- Aktivis KontraS, Andrie Yunus, mengalami luka akibat penyiraman air keras di Jakarta pada Selasa, 7 April 2026.
- Solidaritas Kebangsaan menilai serangan tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap suara kritis generasi muda di Indonesia.
- Tokoh publik menyatakan kekerasan ini merupakan indikasi sistemik budaya negara yang anti terhadap kritik dan akuntabilitas.
Suara.com - Solidaritas Kebangsaan untuk Andrie Yunus menyampaikan pesan kebangsaan terkait peristiwa penyiraman air keras yang membuat aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengalami luka.
Aktivis Zumrotin K. Susilo menegaskan bahwa Andrie Yunus masih berusia 27 tahun. Wakil Koordinator KontraS itu disebut sebagai representasi generasi Z Indonesia.
“Andrie adalah wajah dari generasi baru bangsa Indonesia yang lahir di era kebebasan dan bertumbuh dalam demokrasi digital. Andrie seperti ratusan ribu anak muda Indonesia yang tumbuh dalam republik yang mengaku hendak menuju Indonesia Emas,” kata Zumrotin di Kantor KontraS, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
“Tetapi justru menyaksikan bagaimana suara kritis anak muda kerap disambut dengan intimidasi dan kekerasan,” tambahnya.
Namun, Zumrotin menegaskan Andrie Yunus tidak gentar. Ia menyoroti aksi Andrie yang pernah menerobos masuk ke Hotel Fairmont Jakarta saat DPR membahas revisi Undang-Undang TNI.
“Andrie tidak gentar melangkah memasuki ruang-ruang yang berusaha ditutup rapat dari publik. Ia masuk, mendesak maju ke ruang rapat legislasi RUU TNI di sebuah hotel mewah. Ia berjalan di dalam ruang sidang Mahkamah Konstitusi untuk memastikan bahwa masa depan negeri ini tidak boleh dirundingkan di balik pintu tertutup tanpa kehadiran rakyat, terutama generasi mudanya sendiri,” tutur Zumrotin.
Pada kesempatan yang sama, putri Wakil Presiden Pertama Mohammad Hatta, Halida Hatta, menjelaskan Andrie merupakan manifestasi cita-cita manusia merdeka Indonesia sebagaimana yang diharapkan Bung Hatta.
“Bahwa kemerdekaan sejati adalah perkara kebebasan berpikir yang disertai tanggung jawab pada sesama manusia,” ucap Halida.
“Generasi seperti Andrie tumbuh dengan kesadaran bahwa mencintai negeri bukan berarti diam pada ketidakadilan, melainkan berani menyuarakannya, meski risiko kekerasan dan teror terus mengintai,” lanjutnya.
Baca Juga: Komnas HAM Respons Aksi Protes Buntut Kasus Andrie Yunus, Bakal Surati Presiden dan DPR
Halida menilai serangan terhadap Andrie Yunus menunjukkan indikasi sistemik dari budaya kekerasan negara terhadap kritik, akuntabilitas, dan koreksi publik.
Berita Terkait
-
Komnas HAM Respons Aksi Protes Buntut Kasus Andrie Yunus, Bakal Surati Presiden dan DPR
-
Andrie Yunus Sampaikan 2 Pucuk Surat dari Rumah Sakit, Ini Isinya!
-
Mahasiswa Dirikan Tenda di Komnas HAM, Soroti Lambannya Kasus Andrie Yunus
-
KontraS Minta Kasus Penyiraman Andrie Yunus Dijerat Pasal Percobaan Pembunuhan
-
Hidup Bukan Template: 7 Keputusan Ini Sah Banget Dilakukan Tanpa Butuh Validasi Netizen
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Aksi Bersih-bersih atau Cari Aman, Kenapa Menhut Raja Juli Baru Lapor Amplop Usai OTT KPK?
-
Eks Pimpinan KPK Sebut Menhut Raja Juli Akal-akali Balikin Amplop: Tetap Suap, Bisa Jadi Tersangka
-
Kader PSI Kalsel Desak Jokowi Segera Dilantik Jadi Ketua Dewan Pembina, Begini Respons Kaesang
-
Duet 'Indonesia Emas 2045' dan 'India Maju 2047', PM Narendra Modi: Kita Mitra Alami
-
Dikritik Bambang Pacul, Ahmad Muzani Tegaskan Berangkat ke Iran sebagai Utusan Khusus Presiden
-
Tarif TransJakarta Mau Naik, Akankah Warga Kembali Memilih Kendaraan Pribadi?
-
Roy Suryo Siapkan Praperadilan Kedua Usai Menang Sebagian di PN Jaksel, Kini Gugat Status Tersangka
-
Update 14 Tersangka Baru Kasus Daycare Little Aresha: 1 Tersangka Mangkir dari Pemeriksaan Polisi
-
Menang Sebagian, Roy Suryo Kini Incar Pembatalan Status Tersangka di Praperadilan Kedua
-
API Sebut Rezim Hari Ini Tak Prioritaskan Agenda Perlindungan Perempuan