- Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah, meminta pemerintah menghentikan total kompensasi listrik bagi orang kaya dan industri demi menjaga ketahanan fiskal.
- Penghentian kompensasi kelompok mampu tersebut diyakini dapat menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dan mencapai pertumbuhan ekonomi.
- Said Abdullah juga mengusulkan realokasi belanja prioritas dan bauran kebijakan ketat antara BI dan Pemerintah sebagai langkah strategis lainnya.
Suara.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, meminta pemerintah mengambil langkah tegas dalam menjaga ketahanan fiskal di tengah tekanan geopolitik global dan isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Salah satu poin krusial yang ia tekankan adalah penghentian total pemberian kompensasi listrik bagi kalangan orang kaya dan sektor industri.
Ia menilai, di tengah situasi sulit yang mengancam sektor riil, pemerintah harus memiliki sensitivitas tinggi dalam mengelola APBN agar tetap sehat, stabil, dan berkelanjutan.
"Saya menghimbau pemerintah, minta supaya kompensasi listrik terhadap orang kaya dan industri stop. Stop deh! Jangan diteruskan," tegas Said Abdullah saat ditemui di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Politisi senior PDI Perjuangan ini mengkritik adanya ketimpangan istilah dan perlakuan antara masyarakat miskin dan kelompok mampu dalam postur anggaran negara.
Ia menyoroti beban kompensasi yang selama ini masih mengalir ke kelompok yang seharusnya tidak lagi dibantu oleh negara.
"Masih ada di kompensasi, padahal Banggar sudah teriak sejak 2017. Industri juga masih. Kalau orang kaya namanya kompensasi, giliran orang miskin namanya subsidi. Dari sejak awalnya sudah rasis. Itu yang tidak boleh kita lakukan," ujarnya.
Menurutnya, jika kompensasi untuk orang kaya dan industri tersebut dihentikan, ia optimis defisit APBN akan tetap terjaga di level yang aman.
"Kalau itu dilakukan oleh pemerintah, saya yakin APBN kita itu masih akan di bawah 3% defisitnya dan pertumbuhan akan bisa dicapai," imbuhnya.
Baca Juga: IESR: Elektrifikasi Jadi Tameng APBN dari Kenaikan Harga Minyak
Selain menghentikan kompensasi bagi orang kaya, Said mengusulkan empat langkah strategis lainnya bagi pemerintah:
- Realokasi Belanja: Pemerintah harus berani melakukan realokasi terhadap belanja prioritas yang dinilai tidak mendesak.
- Bauran Kebijakan: Diperlukan kerja sama erat antara Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah (fiskal dan moneter) untuk menjaga inflasi dan depresiasi rupiah.
- Penggunaan SAL: Said mempersilakan pemerintah mempergunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) secara terukur. Saat ini, SAL Indonesia masih berada di angka Rp370 triliun.
- Optimalisasi BA BUN: Memanfaatkan anggaran di Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN), termasuk dana Badan Gizi Nasional sebesar Rp67 triliun jika diperlukan untuk menjaga stabilitas.
Meski meminta kompensasi bagi orang kaya dihentikan, Said memberikan pengecualian bagi kelompok menengah. Menurutnya, kelompok ini masih memerlukan insentif agar daya beli mereka tidak ambruk.
"Tapi untuk (kalangan) menengah, kompensasi tetap dong... masa bagian menengah ini tidak kita kasih insentif, kan tidak mungkin," jelasnya.
Lebih lanjut, Said mengingatkan bahwa seluruh lembaga negara harus memiliki satu visi yang sama untuk menghadapi tantangan ekonomi internasional, termasuk tekanan dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's dan Fitch Ratings.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?