- Oknum petugas di Jakarta Selatan diduga memanipulasi laporan kinerja di aplikasi JAKI dengan menggunakan foto identik pada tanggal berbeda.
- Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Budi Awaluddin mengonfirmasi praktik tersebut dan saat ini sedang memproses pemeriksaan melalui pihak Inspektorat.
- Pemprov DKI Jakarta berencana memperketat sistem verifikasi aplikasi JAKI dengan fitur pendeteksi rekayasa digital dan pengambilan gambar secara langsung.
Suara.com - Masyarakat Jakarta kembali digegerkan oleh temuan muslihat oknum petugas dalam melaporkan kinerjanya melalui aplikasi JAKI.
Sebuah unggahan dari akun @glensaimima di platform Threads membongkar praktik culas yang disebut telah lama terjadi, jauh sebelum skandal foto AI di kawasan Kalisari, Jakarta Timur, viral.
Modus operandi yang terungkap adalah penggunaan satu foto yang identik, namun diunggah untuk dua laporan kegiatan pada hari yang berbeda.
Dalam bukti foto yang beredar, terlihat suasana di Jalan Kapten Tendean, Mampang Prapatan, dengan posisi bus dan pedagang kaki lima yang letaknya persis sama.
Meskipun visualnya serupa hingga ke detail terkecil, keterangan timestamp atau stempel waktu pada gambar menunjukkan perbedaan tanggal, yakni 23 Oktober 2025 dan 25 Oktober 2025.
Pengunggah mengklaim bahwa teknik manipulasi ini merupakan cara lama yang dianggap lebih "cerdas" dibandingkan penggunaan filter AI yang sempat viral sebelumnya.
Temuan ini pun langsung memantik kritik tajam dari warganet terkait integritas dan kejujuran para petugas dalam menjalankan tugas rutin pemantauan wilayah.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Budi Awaluddin, memberikan konfirmasi pada Rabu (8/4/2026).
"Itu benar, dan kami sudah temukan juga," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Baca Juga: LG Unjuk Inovasi AI di InnoFest 2026 APAC, Fokus pada Smart Home Masa Depan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun memastikan bahwa saat ini mereka tengah mendalami temuan penyimpangan laporan digital tersebut.
"Sedang diproses. Kami akan koordinasi dengan Inspektorat untuk diperiksa," lanjut Budi.
Langkah koordinasi dengan pihak Inspektorat diharapkan mampu menguak seberapa luas praktik manipulasi laporan ini telah terjadi di lingkungan instansi terkait, yang oleh pengunggah disebut masih bagian dari Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan.
Pemprov DKI saat ini juga tengah berupaya memperketat sistem verifikasi akhir dalam layanan JAKI setelah skandal Kalisari.
Ke depan, sistem akan dilengkapi dengan mekanisme dokumentasi berbasis pengambilan gambar secara langsung di lapangan, sehingga setiap bukti tindak lanjut diambil secara real time dan memiliki tingkat validitas yang lebih tinggi.
Pengembangan sistem juga diarahkan pada kemampuan mendeteksi potensi penggunaan AI maupun bentuk rekayasa digital lainnya.
Berita Terkait
-
LG Unjuk Inovasi AI di InnoFest 2026 APAC, Fokus pada Smart Home Masa Depan
-
Prabowo: Hoaks dan Manipulasi AI Bisa Ganggu Stabilitas Negara, 100 Orang Saja Bisa Bikin Gaduh
-
Prabowo Cerita Temukan Video AI Diri Sendiri: Pandai Nyanyi, Pidato Bahasa Mandarin dan Arab
-
Dinkes DKI Pastikan Belum Ada Kasus Positif Campak di Jakarta, Pengawasan Tetap Diperketat
-
Soroti Kasus Keracunan MBG di Jaktim, KPAI: Predikat 'Gratis' Tak Hapus Tanggung Jawab Hukum!
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut