- Presiden AS Donald Trump menyepakati gencatan senjata selama 14 hari dengan Iran setelah membatalkan rencana serangan militer besar-besaran.
- Pengamat UGM menilai langkah tersebut mencerminkan inkonsistensi kebijakan luar negeri Trump yang dinilai tidak memiliki strategi diplomatik jelas.
- Keberhasilan Iran bertahan dari tekanan militer Amerika Serikat meningkatkan posisi tawar Iran dalam tatanan politik global pascakonflik.
Suara.com - Pengamat Hubungan Internasional (HI) Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadi Sugiono, mengaku tidak terlalu terkejut dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyepakati gencatan senjata dengan Iran.
Menurutnya, langkah Trump tersebut justru mengonfirmasi julukan yang kerap disematkan kepadanya di Amerika Serikat terkait inkonsistensi dalam kebijakan luar negeri.
"Di Amerika sendiri kan Donald Trump itu dikenal dengan TACO, Trump Always Chickens Out. Dia selalu akan mundur. Nah, saya kira itu pola yang sangat jelas. Kalau yang dihadapi itu bertahan dan bahkan menunjukkan gertakan balik, maka Trump akan mundur," kata Muhadi saat dihubungi Suara.com, Rabu (8/4/2026).
Lebih lanjut, Muhadi menyoroti kelemahan mendasar dalam kepemimpinan Trump yang dinilai tidak memiliki peta jalan diplomatik yang jelas.
Menurutnya, Trump lebih banyak bertindak berdasarkan insting bisnis, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari setiap serangan maupun kebijakan yang diambil.
"Dia (Trump) sendiri tidak punya kompetensi dan tujuannya yang jelas, apa yang harus dilakukan setelahnya? Tidak punya strategi yang pasti. Dia hanya seorang businessman yang berbicara tentang untung rugi gitu. Hajar dulu kemudian pikir belakang," terangnya.
Ketidakkonsistenan tersebut, lanjut Muhadi, membuat berbagai pernyataan Trump selama ini sulit dijadikan rujukan analisis yang serius. Hal ini terlihat dari ancaman keras terhadap Iran beberapa waktu lalu yang justru berujung pada kesepakatan gencatan senjata.
Spontanitas yang tidak terukur itu menjadi ciri khas kepemimpinan Trump yang kerap membingungkan, baik bagi sekutu maupun lawan politiknya di panggung internasional.
"Karena dia bukan pemimpin yang punya visi yang strategis itu tadi. Makanya bagi Trump ngomong itu seenak mulutnya saja gitu. Kalau ternyata tidak ini ya sudah ngomong yang lain," tambahnya.
Baca Juga: Pasca Gencatan Senjata, PM Pakistan Fasilitasi Dialog Strategis Amerika - Israel dan Iran
Muhadi menilai kesepakatan gencatan senjata ini justru menempatkan Iran pada posisi tawar yang lebih kuat di panggung global. Menurutnya, keberhasilan Iran bertahan dari tekanan militer Amerika Serikat membuat tatanan pascakonflik kini berada dalam posisi yang lebih menguntungkan bagi Teheran.
"Dalam kasus ini dia (Iran) sebenarnya pemenang perangnya. Pemenang perang dia akan menentukan gitu. Kan namanya apa tatanan setelah perang itu selalu ditentukan oleh pemenang perang gitu," ucapnya.
Muhadi menyimpulkan bahwa kegagalan Amerika Serikat untuk menghancurkan Iran menunjukkan bahwa pendekatan permusuhan ekstrem (hostile) terhadap Teheran perlu segera diubah.
Ia berharap gencatan senjata selama dua pekan ini dapat menjadi momentum untuk membuka kembali jalur multilateralisme demi terciptanya perdamaian jangka panjang.
"Sekarang yang selama ini digembar-gemborkan bahwa Amerika akan bisa menghancurkan Iran ternyata kan tidak terbukti. Artinya langkah-langkah yang selama ini terlalu hostile, terlalu apa memusuhi Iran itu mau tidak mau akan harus diubah gitu," tandasnya.
Diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan penangguhan rencana serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran dan menyetujui gencatan senjata selama 14 hari ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina