News / Nasional
Selasa, 07 April 2026 | 16:29 WIB
Ilustrasi depresi (Freepik/DC Studio)
Baca 10 detik
  • Baliho promosi film "Aku Harus Mati" memicu kontroversi karena dianggap berisiko memicu perilaku bunuh diri pada individu rentan.
  • Imran Pambudi dari Kementerian Kesehatan menekankan bahwa materi promosi berpotensi menormalisasi bunuh diri sebagai solusi atas penderitaan seseorang.
  • Pemerintah menyoroti pentingnya penyajian konten kesehatan jiwa yang bertanggung jawab guna mencegah dampak buruk terhadap keselamatan publik.

Suara.com - Film berjudul “Aku Harus Mati” menuai kontroversi setelah materi promosinya berupa baliho di ruang publik dinilai provokatif dan berpotensi memicu peniruan bunuh diri pada individu rentan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal estetika atau kebebasan berekspresi.

“Ketika tema bunuh diri dihadirkan tanpa kehati-hatian, dampaknya bisa menyentuh keselamatan publik,” ujar Imran, Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, media dan materi promosi memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara masyarakat memahami suatu masalah, termasuk isu kesehatan jiwa.

Menurut dia, judul, gambar, atau narasi yang menyederhanakan bunuh diri sebagai solusi atas penderitaan dapat menurunkan ambang resistensi, terutama pada individu yang sedang berada dalam kondisi psikologis rapuh.

“Paparan berulang terhadap pesan yang meromantisasi atau menormalisasi tindakan tersebut dapat menjadi pemicu bagi individu dengan riwayat depresi, impulsivitas, atau pengalaman traumatis,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya konteks dalam penyajian pesan, apakah menempatkan bunuh diri sebagai masalah kesehatan jiwa yang kompleks atau justru menonjolkan unsur dramatis.

Kekhawatiran tersebut, lanjut Imran, bukan tanpa dasar. Ia menyebut reaksi dari kalangan profesional kesehatan jiwa hingga langkah penertiban materi promosi menunjukkan adanya potensi dampak nyata.

“Pilihan kata yang tampak sepele, yang menggambarkan bunuh diri sebagai ‘pilihan’ atau ‘pembebasan’, bisa ditangkap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa,” ujarnya.

Sebaliknya, ia menilai penyajian yang menekankan adanya bantuan serta mengarahkan masyarakat ke layanan dukungan dapat membantu menekan risiko peniruan.

Load More