-
Amerika Serikat menolak keras tuntutan Iran terkait pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz.
-
Donald Trump berencana menyudahi operasi militer meskipun Selat Hormuz masih dalam kondisi terblokade.
-
Fokus Washington beralih pada pelemahan kekuatan laut dan pembatasan cadangan rudal jarak jauh Iran.
Suara.com - Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memuncak terkait status jalur pelayaran strategis dunia.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memberikan pernyataan tegas mengenai posisi Washington dalam negosiasi terbaru.
Pihak Gedung Putih menolak keras keinginan Teheran yang meminta pengakuan kedaulatan penuh atas wilayah Selat Hormuz.
Penolakan ini muncul di tengah upaya mediasi yang sedang dilakukan oleh berbagai pihak untuk meredam konflik.
Kondisi di Timur Tengah saat ini berada pada titik nadir setelah serangkaian kontak senjata terjadi.
"Pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz bukan hanya tidak dapat diterima oleh kami, tetapi juga oleh komunitas internasional. Tidak ada negara yang akan menyetujuinya," kata Marco Rubio kepada Al Jazeera, Senin (30/3).
Pernyataan tersebut merespons dokumen tuntutan yang dikirimkan oleh pemerintah Iran sebagai syarat perdamaian.
Sebelumnya utusan khusus Steve Witkoff telah menyodorkan lima belas poin rencana damai melalui perantara Pakistan.
Meskipun sempat diklaim mendapat sinyal positif namun Kementerian Luar Negeri Iran justru berkata sebaliknya.
Baca Juga: Bahlil: RI Dapat Pasokan Minyak Baru Pengganti Timur Tengah
Pihak Iran menganggap proposal yang diajukan oleh Amerika Serikat tersebut sangat tidak masuk akal.
Kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa Teheran telah mengirimkan balasan resmi dan menunggu sikap dari Washington.
Iran dikabarkan meminta kompensasi berupa penghentian seluruh pertempuran di garis depan yang melibatkan sekutu mereka.
Selain itu poin utama yang menjadi batu sandungan adalah permintaan pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz.
Perselisihan ini merupakan kelanjutan dari aksi militer besar-besaran yang terjadi pada akhir Februari lalu.
Saat itu Amerika Serikat bersama Israel menggempur sejumlah titik vital di wilayah Teheran dan sekitarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Membangun Desa dari Manusianya: Kisah Bli Nyoman dan Desa Sejahtera Astra Les
-
Horor Digital di Kampus Surabaya: Saat AI Disalahgunakan untuk 'Menelanjangi' Harga Diri Mahasiswi
-
Standar Baru Industri Mobil Bekas Focus Motor Hadir di Kawasan Bintaro
-
Bukan Honor Nyanyi! Bebizie Terima Aliran Uang Tambang Terkait Kasus Rita Widyasari
-
Hornet Diminta Dihapus dari App Store dan Play Store, Komdigi Ungkap Masalahnya
-
Jangan Asal Timpa, Dokter Ungkap Cara Re-apply Saat Pakai Tinted Sunscreen
-
Menelisik Garam Palungan Desa Les: Saat Warisan Leluhur Bertahan di Tengah Modernisasi
-
Sinyal HP Tumbang, 200 BTS Rusak: Begini Update Gempa NTT
-
Data Sering Nyangkut, DPRD DKI Minta Mekanisme Sanggah Manual untuk Desil Warga
-
Cara Pakai Tinted Sunscreen Yang Benar Ala dr Zie Untuk Samarkan Flek Hitam