- Polda Metro Jaya mengungkap 1.833 kasus narkotika selama tiga bulan terakhir di wilayah Jakarta dan sekitarnya melalui operasi intensif.
- Polisi membongkar laboratorium ekstasi di Apartemen Bassura Jakarta Timur yang mampu memproduksi 150 butir per hari bagi konsumen urban.
- Aparat menyita 11.000 cartridge vape etomidet dan 883.282 butir obat daftar G dari berbagai jaringan di wilayah Jakarta Utara serta Selatan.
Suara.com - Polda Metro Jaya mencatat lonjakan signifikan dalam pemberantasan narkotika di wilayah hukum Jakarta dan sekitarnya. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, sebanyak 1.833 kasus peredaran gelap narkoba berhasil diungkap oleh jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya beserta Polres jajaran.
Dari ribuan kasus tersebut, terdapat tiga kategori kasus menonjol yang menjadi perhatian serius karena melibatkan industri rumahan, laboratorium gelap (clandestine lab), hingga peredaran zat kimia berbahaya jenis baru yang menyasar gaya hidup urban.
Salah satu temuan paling krusial dalam operasi ini adalah pembongkaran laboratorium gelap yang memproduksi ekstasi dan happy water di sebuah hunian vertikal.
Lokasi produksi ini terdeteksi berada di pusat keramaian Jakarta Timur, yang menunjukkan bahwa pelaku memanfaatkan privasi apartemen untuk menyembunyikan aktivitas ilegal mereka.
“Ini diamankan di apartemen Bassura, lantai 22, di Cipinang, Jakarta Timur,” Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Ahmad David dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).
Dalam penggerebekan di Apartemen Bassura tersebut, polisi mengamankan dua orang tersangka berinisial K dan S.
Keduanya memiliki pembagian peran yang sistematis untuk menjalankan bisnis haram tersebut, mulai dari proses peracikan, produksi, hingga bertindak sebagai kurir untuk menjualbelikan barang-barang narkoba tersebut kepada konsumen di wilayah perkotaan.
“Dari pengungkapan dapat kita amankan ekstasi yang siap edar, sebanyak 653 butir, kemudian 38 pax happy water, kemudian kita mengamankan berbagai bahan baku, bahan prekursor untuk pembuatan, yang sudah siap untuk dicetak, seperti yang anda lihat di samping kiri saya. Kemudian ada alat cetaknya, ini bisa memproduksi dalam satu hari 150 butir ekstasi,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan mendalam, laboratorium di Apartemen Bassura ini diketahui memiliki kapasitas produksi yang cukup besar untuk skala industri rumahan.
Baca Juga: 'Urat Malu Putus?' Viral Pria Diduga TNI Cekcok dengan Polisi Gegara Terobos Lampu Merah
Dalam satu hari, para tersangka mampu mencetak hingga 150 butir ekstasi menggunakan alat cetak yang telah disiapkan. Industri klandestin ini tercatat telah beroperasi selama dua bulan sebelum akhirnya terendus oleh pihak kepolisian.
“Sudah memproduksi kurang lebih 2 ribu, dan sudah tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya.
Selain peredaran ekstasi konvensional, pihak kepolisian juga menyoroti tren baru peredaran narkotika yang menyasar pengguna rokok elektrik atau vape.
Kasus menonjol lainnya yang diungkap adalah peredaran vape cartridge yang mengandung zat etomidet. Zat ini merupakan jenis obat anastesi yang mengandung zat bius dan sangat berbahaya jika disalahgunakan tanpa pengawasan medis.
Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya bersama Polres jajaran telah mengungkap 42 kasus yang berkaitan dengan penggunaan dan peredaran etomidet. Skala peredarannya tergolong masif dengan jumlah tersangka yang mencapai puluhan orang dari berbagai jaringan.
“Jumlah tersangka sebanyak 63 orang. Dan telah menyita sebanyak 11.000 pcs catridge, yang berisi etomidet,” ucapnya.
Berita Terkait
-
'Urat Malu Putus?' Viral Pria Diduga TNI Cekcok dengan Polisi Gegara Terobos Lampu Merah
-
Bukan Tanpa Sebab, Ini Alasan Irish Bella Tahan Anak-Anak Bertemu Ammar Zoni
-
Polri Usul Ambang Batas Kepemilikan Narkoba Diperkecil, Biar Jelas Bedakan Pengguna dan Bandar
-
BNN Usul Larang Vape: Temuan Narkotika di Liquid Picu Alarm Bahaya
-
Kepala BNN Usul Vape Dilarang Total, Temukan Kandungan Sabu hingga Obat Bius di Liquid
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik