- Pengamat UMY, Zuly Qodir, menilai polemik ijazah Jokowi membuang waktu dan menjadi ajang adu kuat penggugat melawan UGM.
- Qodir menekankan energi bangsa lebih penting dialokasikan untuk mengatasi krisis ekonomi dan energi yang mendesak saat ini.
- Tuntutan pembatalan kepemimpinan Jokowi dianggap mustahil karena masa jabatan presiden telah selesai dan tidak berdampak langsung pada rakyat.
Suara.com - Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menyoroti polemik ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang hingga kini masih terus bergulir di ruang publik. Menurutnya hal itu hanya buang-buang waktu saja.
Ia menilai persoalan ini telah berkembang menjadi ajang "adu kuat" antara pihak penggugat baik Roy Suryo dan dr Tifa dengan pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) maupun pihak Jokowi sendiri.
Qodir memandang bahwa energi bangsa saat ini seharusnya dialokasikan untuk menangani permasalahan yang jauh lebih mendesak. Misalnya krisis ekonomi dan krisis energi yang sudah di depan mata.
"Menurut saya menjadi tidak produktif, ada hal yang lebih penting yang kemudian tidak diurus, bahwa kalau ada kebohongan publik itu adalah sesuatu kejahatan tetapi kali ini kita berhadapan dengan masalah yang jauh lebih besar," kata Qodir, saat dihubungi Suara.com, Senin (30/3/2026).
Lebih lanjut, Qodir menekankan bahwa secara kalkulasi politik, tuntutan para penggugat yang ingin menganulir kepemimpinan Jokowi adalah hal yang mustahil.
Mengingat masa jabatan Jokowi sebagai Wali Kota, Gubernur, hingga Presiden dua periode sudah sepenuhnya selesai. Sehingga perdebatan ini dianggap kehilangan relevansi politik yang signifikan bagi masyarakat luas.
"Kalau kemudian apa yang dilakukan oleh pihak Roy Suryo misalnya tuntutannya adalah menghukum, tidak mengakui kepresidenan kan enggak mungkin, wong sudah selesai kepemimpinan Pak Jokowi. Jadi untuk apa," tandasnya.
Qodir turut menyoroti bagaimana perseteruan ini bisa berlangsung tanpa ujung jika hanya didasarkan pada keinginan untuk mendapatkan pengakuan salah.
"Kalau Pak Jokowi tidak mau mengakui ya berarti tidak selesai-selesai. Sampai kapan? Ya mungkin sampai dua pihak ini meninggal dunia dua-duanya, artinya memang ini akan pada posisi kuat-kuatan," ucapnya.
Baca Juga: Beathor: Rismon Sianipar Kini 'Minta Dirangkul' dalam Polemik Ijazah Joko Widodo
Terkait dampak bagi masyarakat, ditegaskan Qodir, polemik ini tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan rakyat banyak.
Status ijazah tersebut tidak akan mengubah fakta sejarah kepemimpinan yang telah berjalan.
Ia justru mendorong agar publik dan penyelenggara pemilu mengambil pelajaran agar lebih teliti di masa depan guna menghindari kegaduhan serupa.
"Dampak secara langsung untuk masyarakat untuk rakyat tidak ada sih kalau saya merasa. Jadi secara langsung ya untuk rakyat untuk yang akan memilih (di Pemilu mendatang) tidak ada karena apa yang dituntutkan semuanya sudah terjadi," tandasnya.
Dalam kesempatan ini, pihaknya merasa publik sudah mulai lelah dengan narasi yang terus diulang-ulang di media massa tanpa ada kejelasan arah. Sementara negara sedang menghadapi tantangan global yang berat.
"Masih ada banyak masalah yang jauh lebih penting daripada soal masalah ijazah Jokowi itu yang menurut saya sudah tidak relevan atau tidak penting lagi buat saya ya. Secara publik saya kira juga tidak terlalu penting ini," ujarnya.
Qodir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mulai mengalihkan fokus pada isu-isu strategis.
Berita Terkait
-
Dikabarkan Menyerah dan Merapat ke Solo, dr Tifa Beri Jawaban Menohok Lewat 'Senjata' Baru!
-
Eks Wakapolri Sebut Restorative Justice Kasus Ijazah Jokowi Cacat Hukum
-
Beathor: Rismon Sianipar Kini 'Minta Dirangkul' dalam Polemik Ijazah Joko Widodo
-
Akui Ijazah Jokowi Asli, Rismon Bakal Tulis Buku Antitesis dari "Jokowi's White Paper"
-
Temui Gibran di Istana Wapres, Kini Rismon Sianipar Akui Ijazah Jokowi 100 Persen Asli
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
Terkini
-
Sikat Jalur Maut! KAI Daop 1 Jakarta Targetkan Tutup 40 Perlintasan Liar di 2026
-
Tren Miris di Karawang: Jadi Pengedar demi Nyabu Gratis, 41 Pelaku Diringkus Polisi!
-
Dikenal Religius, Pedagang Rujak di Duri Kepa Digerebek Warga usai Diduga Cabuli Siswi SD
-
Geger! Pria Tewas Bersimbah Darah di Kampung Ambon Usai Cekcok Mulut, Warga: Lukanya Banyak Sekali..
-
Kasus Mafia Emas PT SJU, Bareskrim Tetapkan Anak Bos Besar Sebagai Tersangka, Ini Sosoknya
-
Dihantam Innova di Lampu Merah Pesing, Pemotor Supra Terpental hingga Tewas di Tempat
-
Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
-
Jangan Cuma Nakhoda, DPR Desak Bongkar Mafia di Balik Tragedi Kapal PMI Malaysia
-
Bantah Pemerintah Larang Nobar Film Pesta Babi, Menko Yusril: Silakan Tonton dan Debat!
-
Italia Murka Israel Serang Pasukan Perdamaian PBB yang Tewaskan Tentara Indonesia