Abbas Araghchi memperingatkan radiasi serangan PLTN Bushehr bisa memusnahkan kehidupan ibu kota negara Teluk.
Serangan beruntun terhadap fasilitas nuklir Iran telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan pekerja.
Rusia mengecam keras aksi militer terhadap instalasi nuklir demi mencegah dampak bencana radiasi global.
Suara.com - Abbas Araghchi selaku Menteri Luar Negeri Iran melemparkan peringatan yang sangat serius mengenai risiko fatal paparan radioaktif.
Kekhawatiran ini muncul sebagai buntut dari rentetan serangan yang menyasar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN Bushehr.
Araghchi memprediksi bahwa efek radiasi yang timbul dari kerusakan fasilitas tersebut sanggup melenyapkan eksistensi di ibu kota negara tetangga.
Wilayah yang berada di sekitar kawasan Teluk Persia dianggap sebagai pihak yang paling rentan terhadap bencana lingkungan tersebut.
Menariknya, diplomat senior tersebut menyatakan bahwa Teheran justru tidak akan merasakan pengaruh langsung dari sebaran material berbahaya itu.
Ancaman Radiasi di Kawasan Teluk
Melalui sebuah unggahan di platform media sosial X pada Sabtu (4/4), Araghchi memberikan pernyataan yang sangat lugas.
Beliau menyoroti potensi bencana besar yang mengintai negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC jika eskalasi terus berlanjut.
“Dampak radiasi akan mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara GCC, bukan Teheran,” ujar Araghchi melalui media sosial X.
Baca Juga: Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
Komentar tajam ini dipicu oleh berbagai laporan terkait agresi terhadap infrastruktur nuklir Iran yang melibatkan kekuatan asing.
Pihak Teheran meyakini bahwa keterlibatan Amerika Serikat serta Israel merupakan dalang utama di balik sabotase fisik tersebut.
Laporan Kerusakan dan Korban Jiwa
Berdasarkan data dari Organisasi Energi Atom Iran, PLTN Bushehr telah menjadi target operasi militer yang sangat berbahaya.
Insiden berdarah tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa satu orang pekerja di fasilitas pembangkit listrik bertenaga nuklir itu.
Serangan tersebut dilakukan secara masif dan terencana dalam beberapa gelombang operasi militer yang sangat intensif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Ketua FMN di Aksi Kamisan: Jika Rezim Terus Menghisap Rakyat, Prabowo Akan Dijauhkan oleh Rakyat
-
KNKT Ungkap Jeda Kecelakaan Maut KRL dan Argo Bromo di Bekasi Timur Hanya 3 Menit 43 Detik
-
Eks Dirjen PHU Diperiksa, KPK Usut Pertemuan dengan Yaqut Terkait Kuota Haji
-
Puluhan Rumah di Bogor Terdampak Kebocoran Bahan Baku Semen seperti 'Hujan Abu'
-
Dirut Terra Drone Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara dalam Kasus Kebakaran Tewaskan 22 Orang
-
Komisi V DPR RI Sentil Kemenhub Soal Tabrakan Kereta Bekasi: Jangan Bohong, Ini Urusan Nyawa!
-
Tiga Pendaki Tewas di Erupsi Dukono, Polisi Tetapkan Penyelenggara Open Trip Jadi Tersangka!
-
Dear BGN, IDAI Khawatir Kebijakan Susu Formula di MBG Bikin Ibu Berhenti Menyusui
-
ShopeePay Hadirkan "Pasti Gratis", Transfer ke Semua Bank dan E-Wallet Tanpa Biaya Admin
-
Jejak Kriminal Teror Pocong: Mengapa Modus Mistis Masih Bertahan di Era Digital?