News / Internasional
Senin, 06 April 2026 | 06:26 WIB
Tujuh pesawat militer Amerika Serikat dilaporkan hancur selama konflik bersenjata melawan kekuatan militer Iran.
Baca 10 detik

Militer Amerika Serikat kehilangan tujuh pesawat berawak selama berlangsungnya perang melawan pasukan Iran.

Enam personel AS tewas akibat jatuhnya pesawat tanker KC-135 dalam misi Operasi Epic Fury.

Serangan balasan Iran menyasar pangkalan udara di Saudi dan merusak pesawat pengintai E-3 Sentry.

Pesawat jenis KC-135 tersebut mengalami kecelakaan di wilayah Irak yang mengakibatkan enam personel militer AS dinyatakan tewas.

Pihak militer menyatakan bahwa tanker tersebut sedang menjalankan tugas penting dalam rangkaian Operasi Epic Fury yang sangat rahasia.

Insiden Fatal Selama Pelaksanaan Operasi Epic Fury

Operasi Epic Fury sendiri merupakan sandi militer untuk serangan besar-besaran AS terhadap Iran yang telah dimulai sejak 28 Februari.

Dalam sebuah kejadian di udara, pesawat tanker tersebut terlibat insiden dengan armada lain, namun satu pesawat lainnya berhasil mendarat.

Situasi semakin memburuk pada 27 Maret ketika aset udara penting AS dihancurkan oleh Iran saat masih berada di darat.

Satu unit pesawat peringatan dini E-3 Sentry dilaporkan meledak akibat serangan mendadak Iran di Pangkalan Udara Pangeran Sultan.

Pangkalan militer yang berlokasi di Arab Saudi tersebut menjadi target empuk rudal Iran yang menyasar infrastruktur strategis Amerika.

Dampak Serangan Rudal Iran di Pangkalan Saudi

Baca Juga: Spesifikasi Pesawat A-10 Thunderbolt II 'Warthog' Milik AS, Hancur Ditembak Iran

Serangan di pangkalan tersebut mengakibatkan sepuluh anggota militer AS mengalami luka-luka, meski tidak ada laporan mengenai korban jiwa.

Selain E-3 Sentry, satu pesawat tanker milik Angkatan Udara AS dikabarkan mengalami kerusakan serius akibat hantaman proyektil tersebut.

Di sisi lain, kecanggihan jet tempur F-35 juga teruji saat harus melakukan pendaratan darurat setelah diterjang tembakan lawan.

Jet siluman tersebut terkena tembakan yang diduga kuat berasal dari militer Iran saat sedang beroperasi di wilayah Timur Tengah.

Kondisi keamanan regional semakin tidak menentu sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada akhir Februari lalu.

Eskalasi Perang Besar di Kawasan Timur Tengah

Load More