-
Serangan udara Israel di Maghazi tewaskan 10 warga saat gencatan senjata berlangsung.
-
WHO hentikan evakuasi medis setelah seorang kontraktornya tewas akibat insiden keamanan.
-
Hamas tolak pelucutan senjata karena menilai itu bagian dari upaya kelanjutan genosida.
Hamas sendiri secara tegas menyebut kelompok-kelompok yang bekerja sama dengan Israel di wilayah tersebut sebagai kolaborator.
Selain di Maghazi, seorang pengendara motor juga dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel di wilayah Kota Gaza.
Seorang anak yang sedang dibonceng oleh korban tersebut juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil militer.
Kekerasan terus berlanjut di Gaza tengah saat militer Israel menembaki sebuah kendaraan yang dianggap mencurigakan oleh mereka.
Militer Israel berdalih kendaraan tersebut terus melaju kencang meski mereka telah memberikan tembakan peringatan ke arah pengemudi.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi kabar duka mengenai kematian seorang kontraktor organisasi mereka di Gaza.
Peristiwa keamanan yang mematikan ini memaksa badan kesehatan dunia tersebut mengambil keputusan sulit untuk menghentikan operasi.
Seluruh kegiatan evakuasi medis dari Gaza menuju Mesir melalui gerbang Rafah kini ditangguhkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Pihak Israel menyatakan bahwa dua karyawan lokal WHO terluka dan insiden tersebut saat ini sedang dalam proses peninjauan.
Baca Juga: Viral! Wanita Israel Terhempas Ledakan Rudal, Ajaib Masih Bisa Bangkit dan Berjalan
Namun, WHO mengklarifikasi bahwa meski ada staf di lokasi, mereka tidak mengalami cedera fisik dalam kejadian tersebut.
Sejak gencatan senjata dimulai pada bulan Oktober lalu, kedua belah pihak saling melemparkan tuduhan mengenai pelanggaran kesepakatan.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sekitar 700 orang telah tewas akibat serangan Israel selama masa gencatan senjata.
Di sisi lain, Israel melaporkan kehilangan empat tentara mereka yang tewas akibat serangan militan selama periode yang sama.
Isu pelucutan senjata Hamas menjadi salah satu penghalang utama dalam implementasi rencana perdamaian yang diusulkan Donald Trump.
Sayap bersenjata Hamas menegaskan bahwa pembicaraan mengenai senjata mereka adalah hal yang tidak mungkin dilakukan saat ini.
Hamas berpendapat bahwa tuntutan pelucutan senjata sebelum fase pertama rencana Trump berjalan adalah upaya untuk meneruskan genosida.
"Penduduk mencoba mempertahankan rumah mereka, tetapi pasukan pendudukan menargetkan mereka secara langsung," ujarnya mengulang kesaksian di lapangan.
Konflik besar ini bermula dari serangan pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang menurut catatan resmi Israel.
Sejak saat itu, kampanye militer Israel selama dua tahun telah merenggut nyawa lebih dari 72.000 warga Palestina.
Otoritas kesehatan Gaza menekankan bahwa mayoritas dari puluhan ribu korban jiwa tersebut adalah warga sipil yang tidak berdosa.
Agresi militer yang berkepanjangan telah menyebabkan bencana kelaparan yang meluas di seluruh wilayah kantong kecil tersebut.
Hampir seluruh infrastruktur di Jalur Gaza kini telah hancur menjadi puing-puing akibat serangan udara dan darat yang masif.
Sebagian besar populasi Gaza saat ini hidup dalam status pengungsian dan kehilangan tempat tinggal tetap mereka.
Ketidakpastian mengenai masa depan gencatan senjata membuat masyarakat sipil terus berada di bawah bayang-bayang ketakutan setiap harinya.
Upaya diplomatik internasional terus dilakukan namun tantangan di lapangan tetap menjadi tembok besar yang sulit untuk ditembus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut