News / Internasional
Senin, 30 Maret 2026 | 15:38 WIB
Foto-foto peserta aksi No Kings di seantero negara bagian Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026). Aksi yang diikuti sedikitnya 8 juta warga AS ini untuk memprotes beragam kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk perang melawan Iran. [Suara.com/X]
Baca 10 detik
  • Sedikitnya delapan juta warga Amerika Serikat mengikuti gerakan "No Kings" pada Sabtu (28/3/2026) untuk memprotes kebijakan Trump.
  • Demonstrasi ini menyasar isu otoriterianisme, imigrasi, iklim, serta perang ilegal AS terhadap Iran di berbagai negara bagian.
  • Gerakan protes meluas hingga Eropa, menunjukkan oposisi signifikan terhadap kepemimpinan Trump menjelang pemilihan paruh waktu mendatang.

Suara.com - Sedikitnya 8 juta warga Amerika Serikat bergerak serempat, berdemonstrasi dalam gerakan No Kings, untuk mengkritik beragam kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk perang ilegal terhadap Iran.

Dikutip dari Euronews, Senin (30/3/2026), jutaan orang memadati jalan-jalan utama di seluruh penjuru negeri—dan sebagian di berbagai belahan dunia—pada hari Sabtu (28/3) akhir pekan lalu, untuk memprotes Presiden AS Donald Trump.

Aksi ini menyasar berbagai isu krusial, mulai dari gaya kepemimpinan yang dianggap otoriter, kebijakan imigrasi garis keras, pengingkaran terhadap perubahan iklim, hingga keterlibatan AS dalam perang dengan Iran yang tengah memanas.

Pihak penyelenggara mengklaim setidaknya delapan juta orang berpartisipasi dalam lebih dari 3.300 acara yang tersebar di seluruh 50 negara bagian AS.

Aksi ini menyentuh berbagai wilayah, mulai dari kota-kota metropolis besar, daerah pinggiran, hingga wilayah pedesaan yang secara tradisional jarang tersentuh aksi massa skala besar.

Secara umum, protes berlangsung damai di sebagian besar titik. Namun, kepolisian setempat melaporkan adanya beberapa penangkapan di Los Angeles dan Denver.

Demonstrasi ini menandai kali ketiga dalam kurang dari setahun rakyat AS turun ke jalan sebagai bagian dari gerakan akar rumput yang disebut No Kings atau Tanpa Raja.

Gerakan No Kings telah muncul sebagai oposisi paling nyata dan vokal terhadap Trump, sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.

Protes nasional pertama terjadi Juni lalu pada ulang tahun Trump ke-79, bertepatan dengan parade militer yang ia organisasikan di Washington.

Baca Juga: Mengenal Fitur Aplikasi The White House yang Dirilis Donald Trump, Tapi Picu Kecaman

Aksi kedua pada Oktober tahun lalu menarik sekitar tujuh juta pengunjuk rasa. Kini, jumlah tersebut terus membengkak seiring dengan meningkatnya ketegangan global.

New York dan Washington Jadi Pusat Perlawanan

Di New York City, puluhan ribu orang berkumpul pada hari Sabtu. Di antara kerumunan tersebut, terlihat aktor peraih Oscar, Robert De Niro, yang memberikan orasi tajam.

Robert De Niro menyebut Presiden AS sebagai "ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan kita".

Pernyataan De Niro ini disambut sorak-sorai massa yang memenuhi jalanan Manhattan.

Sementara itu, di ibu kota Washington, ribuan pengunjuk rasa memadati National Mall. Mereka membawa spanduk-spanduk besar bertuliskan "Trump Must Go Now" (Trump Harus Pergi Sekarang) dan "Fight Fascism" (Lawan Fasisme).

Kekecewaan terhadap komunikasi publik gedung putih menjadi salah satu pemicu utama kemarahan warga.

"Dia terus berbohong dan berbohong dan berbohong dan berbohong, dan tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini adalah situasi mengerikan yang kita alami," ujar salah satu pengunjuk rasa kepada kantor berita AFP.

Negara yang Terbelah: MAGA vs No Kings

Aksi besar-besaran ini menyoroti jurang politik yang semakin dalam di Amerika Serikat. Di satu sisi, Trump sangat dipuja dalam gerakan "Make America Great Again" (MAGA).

Namun di sisi lain, ia sangat dibenci oleh lawan-lawannya yang mengecam kegemarannya memerintah melalui dekrit eksekutif, penggunaan sistem peradilan untuk menuntut lawan politik, serta pengabaiannya terhadap krisis iklim demi obsesi pada bahan bakar fosil.

Banyak penentangnya juga merasa tidak senang dengan penghapusan program keragaman ras dan gender, serta unjuk kekuatan militer AS di luar negeri.

Padahal, saat kampanye, Trump mencitrakan diri sebagai sosok pencinta damai yang akan menghindari perang. Kini,

keterlibatan aktif AS dalam konflik di Iran dan Timur Tengah menjadi titik balik bagi banyak pemilihnya yang merasa dikhianati.

Gedung Putih sendiri menepis aksi unjuk rasa tersebut. Seorang juru bicara menggambarkan demonstrasi itu sebagai produk dari "jaringan pendanaan kiri" yang kekurangan dukungan publik yang nyata.

"Satu-satunya orang yang peduli dengan Sesi Terapi Sindrom Gangguan Trump ini adalah para wartawan yang dibayar untuk meliputnya," tambah juru bicara Abigail Jackson dalam sebuah pernyataan resmi.

Senada dengan Gedung Putih, Komite Kongres Republik Nasional (NRCC) turut mengeluarkan pernyataan pedas.

Juru bicara mereka mengatakan, "Aksi Benci Amerika ini adalah tempat di mana fantasi paling kejam dan gila dari kelompok kiri jauh mendapatkan mikrofon."

Namun, penyelenggara aksi mencatat poin data yang mengejutkan: dua pertiga dari mereka yang menghadiri rapat umum pada hari Sabtu tidak tinggal di kota-kota besar yang biasanya merupakan benteng Partai Demokrat.

Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap Trump mulai merambah ke basis massa di wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan pendukung kuatnya.

Gelombang Protes Merambat Hingga Eropa

Sentimen anti-Trump tidak hanya terbatas di dalam negeri Amerika. Di Eropa, sekitar 20.000 orang berbaris di bawah penjagaan ketat polisi di kota-kota seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma pada hari yang sama.

Di Paris, ratusan orang—sebagian besar warga Amerika yang tinggal di Prancis—bersama serikat buruh dan organisasi hak asasi manusia berkumpul di Bastille.

“Saya memprotes semua perang Trump yang ilegal, tidak bermoral, sembrono, dan tidak kompeten yang tidak ada habisnya,” ujar penyelenggara No Kings Paris, Ada Shen.

Di Roma, ribuan orang memprotes serangan AS dan Israel ke Iran. Mereka juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mengkritik Perdana Menteri Giorgia Meloni.

Sementara di London, massa memprotes perang di Iran dengan membawa spanduk bertuliskan “stop the far right” (hentikan sayap kanan jauh) dan “stand up to racism” (lawan rasisme).

Momentum protes ini terjadi di saat yang krusial. Dengan pemilihan paruh waktu (midterm elections) bulan November yang sudah di depan mata dan tingkat persetujuan presiden (approval rating) merosot di bawah 40 persen, Partai Republik berada dalam bahaya kehilangan kendali atas kedua kamar di Kongres.

Gelombang No Kings ini diperkirakan akan menjadi faktor penentu arah politik Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan.

Load More