-
Amerika Serikat meminta bantuan Pakistan untuk membujuk Iran menyepakati gencatan senjata segera.
-
Penutupan Selat Hormuz akibat perang telah menyebabkan lonjakan harga minyak di pasar global.
-
Pertemuan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung di Islamabad hari Jumat.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah melakukan upaya diplomasi intensif melalui Pakistan dalam beberapa minggu terakhir ini.
Langkah ini diambil Washington demi meyakinkan pihak Teheran agar bersedia menyepakati gencatan senjata dalam waktu dekat.
Informasi mengenai keterlibatan Pakistan tersebut pertama kali mencuat melalui laporan media The Financial Times pada Rabu (8/4).
Berdasarkan data dari Sputnik, Presiden Donald Trump ternyata sudah menginisiasi permintaan perdamaian ini sejak 21 Maret.
Motivasi utama di balik langkah cepat Washington adalah untuk memulihkan akses pengiriman komoditas di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak mentah yang sangat tajam memaksa Amerika Serikat mencari jalan keluar melalui jalur diplomatik negara ketiga.
Pakistan dianggap sebagai aktor kunci yang bisa meluluhkan pertahanan diplomatik Iran karena statusnya sebagai negara tetangga muslim.
Pemerintah AS dan Pakistan memiliki keyakinan kuat bahwa proposal perdamaian akan lebih diterima jika datang dari Islamabad.
Hal ini didasari oleh posisi politik Pakistan yang tetap konsisten menjaga netralitas selama masa konflik berlangsung di kawasan.
Baca Juga: Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Kedekatan geografis dan kesamaan latar belakang menjadi faktor penentu mengapa Islamabad dipilih menjadi jembatan bagi kedua pihak.
Perlu diingat bahwa ketegangan bersenjata antara kubu barat dan Teheran mulai memuncak pada akhir Februari yang lalu.
Saat itu, militer Amerika Serikat bersama Israel meluncurkan serangkaian serangan udara ke berbagai titik strategis di wilayah Iran.
Target serangan tersebut mencakup ibu kota Teheran yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur cukup parah di jantung pemerintahan negara tersebut.
Tragisnya, operasi militer tersebut juga memakan korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam pertempuran.
Insiden tersebut memicu gelombang kemarahan besar dari pihak pemerintah Iran yang segera mempersiapkan aksi balasan militer.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut
-
Sadis! Dokter di Hawaii Dorong Istri dari Tebing, Kesaksian Anak Jadi Kunci
-
Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?
-
Program Vokasi Nasional 2026 Resmi Bergulir, 10 Ribu Peserta Tahap I Mulai Pelatihan
-
Donald Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Keluar dari NATO
-
Update Kondisi Medis Andrie Yunus, RSCM: Mata Bakal Ditutup 6 Bulan Demi Pemulihan Intensif
-
Trump Sebut China Jadi Sosok Penting di Balik Keputusan Iran Setuju Gencatan Senjata
-
Galian PAM Jaya di Condet Jadi Biang Kerok Kecelakaan! Dirut Janji Percepat Pengerjaan Usai Viral
-
Apa Itu Amandemen ke-25? Didorong untuk Lengserkan Trump Pasca Kekalahan AS dari Iran
-
Iran Menang Besar! Netanyahu Diserang dari Dalam, Trump Mau Dilengserkan