-
Donald Trump menjamin keamanan Selat Hormuz pasca tercapainya gencatan senjata dua pekan dengan Iran.
-
Presiden AS menjanjikan potensi masa keemasan ekonomi dan rekonstruksi bagi wilayah Timur Tengah.
-
Stabilitas jalur maritim kembali dipulihkan setelah sebelumnya sempat lumpuh akibat konflik militer besar.
Situasi di Timur Tengah sebelumnya sempat memanas hebat setelah adanya operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel.
Serangan masif yang dilancarkan pada 28 Februari tersebut memicu eskalasi besar karena menyasar target-target vital di wilayah Iran.
Insiden tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa lebih dari 1.400 orang dalam serangkaian serangan udara yang cukup mematikan.
Salah satu korban jiwa dalam peristiwa tersebut adalah Ayatollah Ali Khamenei yang merupakan Pemimpin Tertinggi Iran pada saat itu.
Kematian tokoh sentral tersebut memicu kemarahan besar dari pihak militer Teheran terhadap kekuatan asing di sekitar wilayah mereka.
Iran merespons serangan gabungan itu dengan meluncurkan armada pesawat tanpa awak dan rudal ke berbagai titik strategis.
Target utama dari serangan balasan tersebut adalah wilayah Israel serta beberapa negara tetangga seperti Yordania dan Irak.
Negara-negara di kawasan Teluk yang menyimpan pangkalan atau aset militer Amerika Serikat juga tidak luput dari ancaman serangan.
Selain serangan fisik, Iran mengambil langkah taktis dengan menutup dan membatasi akses pelayaran di sepanjang Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Penutupan jalur ini sempat menyebabkan guncangan pada pasar komoditas global karena terhambatnya arus keluar masuk kapal tanker minyak.
Kini dengan adanya masa jeda perang, fokus utama beralih pada pemulihan jalur perdagangan internasional yang sempat lumpuh total.
Trump meyakini bahwa bantuan dari Amerika Serikat dalam memuat pasokan komoditas akan mempercepat normalisasi situasi di jalur maritim tersebut.
Dunia internasional kini menanti apakah gencatan senjata dua pekan ini dapat berlanjut menjadi perdamaian permanen yang stabil.
Keberhasilan pembukaan kembali Selat Hormuz akan menjadi indikator penting bagi keberhasilan diplomasi pemerintahan Donald Trump di periode ini.
Dukungan rekonstruksi bagi Iran diharapkan mampu meredam ketegangan politik dan militer yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Wapres AS JD Vance Sebut Iran Bodoh Jika Gagalkan Gencatan Senjata Gegara Lebanon
-
Dubes UEA: Konflik Iran Bukan Perang Agama, 85% Rudal Justru Sasar Negara Arab, Bukan Israel!
-
Donald Trump Minta Bagian dari Tarif Tol Kapal Selat Hormuz
-
Trump Sebut Lebanon Tak Termasuk Kesepakatan Gencatan Senjata, Timur Tengah Memanas
-
Donald Trump Desak Pakistan Bujuk Iran Gencatan Senjata Demi Amankan Selat Hormuz dari Krisis Minyak
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Kecewa dengan AS-Israel, Reza Pahlavi Provokasi Rakyat Iran Lakukan Kudeta
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
IRGC Siapkan Balasan Mematikan Jika Gencatan Senjata Gagal
-
Israel Bom Lebanon Tewaskan 182 Warga, Perdana Menteri Nawaf Salam Umumkan Hari Berkabung Nasional