- Aktivis lingkungan mendesak pemerintah Malaysia membatasi ekspor logam tanah jarang dari perusahaan Lynas Rare Earths ke Amerika Serikat.
- Permintaan tersebut muncul akibat perjanjian pasokan empat tahun antara Lynas dan Departemen Pertahanan AS sejak Maret 2024.
- Para aktivis mengkhawatirkan kesepakatan itu melanggar kebijakan non-blok Malaysia serta mendukung aktivitas militer AS melalui penyediaan komponen senjata.
Suara.com - Para Aktivis Lingkungan Pendukung Palestina mendesak pemerintah Malaysia untuk memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang, tanah liat ikonik, yang diproses oleh Lynas Rare Earths setelah perusahaan tersebut menandatangani perjanjian pasokan empat tahun dengan departemen pertahanan AS.
Boycott Divestment & Sanctions mengatakan kepada Malaysiakini, bahwa kesepakatan tersebut bertentangan dengan kebijakan luar negeri non-blok Malaysia dan bahwa mineral tersebut seharusnya tidak diekspor ke negara-negara yang menggunakannya untuk “tujuan militer ilegal”.
Hal ini menyusul perjanjian Maret 2026 bagi Lynas untuk memasok mineral penting untuk aplikasi keamanan AS.
Ada pun perjanjian yang dimaksud adalah Lynas mengamankan kesepakatan 4 tahun untuk memasok oksida logam rare earth ke Departemen Pertahanan AS, menyoroti perannya sebagai pemasok utama di luar China.
Logam tanah jarang (rare earth elements/REE) adalah kelompok 17 unsur kimia (15 lantanida, skandium, dan itrium) yang sangat krusial untuk teknologi modern.
Disebut "jarang" bukan karena jumlahnya sedikit di bumi, melainkan karena sulit ditemukan dalam konsentrasi tinggi, sehingga proses penambangan dan pemurniannya rumit dan mahal.
Lempung ionik REE digunakan dalam layar smartphone, magnet kuat (neomagnet) untuk motor mobil listrik (EV), turbin angin.
Namun, di dunia militer, berbagai alutsista seperti rudal, satelit, laser, dan berbagai peralatan militer lainnya memerlukan rare earth sebagai komponennya.
Peralatan militer yang berupa logam berat juga terkadang diberi campuran logam jenis ini agar semakin kuat.
Baca Juga: Ya Allah, Gaza Diserang Lagi saat Iran Masih Digempur Israel
Para aktivis advokasi Pro-Palestina berpendapat karena AS terlibat dalam operasi militer yang sedang berlangsung, rantai pasokan ini secara langsung berkontribusi pada mesin perang, mendesak pemerintah Malaysia untuk meninjau atau membatasi izin operasi Lynas.
Para pendukung mengklaim kesepakatan tersebut melanggar netralitas Malaysia dan berisiko menyeret negara tersebut ke dalam upaya militer AS.
Perkembangan ini menyusul pengawasan lingkungan, keselamatan, dan operasional yang intensif dan berkelanjutan terkait pabrik Lynas di Malaysia.
Berita Terkait
-
Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
-
Ya Allah, Gaza Diserang Lagi saat Iran Masih Digempur Israel
-
Tak Banyak Omong, Lobi Ajaib Anwar Ibrahim Bikin Kapal Petronas Bebas Lewat Selat Hormuz
-
'Mirip Nazi!' Wakil Ketua MPR Kecam Keras UU Hukuman Mati Israel bagi Tawanan Palestina
-
Jangan Salah Paham! Ini Beda Skandal Dokumen Malaysia vs Paspoortgate Pemain Timnas Indonesia
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Mengapa 9 WNI Ditangkap Militer Israel? Kronologi, Misi, dan Jerat Hukum Internasional
-
Menlu Sugiono Geram, Kutuk Tindakan Israel yang Rendahkan Martabat 9 WNI
-
Leony Vitria 'Kuliti' Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?
-
LKPP Akui Sistem Belum User Friendly, Padahal Anggaran Pengadaan Capai Rp1.200 Triliun
-
Sedang Tidur Pulas, Gunawan Dihujani 9 Bacokan Celurit di Kontrakan Tomang
-
Pelapor Mafia Tanah Malah jadi Tersangka, Kini Pasrah Kehilangan Harta
-
Menteri LH: Sampah Organik Jadi Kunci Utama Penurunan Emisi Metana Indonesia
-
9 WNI Bebas dari 'Neraka' Penjara Ktziot Israel, Alami Kekerasan dan Pelecehan
-
Terkuak, Instruksi 'Rem Dikit-dikit' di Balik Tragedi KA Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur
-
Geger Dugaan Tender Janggal Kemenkes Rp267 M di RSUD Rodo Fabo, Gugatan PTUN Bergulir