- Serangan militer Israel di Lebanon selatan telah menewaskan prajurit UNIFIL, termasuk tiga anggota TNI, akibat pelanggaran hukum internasional.
- Ambisi Israel menggeser zona penyangga hingga Sungai Litani secara nyata meningkatkan risiko keselamatan bagi seluruh pasukan perdamaian dunia.
- Pakar menyarankan Indonesia melakukan konsolidasi diplomatik global alih-alih menarik diri secara sepihak untuk menekan Israel mematuhi mandat PBB.
Suara.com - Tekanan militer Israel di wilayah Lebanon selatan yang menyebabkan jatuhnya korban dari personel penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) memicu reaksi keras dari kalangan akademisi.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Idham Badruzaman, menilai perubahan strategi militer Israel kini secara nyata meningkatkan risiko keselamatan bagi pasukan perdamaian dunia, termasuk prajurit TNI.
Sorotan ini mengemuka menyusul gugurnya tiga prajurit TNI dalam menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Idham menegaskan bahwa insiden tersebut membuktikan adanya pelanggaran hukum internasional yang serius oleh pihak Israel.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah ambisi Israel untuk menggeser zona penyangga (buffer zone) dari garis biru (Blue Line) menuju Sungai Litani.
"Padahal keberadaan pasukan perdamaian berada di antara dua wilayah tersebut. Jika pergeseran itu dipaksakan, maka keberadaan pasukan UNIFIL tidak terhindarkan akan terdampak," ujar Idham dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).
Dalam perspektif hukum internasional maupun hukum humaniter, Idham menekankan bahwa pasukan penjaga perdamaian bukanlah objek sah dalam peperangan.
Keberadaan mereka di daerah konflik bertujuan untuk menjaga zona penyangga dan mencegah eskalasi antara kelompok Hizbullah dan militer Israel.
Serangan yang mengenai pasukan PBB dikategorikan sebagai pelanggaran prinsip dasar perlindungan terhadap non-kombatan.
Menurutnya, komunitas internasional harus memberikan perhatian khusus agar perlindungan terhadap pasukan perdamaian diperkuat secara normatif dan praktis di lapangan.
Baca Juga: Gugur Akibat Serangan Artileri di Lebanon, Jenazah 3 Prajurit TNI Tiba di Bandara Soetta Sore Ini
"Secara normatif, jika mereka terdampak serangan, itu jelas melanggar hukum internasional. Pasukan perdamaian tidak boleh menjadi target," tegasnya.
Opsi Penarikan Pasukan Harus Melalui Koordinasi Global
Terkait desakan untuk menarik mundur pasukan Indonesia dari Lebanon, Idham menyarankan pemerintah untuk bersikap sangat hati-hati.
Mengingat Indonesia bukan satu-satunya negara kontributor dalam misi UNIFIL, keputusan sepihak dianggap bukan langkah yang bijak secara diplomasi.
Ia menilai, jika Indonesia menarik diri secara mandiri, hal tersebut bisa diartikan sebagai bentuk menyerah kepada tekanan dan tidak sejalan dengan komitmen negara-negara kontributor lainnya.
Sebaliknya, yang dibutuhkan saat ini adalah konsolidasi antarnegara penyumbang pasukan untuk memberikan tekanan diplomatik yang lebih kuat kepada Israel agar menghormati mandat PBB.
Berita Terkait
-
Ribuan Massa Kepung Kedubes AS, Beri Penghormatan untuk 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
-
Panglima TNI Pimpin Pemakaman Mayor Zulmi, Pahlawan Perdamaian yang Gugur di Misi UNIFIL Lebanon
-
Suasana Haru Pemakaman Kopda Anumerta Farizal di TMP Giripeni, Isak Tangis Keluarga Pecah
-
Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
-
Pemakaman Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon Digelar Pagi Ini di TMP Giripeni
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
Pilihan
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
Terkini
-
BRIN Bongkar Misteri Benda Langit di Lampung, Ternyata Sampah Roket China CZ-3B yang Jatuh
-
Pilot F-15 Hilang, AS Putus Asa Hingga Tembaki Wilayah Iran Saat Operasi Penyelamatan
-
Pesan Paskah 2026: Kardinal Suharyo Ajak Umat Keluar dari Kegelapan dan Tetap Menyala dalam Kasih
-
Padati Gereja Katedral, 2.500 Umat dan Tokoh Nasional Khidmat Ikuti Misa Pontifikal Paskah
-
Ribuan Massa Kepung Kedubes AS, Beri Penghormatan untuk 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
-
Dukung Langkah BGN Setop Sementara SPPG, Legislator DPR: Perlu Penindakan dan Pembinaan
-
Panglima TNI Pimpin Pemakaman Mayor Zulmi, Pahlawan Perdamaian yang Gugur di Misi UNIFIL Lebanon
-
Selain Kajari Karo, Kejagung Amankan Kasi Pidsus dan Jaksa Kasus Amsal Sitepu, Terancam Sanksi Berat
-
Buntut Kasus Amsal Sitepu, Intel Kejagung Amankan Kajari Karo!
-
Suasana Haru Pemakaman Kopda Anumerta Farizal di TMP Giripeni, Isak Tangis Keluarga Pecah