Suara.com - Amerika Serikat melalui badan intelijennya kini sedang menyoroti peran teknologi canggih dari Negeri Tirai Bambu.
Pemerintah Beijing diduga kuat terlibat dalam upaya membantu operasional militer Iran selama masa peperangan yang berlangsung.
Modusnya melibatkan sebuah perusahaan swasta yang menyajikan visual satelit berkualitas tinggi dengan integrasi kecerdasan buatan.
Sistem tersebut mampu memetakan secara presisi berbagai titik pertahanan milik militer Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah.
Hal ini tentu mempermudah pihak lawan dalam menentukan koordinat serangan dengan akurasi yang sangat membahayakan.
Laporan dari ABC News mengonfirmasi bahwa data-data intelijen tersebut telah sampai ke tangan otoritas pertahanan Washington.
Informasi rahasia ini menyebutkan bahwa penyebaran visual tersebut secara langsung mengancam keselamatan para prajurit di lapangan.
MizarVision menjadi nama entitas yang berada di bawah radar pengawasan karena aktivitas digitalnya yang sangat mencurigakan.
Meskipun statusnya perusahaan swasta namun sebagian kecil dari saham perusahaan ini dikuasai oleh pemerintah pusat China.
Baca Juga: Kasus Foto AI di JAKI, Lurah Kalisari Akui Kesalahan dan Beri Sanksi Petugas PPSU
Publikasi data tersebut dilakukan secara intensif tepat sebelum dan selama periode kontak senjata antara Iran dengan lawannya.
Kecerdasan buatan yang ditanamkan mampu melakukan pemindaian otomatis terhadap aset tempur yang tersebar di area luas.
Dahulu kemampuan identifikasi tingkat tinggi seperti ini hanya bisa dilakukan oleh badan intelijen resmi sebuah negara besar.
Kini pihak Pentagon meyakini bahwa pasukan elit Iran telah memanfaatkan bantuan visual digital tersebut untuk kepentingan ofensif.
Seorang narasumber dari Defense Intelligence Agency (DIA) memberikan pernyataan resmi terkait fenomena berbahaya yang sedang terjadi saat ini.
"Ini adalah contoh perusahaan China, yang kami yakini dengan niat jahat, menyediakan intelijen pada platform sumber terbuka yang memberikan informasi tentang protokol penargetan rudal dan pesawat tanpa awak," kata sumber DIA kepada ABC News, Senin (6/4/2026).
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Geger! Penyamaran Rey Terbongkar di Malam Pertama, Intan Laporkan Kasus Nikah Sesama Jenis di Malang
-
Moeldoko: Pakai Mobil Listrik Lebih Hemat, Biaya BBM dari Rp 6 Juta Jadi Rp 800 Ribu
-
HOAKS! Donald Trump Provokasi Masyarakat Indonesia yang Sunni agar Tak Dukung Iran
-
DPRD DKI Kritik Perizinan Rumah Ibadah di Jakarta yang Masih Berlarut-Larut
-
Jalankan Instruksi Prabowo, Kemnaker Siap Perluas Program Magang ke Luar Negeri
-
Siasat Ngirit KSAU: Pesawat Tempur Latihan Sambil Patroli, Hemat BBM Tanpa Kurangi Pengawasan
-
Kronologi AS-Iran Kembali Memanas Gegara Ulah Israel, Gencatan Senjata Gagal?
-
Kemnaker Usul Tambah Kuota Program Magang 2026 hingga 150 Ribu Orang
-
Meski Sepakat Gencatan Senjata, Donald Trump Blak-blakan Militer AS Masih Siaga di Dekat Iran
-
Sentil BGN Borong Motor Listrik, Hasto PDI-P: Belajarlah dari Gojek, Jangan Hamburkan Anggaran