- Emaridial Ulza memperingatkan bahwa Indonesia terjebak dalam kondisi ketidakterlihatan strategis di tengah dinamika konflik global saat ini.
- Ketidakhadiran Indonesia dalam narasi internasional berisiko menurunkan kepercayaan investor serta menghambat berbagai potensi kerja sama ekonomi strategis negara.
- Indonesia perlu mengomunikasikan berbagai capaian nasional secara efektif agar tidak kalah bersaing dengan negara lain dalam percakapan dunia.
Suara.com - Di tengah memanasnya eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, posisi Indonesia di panggung internasional justru berada dalam titik kritis.
Bukan karena citra buruk, melainkan karena potensi "menghilang" dari radar perhatian dunia.
Peneliti dari Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), Emaridial Ulza, memperingatkan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi strategic invisibility trap atau jebakan ketidakterlihatan strategis.
"Kondisi ini bukan berarti Indonesia dipersepsikan buruk oleh dunia internasional, melainkan justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali. Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi cepat, negara yang tidak muncul dalam narasi global akan cenderung tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis," ungkap Emaridial dalam keterangannya, Senin (27/5/2026).
Narasi Lebih Kuat dari Sekadar Data
Mengacu pada laporan strategis Global Trust Intelligence (GTI), Emaridial menjelaskan bahwa dalam perspektif international marketing dan neurosains, keputusan dunia internasional tidak hanya digerakkan oleh angka di atas kertas, melainkan oleh narasi yang melekat di ingatan.
Indonesia, menurutnya, berisiko kehilangan panggung meski memiliki fundamental ekonomi yang raksasa jika tidak aktif membangun "cerita"-nya sendiri.
Ia memberikan perbandingan tajam dengan Iran.
"Fenomena ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam konflik besar, Iran tetap hadir di berbagai panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Sementara itu Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil tidak muncul sebagai aktor dalam narasi global yang dianggap penting," ujarnya.
Baca Juga: Tak Banyak Omong, Lobi Ajaib Anwar Ibrahim Bikin Kapal Petronas Bebas Lewat Selat Hormuz
Ancaman Ekonomi: Dari Investasi Hingga 'Triple Squeeze'
Masalah ini bukan sekadar urusan gengsi diplomatik. Menurut Emaridial, ketidakhadiran narasi global berdampak langsung pada dompet negara. Absennya Indonesia dalam percakapan dunia bisa memicu ketidakpastian bagi investor.
"Kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan memiliki dampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya akan terasa dalam bentuk tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri," jelasnya.
Situasi kian pelik karena Indonesia juga dibayangi laporan Keynesian Triple Squeeze.
Ini adalah kondisi di mana tiga pilar ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—tertekan secara bersamaan. Berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya, kali ini hampir tidak ada sektor yang bisa menjadi bantalan atau penyangga ekonomi.
Potensi Besar yang 'Terkubur'
Berita Terkait
-
Jeritan Warga Iran Setelah Satu Bulan Digempur Amerika dan Israel
-
Ngomong Kotor dan Puji Allah saat Ancam Iran, Trump Dinilai Makin Frustrasi
-
Tak Banyak Omong, Lobi Ajaib Anwar Ibrahim Bikin Kapal Petronas Bebas Lewat Selat Hormuz
-
Harga Minyak Brent Tembus 111 Dolar AS, Iran Syaratkan Ganti Rugi Perang
-
Harga BBM Meledak, Driver Online Menyerah: Kerja Seharian Hanya untuk Bensin
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Puluhan Rumah di Bogor Terdampak Kebocoran Bahan Baku Semen seperti 'Hujan Abu'
-
Dirut Terra Drone Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara dalam Kasus Kebakaran Tewaskan 22 Orang
-
Komisi V DPR RI Sentil Kemenhub Soal Tabrakan Kereta Bekasi: Jangan Bohong, Ini Urusan Nyawa!
-
Tiga Pendaki Tewas di Erupsi Dukono, Polisi Tetapkan Penyelenggara Open Trip Jadi Tersangka!
-
Dear BGN, IDAI Khawatir Kebijakan Susu Formula di MBG Bikin Ibu Berhenti Menyusui
-
ShopeePay Hadirkan "Pasti Gratis", Transfer ke Semua Bank dan E-Wallet Tanpa Biaya Admin
-
Jejak Kriminal Teror Pocong: Mengapa Modus Mistis Masih Bertahan di Era Digital?
-
Spanduk 'Surat Permohonan Maaf' soal Prabowo-Gibran Terpasang di Gerbang UGM, Kampus Beri Respons
-
Trauma Berat, Putri Ahmad Bahar Adukan Dugaan Intimidasi Ormas GRIB Jaya ke Komnas HAM
-
Usai Temui Prabowo di Istana, Menkeu Purbaya Mendadak Umumkan Batal Naik Haji, Ada Apa?