-
Donald Trump mengancam memenjarakan jurnalis yang membocorkan data pilot militer di Iran.
-
Bocoran berita dianggap membahayakan nyawa kru pesawat dan mempersulit misi penyelamatan rahasia.
-
Hubungan antara pemerintah AS dan media semakin memanas akibat kebijakan peliputan militer baru.
Awalnya, media di Iran adalah yang pertama kali mengabarkan jatuhnya pesawat Amerika Serikat di wilayah kedaulatan mereka.
Kabar tersebut memicu diskusi luas di platform digital sebelum media arus utama Amerika menerbitkan laporan resmi mereka.
Pemerintah Amerika Serikat kini sedang melakukan pelacakan internal guna menemukan asal muasal kebocoran informasi yang fatal ini.
Seorang pejabat di lingkungan kepresidenan mengonfirmasi kepada CNN bahwa proses penyelidikan saat ini tengah berlangsung secara intensif.
“Penyelidikan sedang dilakukan,” kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CNN.
Banyak media besar, termasuk CNN, memang sempat melaporkan hilangnya perwira militer tersebut serta upaya pencarian oleh Pentagon.
Perwira kedua tersebut pada akhirnya berhasil ditemukan dan dievakuasi pada hari Minggu melalui misi yang sangat berbahaya.
Direktur CIA, John Ratcliffe, menggambarkan tingkat kesulitan operasi tersebut dengan perumpamaan yang sangat ekstrem dan penuh risiko.
Ratcliffe menyatakan bahwa misi itu “sebanding dengan berburu sebutir pasir di tengah padang pasir” karena luasnya area pencarian.
Baca Juga: Eks Tangan Kanan Trump: Militer AS Berusaha Bunuh Pilot yang Terjebak di Iran!
Trump berpendapat bahwa pemberitaan media justru memicu militer Iran untuk ikut bersaing dalam mencari keberadaan pilot tersebut.
Intervensi informasi ini membuat militer Iran waspada dan berusaha menangkap kru Amerika lebih dulu sebelum tim penyelamat tiba.
Trump menegaskan bahwa situasi di lapangan menjadi jauh lebih pelik karena adanya oknum yang membocorkan data ke publik.
“Ini menjadi operasi yang jauh lebih sulit karena pembocor membocorkannya,” kata sang Presiden dengan nada kecewa kepada para wartawan.
Beliau menambahkan bahwa seluruh warga Iran mendadak tahu ada pilot Amerika yang sedang berjuang bertahan hidup di tanah mereka.
“Tiba-tiba, seluruh negara Iran tahu bahwa ada seorang pilot yang berada di suatu tempat di tanah mereka yang sedang berjuang demi nyawanya,” tuturnya.
Ancaman terbaru ini menambah daftar panjang perselisihan antara administrasi kepresidenan saat ini dengan institusi media massa secara umum.
Sejak kembali menjabat, Trump terus berupaya memperketat kendali terhadap kelompok jurnalis yang meliput aktivitas harian di Gedung Putih.
Beliau juga sempat mencoba membatasi akses bagi kantor berita tertentu yang dianggap tidak sejalan dengan visi kebijakan pemerintahannya.
Salah satu konflik yang mencolok adalah perseteruan hukum terkait penamaan geografis tertentu yang memicu pembatasan akses peliputan resmi.
Pemerintah juga secara aktif mempromosikan pengurangan dana bagi penyiaran publik yang dianggap memberikan narasi negatif terhadap otoritas negara.
Donald Trump diketahui sering menjuluki laporan kritis terhadap dirinya sebagai berita bohong atau istilah populernya adalah berita palsu.
Bahkan, tercatat ada sedikitnya enam organisasi berita besar yang telah digugat secara pribadi oleh Trump karena ketidakpuasan pelaporan.
Beberapa nama besar seperti The Wall Street Journal dan The New York Times masuk dalam daftar panjang gugatan hukum tersebut.
Meski banyak gugatan yang memakan waktu bertahun-tahun, Trump merasa berada di atas angin setelah beberapa kasus berakhir damai.
Penyelesaian kasus dengan nilai puluhan juta dolar dianggap Trump sebagai bukti adanya bias media yang terbukti secara hukum.
Di sisi lain, hubungan antara departemen pertahanan dengan para koresponden perang juga sedang berada di titik nadir saat ini.
Hal ini dipicu oleh kebijakan baru Pentagon yang mengharuskan media hanya melaporkan informasi yang telah disetujui secara resmi.
Aturan ketat tersebut membuat puluhan wartawan berpengalaman memutuskan untuk melepaskan akreditasi mereka di kementerian pertahanan tersebut.
Meski pengadilan sempat memerintahkan pemulihan kredensial jurnalis, Pentagon justru merespons dengan memindahkan kantor media ke luar gedung utama.
Pihak kementerian kini menyiapkan area khusus di luar markas besar yang disebut sebagai aneks untuk para peliput berita militer.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Buntut Penembakan Ibu Hamil, Massa API Demo di Komnas HAM: Hentikan Pembunuhan Rakyat di Papua!
-
Bobby Terima Penghargaan Adinata Syariah, Bukti Sumut Berkontribusi bagi Penguatan Ekonomi Nasional
-
Narendra Modi Tiba di Gedung Parlemen, Siap Berpidato di Hadapan Anggota DPR
-
Gubernur Bobby Nasution akan Bangun SMK Unggulan Pariwisata Berkonsep Boarding School di Samosir
-
Urus Izin KLB Kini Ditargetkan Selesai 15 Hari
-
KPK Sita Land Cruiser Diduga Barang Suap Bupati Kuansing, Pelat Sudah Diganti
-
Mau Masuk Ancol Gratis? Ini Jadwal dan Cara Mendapatkan Tiketnya
-
Disorot Kamera, Gibran Terlibat Obrolan Serius dengan Pimpinan Parlemen Jelang Kedatangan Modi
-
Viral Lokasi Kopdes Merah Putih Tak Strategis, Menkop Ferry Juliantono Janji Evaluasi
-
Prabowo-Gibran Bersiap Sambut Narendra Modi di Gedung Parlemen