-
Poros Perlawanan Iran menyiapkan kejutan militer strategis di wilayah Selat Bab Al Mandab.
-
Penutupan jalur maritim ini berpotensi memicu krisis energi global dan kenaikan harga minyak.
-
Houthi Yaman resmi bergabung dengan Iran untuk menekan kekuatan militer Amerika Serikat-Israel.
Suara.com - Situasi perang di kawasan Timur Tengah diprediksi akan mengalami eskalasi besar dalam waktu dekat.
Seorang narasumber dari pihak Iran memberikan indikasi kuat mengenai adanya pergerakan di Selat Bab Al Mandab.
Langkah strategis ini muncul di tengah ketegangan antara Iran melawan blok Amerika Serikat dan Israel.
Konflik bersenjata tersebut kini telah menginjak durasi bulan kedua tanpa ada tanda gencatan senjata.
Informasi ini disampaikan oleh sumber internal kepada kantor berita Tasnim yang merupakan media semi-resmi Iran.
Pihak Poros Perlawanan dikabarkan tengah menyiapkan sebuah manuver yang tidak terduga bagi pihak lawan.
Aliansi milisi yang menjadi sekutu Iran tersebut dipastikan bakal memberikan guncangan baru di wilayah perairan.
"Kejutan baru dari Pasukan Perlawanan akan terungkap dalam beberapa hari mendatang," kata sumber tersebut, seperti dilaporkan Tasnim.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kekuatan aliansi pro-Iran tetap solid dan tidak terpecah belah.
Baca Juga: Ejek Donald Trump, Iran Serukan Persatuan Negara Arab untuk Usir Kekuatan AS dari Timur Tengah
Harapan musuh untuk melihat kehancuran koordinasi internal mereka diklaim telah menemui kegagalan total.
Keterlibatan angkatan bersenjata Yaman menjadi titik balik penting dalam peta peperangan di kawasan tersebut.
Masuknya Yaman dalam barisan tempur dianggap merusak skema keamanan yang dibangun oleh militer Israel.
Sejak awal pertempuran, Amerika Serikat dan Israel berusaha keras memutus jalur komunikasi antar milisi regional.
Namun, upaya provokasi dan adu domba tersebut justru semakin mempererat hubungan antara Iran dan mitranya.
Upaya diplomatik dan militer dari pihak Barat untuk mengisolasi Iran disebut tidak membuahkan hasil.
Ketegangan fisik secara terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat telah meletus sejak akhir Februari lalu.
Hizbullah di Lebanon juga secara aktif terlibat dalam kontak senjata melawan pasukan militer Israel.
Dampak dari perang ini meluas hingga melibatkan berbagai negara di semenanjung Arab secara langsung.
Fasilitas militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi sasaran utama dalam rangkaian serangan udara.
Iran juga telah mengambil tindakan tegas dengan mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Ancaman pembakaran kapal yang melintas tanpa otoritas menjadi peringatan keras bagi pelayaran internasional.
Kini, memasuki pekan kelima, efek kerusakan mulai merembet pada sektor vital energi dunia.
Serangan terhadap infrastruktur minyak menyebabkan fluktuasi harga bahan bakar yang sangat ekstrem di pasar global.
Kecemasan mengenai krisis energi kini mulai menghantui pemerintahan di Washington dan juga Tel Aviv.
Skenario pemblokiran Selat Bab Al Mandab diyakini akan memperburuk stabilitas ekonomi internasional secara signifikan.
Secara geografis, selat ini merupakan jalur sempit sepanjang 32 kilometer yang memisahkan Yaman dengan Djibouti.
Titik ini adalah urat nadi utama yang menghubungkan wilayah Samudra Hindia menuju Laut Mediterania.
Setiap kapal logistik harus melewati Terusan Suez setelah berhasil melintasi titik krusial di Bab Al Mandab.
Data menunjukkan sekitar 12 persen dari total perdagangan minyak bumi dunia bergantung pada jalur ini.
Volume pengiriman minyak melalui selat ini diperkirakan mencapai angka 4,2 juta barel setiap harinya.
Gangguan pada titik navigasi ini dipastikan akan memutus rantai pasok antara benua Eropa dan Asia.
Kapal kargo terpaksa harus mengambil rute jauh dengan memutar melewati pesisir benua Afrika.
Konsekuensi dari pengalihan rute tersebut adalah keterlambatan pengiriman barang selama dua minggu ke depan.
Kelompok Houthi di Yaman telah mengeluarkan ancaman resmi untuk menutup akses pelayaran di sana.
Langkah ini diambil sebagai bentuk tekanan militer setelah mereka resmi berkoalisi dengan pihak Iran.
Mohammed Mansour selaku Wakil Menteri Informasi Houthi mengonfirmasi kemungkinan besar penutupan jalur maritim tersebut.
Aksi ini bertujuan untuk memberikan tekanan politik dan ekonomi yang maksimal bagi Amerika Serikat.
Dunia kini menanti bagaimana langkah konkret dari Poros Perlawanan dalam merealisasikan ancaman tersebut di lapangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Iran Tarik Biaya Tambahan Kapal Lewat Selat Hormuz, Teman AS - Israel Haram Melintas
-
Polda Metro Bungkam Ditanya Alasan Pelimpahan Kasus Andrie Yunus ke TNI
-
Apa itu Demo "No Kings" di Amerika? Gerakan Massal Warga Turunkan Donald Trump
-
Eks Anggota BAIS Bongkar Kejanggalan Kasus Andrie Yunus: Operasi Liar untuk Diskreditkan Presiden
-
Polisi Klarifikasi Dugaan Prostitusi Sesama Jenis di Tambora: Bukan Prostitusi, Tapi Suka Sama Suka
-
Indonesia Menuju 300 Juta Penduduk, Siapkah Negara Menghadapinya?
-
Dasco Sebut Tak Ada Pembatasan Pembelian Pertalite dan Pertamax: Stok BBM Kita Cukup
-
Terungkap! Motif Keji Pembunuhan Mayat dalam Freezer di Bekasi, Gara-gara Tolak Ajakan Merampok
-
BGN Tegaskan 93 Persen Anggaran MBG Langsung untuk Masyarakat, Bantah Isu Dana Rp335 Triliun
-
Kasus Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus, Polisi Belum Temukan Keterlibatan Warga Sipil