- Dadang tewas setelah dikeroyok sekelompok pemuda di acara resepsi pernikahan, Desa Kertamukti, Purwakarta, pada Sabtu 4 April 2024.
- Penganiayaan brutal terjadi karena korban menolak permintaan uang tambahan dan minuman keras yang diajukan para pelaku.
- Polres Purwakarta telah mengidentifikasi seluruh pelaku pengeroyokan dan saat ini sedang melakukan pengejaran untuk proses hukum selanjutnya.
Suara.com - Suasana bahagia resepsi pernikahan di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, mendadak berubah menjadi tragedi berdarah pada Sabtu (4/4/2026).
Sang pemilik hajatan, Dadang, tewas mengenaskan setelah dianiaya secara brutal oleh sekelompok pemuda yang diduga preman kampung hanya karena menolak permintaan uang dan minuman keras.
Kasi Humas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi, membenarkan adanya peristiwa penganiayaan maut tersebut.
“Diduga ada sekelompok orang yang membuat keributan di acara hajatan, kemudian berujung pada pemukulan hingga korban tidak sadarkan diri,” ujar Enjang, dikutip pada Senin (6/4/2026).
Berikut adalah tujuh fakta terkait insiden memilukan tersebut:
1. Dipicu Aksi Pemerasan Berulang
Awal mula insiden maut yang terjadi di tengah kemeriahan pesta pernikahan ini dipicu oleh tindakan pemalakan yang dilakukan sekelompok pemuda setempat terhadap keluarga pemilik hajatan. Berdasarkan kronologi kejadian, pihak keluarga sebenarnya sudah berupaya mengalah dengan memberikan uang sebesar Rp100 ribu pada pertemuan pertama guna menghindari keributan di hadapan tamu undangan.
Sayangnya, sikap kooperatif tersebut justru memancing para pelaku untuk kembali datang satu jam kemudian dengan tuntutan yang lebih tinggi, yaitu meminta uang tambahan sebesar Rp500 ribu secara paksa. Penolakan terhadap tuntutan kedua inilah yang memicu pengeroyokan kepada korban.
2. Penolakan Jatah Minuman Keras
Penyelidikan menunjukkan bahwa selain faktor ekonomi, kericuhan tersebut juga dipicu oleh kemarahan para pelaku yang merasa tidak puas karena permintaan mereka akan minuman keras tidak dipenuhi oleh korban.
Sebagai penanggung jawab utama acara, korban tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk menjaga kehormatan serta suasana religius dari pernikahan anaknya. Ia menolak berkompromi dengan permintaan kelompok pemuda tersebut yang dinilai dapat mengancam ketenangan serta kesantunan pesta pernikahan yang tengah berlangsung.
Baca Juga: Steam Copot IGRS Usai Viral Jadi Sorotan di Indonesia, Pakai Platform Rating Lain
3. Pengeroyokan di Luar Area Resepsi
Sikap tegas korban seketika menyulut emosi kelompok pemuda tersebut hingga memicu bentrokan fisik yang tak terhindarkan tepat di area luar tenda hajatan.
Dalam insiden mencekam itu, korban menjadi sasaran pengeroyokan brutal oleh sejumlah orang sampai akhirnya ia jatuh tersungkur dan kehilangan kesadaran di lokasi kejadian. Tak berhenti sampai di situ, adik kandung korban yang berada di tempat yang sama juga tak luput dari aksi kekerasan; ia sempat menjadi target pemukulan massal oleh kelompok penyerang.
4. Hantaman Bambu di Bagian Kepala
Sesuai hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan oleh tim penyidik kepolisian, petugas menemukan dan menyita barang bukti krusial berupa potongan belahan bambu.
Benda tersebut disinyalir digunakan secara sengaja oleh para pelaku untuk menghantam bagian kepala korban secara brutal dan bertubi-tubi. Intensitas serangan tersebut memicu luka yang sangat parah serta trauma fatal yang seketika merenggut kesadaran korban.
5. Kepanikan Massal di Tengah Pesta
Kejadian memilukan ini seketika menghancurkan suasana sakral dan khidmat prosesi pernikahan hingga memicu gelombang kepanikan luar biasa di kalangan tamu undangan.
Sebuah rekaman video amatir yang tersebar luas memperlihatkan detik-detik mencekam ketika korban tergeletak tak berdaya di tengah hiruk-pikuk pesta. Sementara itu, istri serta anak perempuan korban dilaporkan jatuh pingsan karena mengalami syok berat serta trauma mendalam setelah menyaksikan aksi kekerasan tersebut.
Berita Terkait
-
Steam Copot IGRS Usai Viral Jadi Sorotan di Indonesia, Pakai Platform Rating Lain
-
Viral! 17 Tahun Bekerja Berujung Dipecat Gegara Gagalkan Pencurian Coklat Paskah
-
Sampah Antariksa Dikira Rudal dan Meteor di Lampung, Roket China CZ-3B Punya Misi Apa?
-
Hajatan Berujung Duka, Ayah Pengantin di Purwakarta Tewas Dikeroyok Usai Tolak Kasih 'Jatah' Preman
-
Viral di TikTok! Niat Donasi di Mall Malah Berujung Tutup Rekening: Hati-Hati Jebakan Auto-Debit
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Mengapa 9 WNI Ditangkap Militer Israel? Kronologi, Misi, dan Jerat Hukum Internasional
-
Menlu Sugiono Geram, Kutuk Tindakan Israel yang Rendahkan Martabat 9 WNI
-
Leony Vitria 'Kuliti' Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?
-
LKPP Akui Sistem Belum User Friendly, Padahal Anggaran Pengadaan Capai Rp1.200 Triliun
-
Sedang Tidur Pulas, Gunawan Dihujani 9 Bacokan Celurit di Kontrakan Tomang
-
Pelapor Mafia Tanah Malah jadi Tersangka, Kini Pasrah Kehilangan Harta
-
Menteri LH: Sampah Organik Jadi Kunci Utama Penurunan Emisi Metana Indonesia
-
9 WNI Bebas dari 'Neraka' Penjara Ktziot Israel, Alami Kekerasan dan Pelecehan
-
Terkuak, Instruksi 'Rem Dikit-dikit' di Balik Tragedi KA Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur
-
Geger Dugaan Tender Janggal Kemenkes Rp267 M di RSUD Rodo Fabo, Gugatan PTUN Bergulir