News / Nasional
Selasa, 07 April 2026 | 17:25 WIB
Solidaritas Kebangsaan Untuk Andrie Yunus menyampaikan pesan kebangsaan terhadap peristiwa penyiraman air keras yang membuat aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus mengalami luka. [Suara.com/Dea]
Baca 10 detik
  • Aktivis KontraS, Andrie Yunus, mengalami luka akibat penyiraman air keras di Jakarta pada Selasa, 7 April 2026.
  • Solidaritas Kebangsaan menilai serangan tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap suara kritis generasi muda di Indonesia.
  • Tokoh publik menyatakan kekerasan ini merupakan indikasi sistemik budaya negara yang anti terhadap kritik dan akuntabilitas.

Suara.com - Solidaritas Kebangsaan untuk Andrie Yunus menyampaikan pesan kebangsaan terkait peristiwa penyiraman air keras yang membuat aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengalami luka.

Aktivis Zumrotin K. Susilo menegaskan bahwa Andrie Yunus masih berusia 27 tahun. Wakil Koordinator KontraS itu disebut sebagai representasi generasi Z Indonesia.

“Andrie adalah wajah dari generasi baru bangsa Indonesia yang lahir di era kebebasan dan bertumbuh dalam demokrasi digital. Andrie seperti ratusan ribu anak muda Indonesia yang tumbuh dalam republik yang mengaku hendak menuju Indonesia Emas,” kata Zumrotin di Kantor KontraS, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

“Tetapi justru menyaksikan bagaimana suara kritis anak muda kerap disambut dengan intimidasi dan kekerasan,” tambahnya.

Namun, Zumrotin menegaskan Andrie Yunus tidak gentar. Ia menyoroti aksi Andrie yang pernah menerobos masuk ke Hotel Fairmont Jakarta saat DPR membahas revisi Undang-Undang TNI.

“Andrie tidak gentar melangkah memasuki ruang-ruang yang berusaha ditutup rapat dari publik. Ia masuk, mendesak maju ke ruang rapat legislasi RUU TNI di sebuah hotel mewah. Ia berjalan di dalam ruang sidang Mahkamah Konstitusi untuk memastikan bahwa masa depan negeri ini tidak boleh dirundingkan di balik pintu tertutup tanpa kehadiran rakyat, terutama generasi mudanya sendiri,” tutur Zumrotin.

Pada kesempatan yang sama, putri Wakil Presiden Pertama Mohammad Hatta, Halida Hatta, menjelaskan Andrie merupakan manifestasi cita-cita manusia merdeka Indonesia sebagaimana yang diharapkan Bung Hatta.

“Bahwa kemerdekaan sejati adalah perkara kebebasan berpikir yang disertai tanggung jawab pada sesama manusia,” ucap Halida.

“Generasi seperti Andrie tumbuh dengan kesadaran bahwa mencintai negeri bukan berarti diam pada ketidakadilan, melainkan berani menyuarakannya, meski risiko kekerasan dan teror terus mengintai,” lanjutnya.

Baca Juga: Komnas HAM Respons Aksi Protes Buntut Kasus Andrie Yunus, Bakal Surati Presiden dan DPR

Halida menilai serangan terhadap Andrie Yunus menunjukkan indikasi sistemik dari budaya kekerasan negara terhadap kritik, akuntabilitas, dan koreksi publik.

Load More