News / Internasional
Senin, 30 Maret 2026 | 10:50 WIB
Tentara Amerika Serikat (AFP)
Baca 10 detik
  • Militer Iran mengancam akan memusnahkan pasukan Amerika Serikat jika nekat melakukan invasi darat.

  • Letnan Kolonel Zolfaqari menyebut rencana serangan darat Donald Trump hanyalah sebuah khayalan belaka.

  • Iran telah menyiagakan pasukan di Selat Hormuz untuk membalas agresi militer Amerika Serikat.

Suara.com - Perang di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih menyusul ancaman serius dari angkatan bersenjata Iran.

Pihak Teheran menegaskan bahwa setiap upaya serangan darat oleh Amerika Serikat hanya akan memicu bencana besar.

Militer Iran bahkan menyamakan kehadiran tentara Amerika sebagai santapan bagi predator di perairan strategis mereka.

“Pasukan Amerika akan menjadi makanan lezat bagi hiu-hiu Teluk Persia,” ungkap perwakilan militer Iran dalam pernyataan resminya.

Peringatan ini menjadi sinyal kuat bahwa kesiagaan personel di perbatasan sudah mencapai level tertinggi sekarang.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia menyatakan kesiapan penuh untuk merespons segala bentuk provokasi dari Washington.

Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari menegaskan bahwa pihaknya saat ini sedang mengawasi setiap pergerakan musuh secara detail.

Dirinya menyebutkan bahwa militer Iran kini sedang melakukan proses kalkulasi waktu untuk menghancurkan kekuatan lawan.

“Militer Iran menghitung mundur saat-saat untuk pemusnahan pasukan AS jika ada serangan darat atau upaya pendudukan yang diluncurkan,” tegasnya.

Baca Juga: Tak Ada 'Hilal' Perang AS - Israel vs Iran Berakhir

Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas retorika yang kerap dilontarkan oleh pemimpin Amerika Serikat.

Pemerintah Iran menilai ambisi untuk menguasai wilayah kedaulatan mereka merupakan sebuah kekeliruan logika yang besar.

Zolfaqari merujuk pada ancaman yang berulang kali disampaikan terkait pengambilalihan beberapa pulau di wilayah perairan Teluk.

“Trump… telah berulang kali mengancam Iran dengan operasi darat dan pendudukan beberapa pulau di Teluk Persia,” katanya.

Ia juga menambahkan dengan nada menyindir bahwa rencana agresi tersebut sebenarnya tidak lebih dari sekadar khayalan belaka.

Iran mengklaim telah menyiapkan skenario terburuk bagi setiap penjajah yang mencoba menginjakkan kaki di tanah mereka.

Pihak Teheran merasa yakin bahwa langkah militer Amerika Serikat hanya akan membawa kerugian permanen bagi mereka sendiri.

Zolfaqari menjelaskan bahwa pasukan mereka sudah sangat tidak sabar untuk membuktikan ketangguhan pertahanan nasional yang ada.

Ia menekankan bahwa agresi dan pendudukan tidak akan menghasilkan apa pun selain penahanan yang memalukan, pemotongan anggota tubuh, dan hilangnya para agresor.

Komentar pedas ini muncul setelah adanya isu mengenai persiapan operasi darat oleh Pentagon selama beberapa pekan ke depan.

Skenario tersebut diprediksi akan dijalankan apabila serangan udara yang dilakukan saat ini dianggap gagal mencapai target.

Guna mengantisipasi serangan mendadak, Iran telah mempertebal barisan pertahanan di berbagai wilayah titik-titik krusial negara.

Fokus penguatan militer dilakukan di perbatasan barat daya dengan Irak serta area tenggara yang berdekatan dengan Selat Hormuz.

Komandan Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga telah mengeluarkan instruksi tegas kepada pasukannya di lapangan.

Pihak IRGC memastikan bahwa aliansi Amerika Serikat dan Israel akan menerima balasan yang setimpal atas tindakan mereka.

Iran menuding bahwa kepemimpinan Amerika saat ini telah menjerumuskan tentara mereka ke dalam situasi yang sangat berbahaya.

Ebrahim Zolfaqari memberikan penilaian yang sangat tajam terhadap kredibilitas Presiden Amerika Serikat di mata dunia internasional.

Ia menyebut Trump sebagai sosok yang membawa pasukannya sendiri masuk ke dalam jebakan maut di wilayah asing.

Zolfaqari mengecam Trump dengan menggambarkannya sebagai pembohong terbesar di antara para presiden di dunia dan sama sekali tidak dapat diandalkan.

Menurutnya, keputusan tersebut telah membawa pasukan AS masuk ke dalam kondisi yang ia sebut sebagai rawa kematian.

Kekhawatiran akan jatuhnya korban jiwa juga disebut membuat tentara Amerika mulai mencari perlindungan di fasilitas warga sipil.

Iran menilai kebijakan militer yang diambil oleh Washington tidak didasari oleh pertimbangan yang matang atau stabil secara psikologis.

Zolfaqari berpendapat bahwa kepemimpinan saat ini telah menyerahkan kendali perang kepada individu yang tidak memiliki keseimbangan emosional.

Ia menyatakan bahwa tindakan tersebut sudah memberikan efek kerusakan masif bagi kawasan Amerika, Eropa, hingga wilayah Asia Barat.

Krisis ini sendiri semakin memburuk sejak pecahnya konflik terbuka tanpa provokasi yang terjadi pada akhir Februari lalu.

Kejadian tersebut telah merenggut nyawa Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, beserta sejumlah petinggi militer lainnya.

Meski sebelumnya sempat terjadi proses negosiasi terkait program nuklir sipil, namun eskalasi militer tetap tidak terhindarkan lagi.

Iran tidak tinggal diam atas serangan yang membunuh para pemimpin mereka dan segera melakukan serangan balasan masif.

Gelombang rudal serta pesawat tanpa awak telah diluncurkan menuju wilayah yang dikuasai Israel serta pangkalan Amerika.

Aset-aset strategis milik Amerika Serikat di berbagai negara regional kini menjadi target utama dalam operasi balasan tersebut.

Situasi di lapangan terus berkembang dengan kedua belah pihak yang saling memegang kendali atas senjata pemusnah mereka.

Load More