-
Serangan udara Israel di Lebanon mengakibatkan 182 warga sipil meninggal dunia dan ratusan luka.
-
Perdana Menteri Nawaf Salam menetapkan hari berkabung nasional dan memerintahkan penutupan seluruh kantor administrasi.
-
Pemerintah Lebanon menempuh jalur diplomatik internasional guna menghentikan aksi militer Israel yang menghancurkan.
Suara.com - Kondisi perang di wilayah Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel meluncurkan serangan udara secara masif.
Wilayah ibu kota Beirut menjadi salah satu titik yang mengalami kerusakan paling parah akibat hantaman proyektil tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon merilis data terbaru mengenai jumlah korban yang jatuh dalam peristiwa mencekam pada Rabu kemarin.
Berdasarkan laporan resmi, setidaknya 182 orang dinyatakan meninggal dunia akibat rangkaian ledakan yang terjadi di berbagai lokasi.
Angka kematian ini diperkirakan masih bisa bertambah mengingat proses evakuasi dan pendataan di lapangan terus berjalan.
Selain korban jiwa, fasilitas kesehatan di Lebanon kini tengah berjuang menangani lonjakan pasien yang sangat signifikan.
Tercatat sebanyak 890 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam akibat serangan pada 8 April tersebut.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa statistik yang beredar saat ini masih bersifat sementara sesuai informasi yang masuk.
Pemerintah setempat menginstruksikan seluruh rumah sakit untuk memberikan penanganan prioritas bagi para korban sipil yang berjatuhan.
Baca Juga: Lakukan Evaluasi Imbas 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Bakal Tarik Pasukan Perdamaian?
Banyak warga yang kehilangan tempat tinggal dan terjebak di bawah reruntuhan bangunan setelah gempuran udara terjadi.
Merespons tragedi kemanusiaan ini, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam segera mengambil langkah tegas bagi negaranya.
Pemerintah secara resmi menetapkan hari Kamis, 9 April 2026, sebagai momentum untuk memperingati duka cita mendalam.
Keputusan ini diambil setelah melihat besarnya jumlah warga yang menjadi korban dalam aksi militer yang tidak terduga itu.
Nawaf Salam menegaskan bahwa negara harus memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang gugur dalam insiden tersebut.
Status hari berkabung ini juga menjadi simbol perlawanan terhadap kekerasan yang menargetkan warga sipil yang tidak bersalah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Penuh Haru! 9 WNI Korban Penyekapan Israel Akhirnya Tiba di Indonesia
-
Tepis Mitos 'Lebih Aman', BPOM: 5 Juta Anak Darurat Merokok Akibat Tipu Daya Vape!
-
KUPI: Kekerasan Seksual di Pesantren Adalah Bentuk Penistaan Agama!
-
Wafat Jelang Puncak Armuzna, Jemaah Haji Asal Pekanbaru Bakal Dibadalhajikan
-
Usut Penyebab Blackout Sumatra, Bareskrim Periksa Bukti Sutet Putus di Jambi
-
Pesantren Dikepung Kekerasan Seksual, KUPI: SOP dan Bu Nyai Jadi Solusi Utama
-
BGN Segera Susun Bank Menu, Pengawas Gizi Kini Tak Pusing Lagi
-
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
-
Bulog Ajak Mahasiswa dan Kampus untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan
-
Cuma Gara-gara Saling Pandang! Geng Motor Bacok Remaja di Flyover Cibodas