-
Harga BBM Jerman mencetak rekor tertinggi akibat konflik geopolitik yang memicu krisis energi global.
-
Kasus pencurian bahan bakar di Jerman meningkat tiga kali lipat dengan kerugian miliaran rupiah.
-
Kebijakan pembatasan perubahan harga harian belum efektif menurunkan beban biaya bahan bakar masyarakat Jerman.
Suara.com - Kondisi keamanan di wilayah Jerman kini berada dalam tekanan serius akibat maraknya aksi kriminalitas baru.
Para penegak hukum setempat melaporkan adanya lonjakan signifikan pada kasus pencurian bahan bakar di berbagai daerah.
Situasi ini muncul berbarengan dengan melambungnya harga komoditas energi yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah.
Dikutip dari Sputnik, media lokal pada Rabu (8/4) menyebutkan bahwa tren negatif ini mulai meresahkan masyarakat dan pemilik usaha.
Banyak pihak mengaitkan fenomena ini langsung dengan beban biaya hidup yang semakin mencekik di sektor transportasi.
Berdasarkan data terbaru dari klub otomotif ADAC, harga solar di negara tersebut telah menyentuh angka fantastis.
Rata-rata nasional untuk satu liter solar kini berada di angka 2,44 euro atau setara Rp48 ribu.
Angka tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah yang pernah tercatat secara resmi di wilayah Jerman.
Tidak hanya solar, jenis bahan bakar bensin Super E10 juga mengalami kenaikan harga yang sangat tajam.
Baca Juga: Mengapa Hidupkan Lagi Insentif EV Bisa Redam Krisis Energi Akibat Konflik Timteng?
Harga bensin tersebut kini bertengger di angka 2,19 euro atau sekitar Rp43 ribu per liter tahun ini.
Laporan dari Kantor Berita DPA menyoroti titik panas terjadinya tindak pidana pencurian bahan bakar tersebut.
Negara bagian Saxony-Anhalt di wilayah timur menjadi area dengan tingkat laporan kehilangan BBM paling tinggi.
Kantor Polisi Kriminal Saxony-Anhalt mencatat adanya 95 kasus kejahatan terkait energi yang terjadi sepanjang bulan Maret.
Angka ini menunjukkan lonjakan tiga kali lipat jika dibandingkan dengan total 30 kasus pada Februari.
Polisi terus melakukan pemantauan ketat di area-area yang dianggap rawan menjadi sasaran para pelaku pencurian.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Negosiator Iran Masih Misterius! Siapa Sosok di Balik Perundingan Panas dengan AS?
-
Pemerintah Genjot Perbaikan Transportasi Publik, Dorong Warga-Pejabat Beralih dari Kendaraan Pribadi
-
Siapa Mohammed Wishah? Wartawan Dirudal Israel saat Liputan di Gaza
-
RI Respons Temuan Awal PBB Soal Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon: Segera Tuntaskan Investigasi!
-
April 2026, Prabowo Targetkan Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 PSEL
-
Pemerintah Godok Skema untuk Atasi Kenaikan Harga Komoditas Global, Termasuk Plastik
-
AS - Israel Khianati Perjanjian dengan Bom Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
-
Gedung Putih: Proposal Iran Awalnya Dibuang ke Tempat Sampah oleh AS
-
Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?
-
Iran Mengamuk Siap Hukum Israel yang Nekat Bombardir Lebanon Saat Gencatan Senjata