- Iran menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026) karena menilai Amerika Serikat dan Israel melanggar ketentuan gencatan senjata.
- Presiden Donald Trump menyatakan konflik Lebanon terpisah dari kesepakatan, sehingga memicu ketegangan diplomatik dengan pihak Iran.
- Serangan Israel di Lebanon menyebabkan 89 orang tewas dan 722 terluka, memicu ancaman balasan militer dari kelompok Hezbollah.
Kondisi di lapangan di Lebanon semakin memprihatinkan. Otoritas melaporkan sekitar 90 orang telah kehilangan nyawa, dan lebih dari 700 orang terluka pada hari Rabu menyusul rangkaian pengeboman terbaru oleh Israel.
Serangan ini terjadi setelah militer Israel (IDF) mengklaim telah mengeksekusi "serangan terbesar" mereka terhadap sasaran yang diduga sebagai basis milisi Hezbollah sejak awal ofensif.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nasereldín, memperbarui data korban dengan rincian 89 orang tewas dan 722 lainnya luka-luka.
"Ini adalah angka awal yang bisa terus meningkat dalam beberapa jam ke depan," ungkap Nasereldín kepada saluran televisi LBCI News.
Serangan udara yang masif ini, telah menciptakan gelombang ketakutan dan kehancuran di pemukiman warga, memicu krisis kemanusiaan yang lebih dalam di tengah lumpuhnya infrastruktur kesehatan Lebanon.
Perlawanan Hezbollah dan Ancaman Perang Terbuka
Menanggapi agresi yang meningkat, Hezbollah menegaskan posisi mereka untuk tidak mundur sedikit pun.
Melalui laporan kantor berita Reuters, kelompok milisi tersebut menegaskan kembali "hak untuk membalas" terhadap setiap serangan Israel yang menyasar kedaulatan Lebanon.
Bagi Hezbollah, ofensif yang dilancarkan oleh militer Israel tidak akan melemahkan posisi mereka.
Baca Juga: Berapa Tarif yang Dikenakan Iran untuk Lewati Selat Hormuz?
Sebaliknya, kelompok Syiah pro-Iran ini menyatakan bahwa tindakan Israel hanya akan memperkuat tekad untuk melawan dan menghadapi "musuh".
Ketegangan ini menunjukkan kesepakatan antara Washington dan Teheran mungkin tidak cukup kuat untuk membendung konflik, jika aktor-aktor regional lainnya seperti Israel dan Hezbollah tetap berada dalam lingkaran kekerasan tanpa henti.
Berita Terkait
-
Berapa Tarif yang Dikenakan Iran untuk Lewati Selat Hormuz?
-
Gedung Putih: Proposal Iran Awalnya Dibuang ke Tempat Sampah oleh AS
-
Iran Mengamuk Siap Hukum Israel yang Nekat Bombardir Lebanon Saat Gencatan Senjata
-
Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut
-
Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Pemerintah Godok Skema untuk Atasi Kenaikan Harga Komoditas Global, Termasuk Plastik
-
Gedung Putih: Proposal Iran Awalnya Dibuang ke Tempat Sampah oleh AS
-
Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?
-
Iran Mengamuk Siap Hukum Israel yang Nekat Bombardir Lebanon Saat Gencatan Senjata
-
Sidak BGN di Cimahi: Ada Dapur MBG yang Beroperasi Tanpa Pengawas Gizi
-
Misi Artemis II Hadapi Ujian Mematikan: Detik-Detik Menembus 'Neraka' Atmosfer Bumi
-
CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua
-
Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut
-
Sadis! Dokter di Hawaii Dorong Istri dari Tebing, Kesaksian Anak Jadi Kunci
-
Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?