-
Iran mengancam hukum Israel karena melanggar poin gencatan senjata dengan menyerang wilayah Lebanon.
-
Presiden Pezeshkian sebut penghentian serangan di Lebanon adalah syarat utama perjanjian damai Teheran-AS.
-
Serangan Israel menewaskan 254 orang meski kesepakatan gencatan senjata baru saja diumumkan resmi.
Suara.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Teheran melontarkan ancaman keras terhadap militer Israel.
Pemerintah Iran secara terbuka bersumpah akan menjatuhkan hukuman bagi Israel atas aksi pemboman di Lebanon.
Langkah ini diambil di tengah berlangsungnya proses gencatan senjata antara pihak Teheran dengan Amerika Serikat.
Pihak Iran meyakini bahwa kesepakatan damai dengan Washington juga mencakup perlindungan bagi kedaulatan wilayah Lebanon.
Informasi mengenai cakupan wilayah dalam perjanjian ini juga telah dikonfirmasi oleh Pakistan yang bertindak sebagai mediator.
Seorang petinggi di pemerintahan Iran menyatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka tidak akan tinggal diam.
Pejabat tersebut menegaskan negaranya akan menghukum Israel sebagai respons atas kejahatan yang dilakukannya di Lebanon serta pelanggaran terhadap ketentuan gencatan senjata.
Pernyataan ini muncul menyusul eskalasi militer yang terus dilakukan oleh Tel Aviv di wilayah Lebanon baru-baru ini.
Iran menilai tindakan Israel tersebut telah mencederai butir-butir perdamaian yang sedang dibangun bersama pihak Gedung Putih.
Baca Juga: Iran Menang Besar! Netanyahu Diserang dari Dalam, Trump Mau Dilengserkan
Menurut Teheran, tindakan keras adalah satu-satunya cara untuk menghentikan langkah agresif militer dari pihak Israel.
Masih menurut narasumber yang sama, gencatan senjata ini seharusnya menciptakan ketenangan di seluruh area regional.
"Gencatan senjata mencakup seluruh kawasan, dan Israel dikenal sering melanggar janji serta hanya bisa ditahan dengan kekuatan senjata," ujar pejabat tersebut.
Pernyataan ini menggarisbawahi rasa skeptis Teheran terhadap kepatuhan Israel dalam setiap perjanjian diplomatik internasional.
Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian juga memberikan tanggapan resmi mengenai situasi panas yang sedang terjadi.
Pezeshkian menyebutkan bahwa penghentian agresi terhadap Lebanon merupakan syarat mutlak dalam kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Sidak BGN di Cimahi: Ada Dapur MBG yang Beroperasi Tanpa Pengawas Gizi
-
Misi Artemis II Hadapi Ujian Mematikan: Detik-Detik Menembus 'Neraka' Atmosfer Bumi
-
CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua
-
Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut
-
Sadis! Dokter di Hawaii Dorong Istri dari Tebing, Kesaksian Anak Jadi Kunci
-
Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?
-
Program Vokasi Nasional 2026 Resmi Bergulir, 10 Ribu Peserta Tahap I Mulai Pelatihan
-
Donald Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Keluar dari NATO
-
Update Kondisi Medis Andrie Yunus, RSCM: Mata Bakal Ditutup 6 Bulan Demi Pemulihan Intensif
-
Trump Sebut China Jadi Sosok Penting di Balik Keputusan Iran Setuju Gencatan Senjata