikan semangat baru bagi milisi tanpa membuka pintu negosiasi.
Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah diprediksi bakal semakin membara menyusul transisi kepemimpinan di Teheran. Pakar politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Yon Machmudi, Ph.D., menilai Iran kini telah menutup pintu diplomasi pragmatis dan lebih memilih jalur perlawanan total (total war) menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dalam keterangannya di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Yon menyoroti terpilihnya sosok pemimpin baru yang memiliki profil berbeda dari pendahulunya. Menurutnya, posisi Iran saat ini berada pada titik no way to return atau tidak ada jalan untuk kembali.
"Figur yang dipilih ya panglima perang gitu ya, profil panglima perang. Bukan politisi yang bisa negosiasi atau kompromi yang cenderung pragmatis," ujar Yon, dikutip pada Kamis (26/3/2026).
Menolak Dikte 'Board of Peace'
Yon menjelaskan bahwa AS dan Israel sempat mencoba melakukan intervensi terselubung dalam suksesi kepemimpinan di Iran. Washington dan Tel Aviv menginginkan figur yang bisa dikonsultasikan atau "diizinkan" oleh mereka. Namun, Teheran justru memilih jalan sebaliknya dengan menghadirkan sosok yang memiliki ikatan emosional kuat dengan garis perjuangan sebelumnya.
"Amerika menginginkan Iran total surrender ya, total submission. Tetapi Iran membalasnya dengan total war gitu ya, lawan dulu gitu ya, lihat reaksi mereka," tegas Yon.
Ia menambahkan bahwa pemimpin baru ini memiliki hubungan darah langsung dengan pemimpin sebelumnya yang menjadi target serangan AS–Israel. Hal ini membuat peluang negosiasi menjadi sangat tipis karena adanya beban emosional dan ideologis yang besar.
"Pasti secara emosional ya dia nggak mau dong untuk mengorbankan nyawa orang tuanya, keluarganya untuk negosiasi begitu. Jadi kalau mau dirudal lagi ya Mujtaba sudah siap-siap untuk dirudal gitu ya, dia sudah menyerahkan jiwanya dengan berbagai macam kemungkinan," imbuhnya.
Pintu Negosiasi Tertutup
Berbeda dengan negara-negara Arab yang mengambil jalan normalisasi melalui Abraham Accords, Iran di bawah kepemimpinan baru ini diprediksi akan semakin memperkuat poros perlawanan (resistance).
Yon melihat kehadiran pemimpin bertipe "panglima perang" ini akan memberikan semangat baru bagi milisi-milisi di kawasan, mulai dari Hezbollah di Lebanon hingga Houthi di Yaman.
Baca Juga: 4 Ucapan Kontroversial Trump di Depan Donatur Partai Republik: Serang Media AS hingga Obama
Saat ditanya mengenai kemungkinan berakhirnya perang dalam waktu dekat, Yon memberikan analisis yang pesimistis terkait jalur diplomasi.
"Kalau membayangkan akan ada negosiasi dalam waktu dekat saya kira tidak. Kondisi sekarang kalau kita lihat fase tensi sedang naik. Maka pola perlawanan saya melihat dengan hadirnya Mojtaba akan semakin kuat gitu ya, memberikan semangat untuk terus melawan tanpa membuka pintu negosiasi," pungkas Yon.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
4 Ucapan Kontroversial Trump di Depan Donatur Partai Republik: Serang Media AS hingga Obama
-
Geopolitik Memanas, Pemerintah Klaim Ekonomi RI Tetap Tangguh
-
Operasi Senyap Intelijen Iran: 14 Mata-mata AS-Israel Ditangkap di 4 Provinsi
-
Bongkar Strategi Iran Lawan AS-Israel, Pengamat: Tak Perlu Menang, Bertahan Saja Sudah Sukses
-
Donald Trump Klaim Ditawari Iran Jadi Ayatollah: Tapi Saya Tolak
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Firdaus Oiwobo Sudah Diperiksa! Polisi Dalami Kasus Penghinaan Tiyo Ardianto ke Presiden Prabowo
-
Prabowo Pantau Kasus 3 Peserta SPPI Tewas saat Latsarmil, Pemerintah Siapkan Evaluasi
-
Cegah Badai PHK Akibat Harga Gas, Dasco Pastikan Pemerintah Berpihak pada Buruh
-
Dulu Dicibir Kini Dipuji, Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen di Survei Kompas
-
Detik-detik Gempa Venezuela Mengguncang Pesawat di Bandara Simon Bolivar
-
Pendanaan MBG Dinilai Langgar Konstitusi, BEM UI Ajukan Amicus Curiae ke MK
-
BPKH Buka Rekrutmen Terbuka 2026: Sediakan 9 Posisi Strategis, Cek Syaratnya di Sini
-
Resmi! Brigjen Yulius Audie Sonny Latuheru Jabat Kapolda Papua Barat, Ini Sosoknya
-
Jokowi Disebut Bawa Misi Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode, Apa Kata Istana?
-
Tilap Rp7,6 Miliar, Duo Penipu Haji Mujamalah VIP Diringkus Sebelum Kabur ke Luar Negeri